CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Sakit


__ADS_3

Aluna rasa, dia harus mulai menikmati kehidupannya yang sekarang. Genggaman tangan Elmira dilepaskan tatakala anak itu berlari untuk masuk ke kelas. 


Arga dan Aluna melihat dari kejauhan, bagaimana mereka sama sama merasakan letupan yang membuat perasaan mereka campur aduk. "Aku mau berangkat sekarang ya."


"Hmmmm…"


"Jangan deket deket sama Riga."


"Kenapa tiba tiba ngomongin Riga mulu?"


Arga menggelengkan kepala, berdehem dengan tatapan yang dia alihkan. "Jaga Elmira, kalau ada apa apa telpon aja ya."


"Oke."


Masih kaku, Arga dan Aluna sama sama masih dalam proses penerimaan. Arga yang ragu khawatir Aluna jadi ilfeel dan menatapnya dengan penuh amarah. Juga Aluna yang tidak terbiasa dengan prilaku manis Arga. 


Sepeninggalan Arga, Aluna tetap berada di ruang menunggu sang anak selesai. Tidak ada orangtua lain yang ikut menunggu, mereka mempercayakan pada sang guru. Tapi Aluna tau kalau anaknya berbeda, jadi dia tidak bisa meninggalkannya. 


Berdiam di sana sambil memainkan ponsel. Sampai, "Aluna?" 


Melihat bagaimana kehidupan teman temannya di media sosial, Aluna tersenyum bagaimana mereka lulus dari SMA impian dan menjadi seseorang yang jauh lebih baik. 


Segera menutupnya, melihat mereka hanya bisa membuat Aluna semakin membenci pada Arga. 


"Uhuk! Uhuk!" Aluna terbatuk batuk. Akhir akhir ini kondisinya memang sedang tidak enak badan. 


Ketika ponselnya berbunyi, Aluna mengerutkan keningnya melihat Arga mengirimkan foto berupa gambar foto pernikahan mereka yang sekarang terpasang di ruangan sang suami. 

__ADS_1


Di sisi lain, Arga menggigit jarinya. Dia belum bisa tenang kalau Aluna belum berdamai dengannya. 


"Tuan Arga?"


Arga sampai terkejut mendapati asistennya masuk ke ruangannya. "Ada apa?"


"Barangkali anda ingin melihatnya, mereka sudah memulai pengerjaannya."


"Nanti saja. Aluna belum membalas pesan." Menggigit kukunya karena tidak sabar mendapatkan jawaban dari Aluna. "Dia tidak membalas. Apa yang harus aku lakukan?"


"Maaf, Tuan?"


***


Tunggu, Aluna melihat wanita yang katanya bernama Teresa itu masuk ke dalam rumah Riga. Mereka memiliki hubungan? 


"Gak peduli," Gumamnya. 


"Gak papa."


"Papa kapan ya pulangnya?" Anak ini tidak sabaran mengatakan apa yang dia pelajari hari ini di sekolah. Sejak tadi, Elmira juga terus bercerita pada Aluna tentang bagaimana asyiknya dirinya di sekolah. 


"Nanti sore katanya. Jam biasa aja."


"Abis ini langsung pulang ke rumah? Gak boleh main dulu?"


"Udah, Nak. Kamu jangan kecapean."

__ADS_1


Baru juga Aluna berhenti berucap, Elmira sudah memegang dadanya dengan bernafas pendek pendek. Aluna tau gejala ini, dia langsung menggendong Elmira dan membawanya untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon. "Tenang, tarik napas yang dalam."


Inilah kenapa Aluna tidak mau meninggalkan sang anak, kenapa dia juga ingin segera mendapatkan jantung baru untuk Elmira. Setiap detiknya, Aluna selalu ketakutan. Tidak ada hari yang tenang untuknya. 


"Mama" Elmira merengek sambil merentangkan tangannya. 


Tubuhnya yang kecil memudahkan Aluna menggendong dan membawanya ke rumah dengan cepat. Dia merebahkan sang anak setelah mengganti pakaian dan memberikan obat. Mengusap rambut Elmira sampai anak itu tertidur. 


Ketika sang mertua menelpon, Aluna menghela napas dalam. Ah tepat sekali. "Bun?"


"Aluna. Bunda denger ini hari pertama Elmira sekolah ya?"


"Iya, bun. Fotonya nanti Aluna kirim ya. Dia seneng banget."


"Masa?"


"Heem, cuma tadi pas pulang, dia kambuh lagi. Gimana, Bun? Udah ada donor nya? Apa gimana?"


Ibu Gita terdiam di sana. Helaan napasnya cukup membuat Aluna tau apa yang terjadi. 


"Bunda usahain. Buat sekarang control aja terus ya?"


"Anaknya sekarang pengen sekolah. Aluna gak bisa larang."


"Dia bakalan baik baik aja kok. Kami yang akan jamin."


Beberapa menit Aluna bertukar pikiran dengan sang mertua. Sampai panggilan terpittus, Aluna menunduk menatap jemari tangannya yang sama sekali tidak indah. Di punggung tangannya ada beberapa luka goresan di sana. 

__ADS_1


Sampai tiba tiba darah menetes pada telapak tangan Aluna. Perempuan itu segera menyeka hidungnya. Apa yang terjadi? Kenapa sekarang dia lebih sering mimisan? 


***


__ADS_2