
"Akan saya kirimkan hasilnya besok sore ya, Tuan, " Begitu ucap sang photograper sebelum mereka pulang.
Aluna menatap sang suami, tangannya terulur menarik ujung pakaian yang dikenakan Arga. "Gaun aku gak dikembaliin?"
"Nggak, itu emang buat kamu. Buat nanti kalau keadaan udah oke. Kita resepsian."
Kaget juga dengan fakta itu, tapi Arga mengatakannya dengan datar dan melangkah masuk ke dalam rumah setelah semua orang pergi dan semuanya sudah beres.
"Anak Papa dah tidur aja ini." Arga mengecup pipi sang anak dan berbaring di sampingnya. Anak itu terlalu asyik menonton TV sampai tertidur seperti ini.
"Nanti jadi keluar?"
"Jadi dong. Kita nanti pergi pasar malam. Mau?"
"Um, mau aja sih." Aluna mengangguk tidak masalah. "Arga, itu serius baju pengantin nya gak di bawa?"
"Iya, buat nanti kita resepsian." Memandang Aluna yang duduk di sofa. "Kalau emang ruang kita penuh, ke kamar yang lain aja. Simpen di sana."
"Emang kamu mau resepsian?"
"Emang kamu gak mau?" Arga langsung mendudukan dirinya. Pandangannya tidak lepas dari sang istri. "Kan biar undang banyak orang. Biar mereka tau kalau kamu itu istrinya aku. Kamu gak mau?"
"Enggak sih. Cuma…"
"Kita gak akan lakuin pesta sebelum Elmira dioperasi kok. Dia bakalan sembuh dulu. Jangan khawatir."
Dengan jaminan seperti itu, setidaknya Aluna lebih tenang sekarang. Dia mengangguk setuju akhirnya. "Aku mau mandi dulu. Gerah."
Saat ditinggalkan, Arga malah terlelap di samping sang anak. Aluna yang selesai mandi melihat keduanya yang begitu mirip, menggemaskan hingga matanya tidak bisa berpaling.
__ADS_1
Kali ini, Arga menepati janjinya akan mengajak mereka jalan jalan. Bahkan mereka juga makan malam di luar. Bukan lagi di restaurant yang mewah, Arga akan mengajak mereka ke pasar malam dimana ada banyak sekali permainan, juga sreet food.
"Mau Papa gendong?"
"Nggak ah. Mau jalan aja." Anak itu terlihat antusias.
Memang benar, uang membuktikan segalanya. Dulu saat Aluna belum menikah dengan Arga, mereka bilang Elmira tidak akan bisa sembuh dan sulit keluar dari rumah sakit. Tapi lihatlah dia sekarang, bisa seenaknya jalan jalan tanpa memikirkan apapun. Karena Aluna yakin sekarang kakek dan neneknya sedang berjuang untuk Elmira.
"Mam dulu ya. El mau makan apa?"
"Mama mau apa?" Mengabaikan Arga dan malah bertanya pada sang mama.
"Terserah, kamu mau makan sama apa?" Pertanyaan berputar pada Arga.
Mereka memang ada di tempat yang banyak sekali stand makanan, jadi sibuk harus makan malam apa.
***
"Mau, tapi sama Mama, sama Papa. Boleh?"
Arga menatap sang istri mencari jawaban. Aluna mengangguk, memangnya apa yang tidak untuk Elmira. Mumpung masih sehat.
Karena makan menggunakan tangan, Aluna melihat Arga terlihat kesulitan saat menarik daging bebek di sana. "Sini biar aku bantu." Terbiasa dengan sendok, makannya seperti ini.
"Makasih."
Aluna menghargai hal hal kecil yang dilakukan Arga, pria itu benar benar berubah. Ketika mereka selesai makan dan kembali ke jalan penuh kerumuman untuk menuju biang lala, Aluna beberapa kali tersenggol hingga dirinya hampir jatuh.
Sampai tangannya tiba tiba digenggam. "Nanti kamu ilang," Ucap Arga. Bahkan tangannya yang lain kini tengah memangku Elmira.
__ADS_1
Rasanya hangat, tangan itu membuat Aluna tersenyum. Ketiganya naik biang lala, Elmira yang paling antusias.
"Mama liat! Itu cantik banget!" Elmira sibuk di sisinya sendiri, menunjuk apapun yang menurutnya menarik. Bahkan posisinya membelakangi.
"Hati hati jatuh, Nak."
"Papa lihat! Ada boneka cantik di sana!"
Arga ikut menurunkan tatapan. Dan dia dibuat kaget ketika di sana ada sosok yang tidak asing. Itu mantan pacarnya!
"Aluna."
"Hmm?"
"Itu lihat. Dia namanya Teresa, orang yang hampir tunangan sama aku. Tapi keberadaan dia di sini itu bukan karena aku."
Aluna ikut menunduk dan melihat. Ah, sepertinya dia datang dengan beberapa temannya. "Yaudah kalau kamu gak ada urusan sama dia."
"Aku takut kamu salah paham."
Aluna menatap sang anak, sepertinya anak itu sedang asyik dengan dunianya sendiri. "Kamu udah gak sayang sama dia? Kalian cukup lama bareng bareng kan? Aku gak percaya kamu semudah itu move on dari dia."
"Emang gak mudah, dia punya tempat tersendiri di hati aku. Tapi kalau dibandingin sama kamu sama Elmira, aku gak bisa kehilangan kalian. Itu lebih menakutkan." Melihat bagaimana raut wajah Aluna yang tidak yakin, Arga segera menjelaskan lagi. "Nggak kayak yang kamu pikirin. Sampai kapanpun aku gak akan balikan sama dia."
Aluna gemas, kenapa Arga tidak kunjung menyatakan perasaannya seperti yang ada di surat. "Boleh aku tanya hal lain?"
"Iya"
Tatapan mereka bertabrakan. "Kenapa kamu dulu lakuin hal kejam gitu ke aku?"
__ADS_1
Tubuh Arga menegang. Memang sesuatu yang belum tuntas, akan terus dipertanyakan. Salah satunya perihal ini.
***