
Setelah makan maalam, Arga bermain dulu dengan si kecil. Duduk di atas karpet bulu sambil bercanda dengan Elmira, menggelitiknya dan menciuminya. Arga gemas memiliki bocah cantik yang mirip dengannya. “Elmira?”
“Iya, Papa?”
Matanya mengedar dulu, memastikan Aluna tidak ada. Oke, perempuan itu sedang berada di kamar di lantai atas. “Elmira mau punya dedek bayi gak?”
“Mau, Papa. adek ya?”
Arga jadi senang saat sang anak mengangguk antusias. “Nanti minta sama Mama, tapi jangan bilang kata Papa ya.”
“Hah?”
Membisiki sesuatu ke telinga sang anak, dimana Elmira langsung mengulum senyumannya dan mengangguk. Mungkin, seperti inilah cara Arga untuk memulai semuanya dengan Aluna, dia senang membuat Aluna kesal dan marah marah seperti ini.
“Arga, airnya udah siap. Sana mandi dulu.” Aluna turun dari lantai dua.
“Jagain Elmira kalau gitu.”
“Okay.” Ketika keduanya berpapasan, Arga sengaja menyenggol Aluna yang membuatnya hampir oleg hingga tangannya memegang pinggang perempuan itu. “Hati hati kalau jalan.”
“Kamu yang nyenggol gimana sih. lepas lepas, Elmira liatin kita.”
Apalagi anak itu terkekeh melihat tingkah kedua orangtuanya kemudian berkata, “Kayak anuu, Maa. Kayak…. India ya? dulu El sama Mama suka nonton Gopi!”
Aluna segera menepis tangan Arga dan segera melangkah menuju sang anak. Kenapa Arga sekarang lebih menyebalkan? Dia juga seolah sengaja ingin menjahilinya. “Mama El mau berenang di belakang.”
“Gak boleh, itu kolamnya belum dibersihin, belum beres.” Memang ada beberapa bagian rumah yang belum selesai. Kolam renang salah satunya, lagipula dirinya tidak bisa berenang. Tempat itu juga masih tertutup. Aluna lupa membicarakan ini dengan Arga.
Ikut memakan camilan bersama dengan sang anak. “Enak?”
“Suka, El suka di sini, Ma. Tapi lebih suka kalau ada adik, biar El ada temennya.”
“Kan nanti sekolah, jadi punya temen.”
“Ummm, tapi pengen bayi. Pengen dipanggil Kakak.”
Mata Aluna memicing, curiga kalau Arga yang membuat sang anak mengatakan hal ini. tidak mungkin Elmira tiba tiba mengatakan hal ini. “Papa yang bilang sama El ya?”
“Enggak, Papa gak bilang. El yang mau.” Elmira langsung membalikan badan dan menatap lagi televise yang ada di hadapannya. Baru juga Aluna akan menyuapkan makanan, sang anak kembali berbalik dan memanggil, “Mama?”
“Iya, kenapa lagi?” Elmira jadi sedikit manja setelah mengenal Arga. Sebenarnya tidak apa, ini kebahagiaan juga untuk Aluna. Hanya saja dia tidak terlalu suka jika anaknya tumbuh dengan manja.
“Elmira gak mau bobo sama Mama, mau bobo sendiri aja ya.”
Kini Aluna yakin, kalau Elmira pasti disuruh oleh Arga.
***
Saat Elmira sudah tidur, Aluna langsung menyelimuti sang anak. Dia kecup kening sang anak dan keluar dari kamar. Arga terlihat sibuk bekerja di kamar, Aluna jadi tidak mau mengganggu dan diam saja di ambang pintu.
Sadar seseorang menatapnya, Arga berbalik dan membuat Aluna kaget. “Kenapa?”
“Hah? Kenapa apanya?” tanya Arga. “Kamu kenapa di sana? masuk. Mau tidur? kalau iya, aku mau pindah ke kamar lain.”
“Jangan, di sini aja. biar aku yang tidur di kamar lain.” Heran juga saat Arga tidak melarangnya, biasanya pria itu melarang Aluna berpisah kamar. Jadi merasa memiliki kemenangan, Aluna pergi ke kamar tamu. Sayangnya, pintu itu dikunci. Apa yang terjadi? Mencari di laci biasa, ternyata tidak ada.
__ADS_1
Aluna yakin sekali ini ulah Arga, jadi dia kembali ke kamar. “Kamu kunci kamar tamu?”
“Iya, soalnya aku nyimpen berkas penting di sana.”
“Aku mau tidur di sana.”
“Di sini aja, itu berkasnya penting banget.”
“Aku gak bakalan nyuri kok.”
Arga berbalik, “Itu berharga, aku khawatir ada pencuri terus kamu di sana, terus kamu mati. Gimana? Siapa yang repot? Aku lah, mana nantinya kamu pasti gentayangan.”
“Arga jangan aneh aneh deh.”
“Enggak, jangan di sana.”
“Kalau kamar yang lain?”
“Di sini aja, biar aku yang pindah.”
“Jangan!” menaikan nada bicaranya. “Beresin aja di sini. aku mau ngemil dulu.” aluna memilih turun ke dapur. Kasihan juga kalau Arga yang sedang bekerja itu diganggu. Aluna memilih untuk mengemil sambil berjalan ke halaman belakang untuk melihat kolam yang belum diselesaikan.
Banyak hal yang ingin Aluna diskusikan dengan Arga, sayangnya Arga selalu membuatnya kesal. “Penasaran bet, ada hantunya nggak ya?” membuka penutup kolam itu. “Hmmm, bagus. Terus apa yang jadi masalahnya?” pikirannya berkelana, bertanya tanya kenapa ditutup kalau masih bagus. Perbaikan apanya, ini sudah bagus. “Lah, itu daun apaan?” memilih untuk menunduk untuk meraih daun yang berkilauan.
Hingga… BYUUR! Aluna masuk ke dalam sana. sial! Dia tidak bisa berenang. “Tol… hmpphhh! Tolong! Hmpphhh!” tapi suaranya terendam oleh air, dan tidak ada yang menolongnya.
Aluna berfikir, inikah akhir hayatnya. Dia belum melihat Elmira sembuh, dia juga belum mendapatkan maaf dari Arga. Tuhan, tolong dirinya.
BYUUR! Sampai terdengar suara seseorang masuk ke dalam dan meraih tubuhnya. Aluna disered ke samping, Arga segera melakukan napas buatan dan menekan daada sang istri berulang kali. “Bangun! Kita belum bikin anak lagi, Aluna!”
“Hiks…. Arga….” Langsung reflex menangis. Aluna enggan mati sekarang, dia masih ingin menikmati kehidupannya sebagai ibu dari Elmira.
“Gak papa, kamu baik baik aja. aku di sini.”
***
Arga bahkan menggendong Aluna ke kamar mereka, membawa ke kamar mandi. “Mandi dulu ya, airnya kotor.”
Aluna mengangguk, dia didudukan di westafel dan melihat Arga yang sedang mengisi bathub dengan air hangat. “Aku mau mandi sendiri.”
“Iya, nanti panggil aja kalau butuh bantuan ya.”
Arga keluar dari kamar mandi, dia berganti pakaian di walk in closet sambil menarik napasnya dalam. Tidak lagi menyentuh pekerjaan, hanya diam menunggu Aluna. Dia khawatir bukan main.
Karena Aluna lama di kamar mandi, Arga sampai mengetuk pintu. “Al, kamu gak tenggelam lagi di bathub kan?”
Keheningan semakin membuat Arga panic. “Al? jawab dong, kamu gak kenapa napa, kan?”
“Nggak!” sementara di dalam sana, Aluna panic karena tidak ada handuk. Dia lupa karena belum memindahkannya di ruangan laundry.
“Yaudah keluar cepetan. Ini udah malam.”
“Arga….” Panggilnya.
Yang langsung membuat Arga mengelus dada. “Inget, Ga. Gak boleh,” ucapnya pada diri sendiri. suara Aluna benar benar merdu. “Kenapa?”
__ADS_1
“Aku gak bawa handuk.”
“Bentar,” ucap Arga segera membawakan handuk. Mengetuk pintu membiarkan Aluna hanya menyembulkan tangannya saja. “Ini.”
“Makasih.” Aluna mengutuk dirinya sendiri. kenapa tidak minta pakaian saja? kan dirinya jadi dililit handuk sekarang. “Arga, minggir dulu. aku mau pake baju. Keluar kamar dulu.”
“Aku gak akan ngintip, keluar aja. khawatir kamu kenapa napa.”
“Nggak ada, sana keluar dulu!”
“oke oke!” Terpaksa Arga melakukannya. Namun, dia tidak menutup pintu secara rapat supaya bisa mengintip sedikit. saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Arga segera berpaling. “Gak boleh kayak gitu, dosa kamu.”
Memilih ke bawah dan membawakan teh hangat untuk sang istri. Bisa gawat kalau Aluna sakit atau mati, nanti siapa yang akan menjaga Elmira.
“Aluna?” panggil Arga dari luar. Takut sang istri masih sedang berpakaian.
“Aku udah dibaju. Kamu masuk aja.” mata Aluna merah di sana, dia sepertinya masih syok.
“Ini minum dulu.”
“Makasih.” Menerimanya dan meminumnya. “Makasih udah selametin aku tadi.”
“Hmmm. Ayok istirahat. Atau mau gimana dulu?”
Aluna menggeleng, dia berbaring di sisi ranjangnya dan terlelap dengan cepat. Rasanya lelah, kenyang juga karena minum air. Dan itu adalah tidur paling pulas yang dilakukan oleh Aluna. Karena begitu terbangun, Aluna kaget melihat jam sudah menunjukan pukul delapan. Dia segera melompat dari ranjang. Pasti Arga akan marah, anaknya juga pasti sudah bangun.
Tapi begitu keluar dari kamar, Aluna terdiam sejenak saat melihat keramaian di halaman belakang. Ada apa? Bergegas turun ke sana untuk melihat.
“Mama!” teriak Elmira yang duduk di pangkuan Arga yang menonton sesuatu di belakang sana. “Liat! Lagi ditimbun pake tanah.”
“Loh? Kok kolam renangnya ditimbun?”
“Iya, males bersihinnya. Soalnya pasti aku yang harus kerja. Kalau El mau renang, nanti kita ke kolam renang aja, gak harus di sini.”
Saat mendengar suara dari arah belakang, Aluna menoleh, kaget lagi mendapati orang orang yang membawa keluar ranjang. “Itu mau apa?”
“Oh, mereka bawa ranjang.”
“Iya kenapa?”
“Kata orang, kalau ranjang gak ditempatin lama bisa jadi pembawa sial. Makannya aku keluarin kecuali kamar kita sama Elmira.”
“Kalau ada yang nginep gimana?” Aluna tidak habis pikir.
“Kan ada hotel, biarin tidur di sana aja.”
Sampai Aluna sadar. “Kamu gak kantor?”
“Nggak, soalnya nanti malem kita mau makan malam sama partner bisnis aku. Kamu ikut ya.”
“Jalan jalan, Pa?”
“Iya dong, Cantik. Kita jalan jalan ya.”
***
__ADS_1