CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
EPILOG


__ADS_3

2 tahun kemudian… … 


Pernikahan yang memang bermula dari keterpaksaan, kecelakaan. Namun setelah menjalaninya, Aluna mendapatkan banyak kejutan di dalamnya. Bukan hanya tentang tanggung jawab saja, Aluna juga mendapatkan cinta dari pria yang tidak pernah dia sangka akan menyimpan perasaan itu. 


Pria yang Aluna cintai itu masih terlelap. Tangannya yang indah terulur mengusap pipi Arga dengan lembut. Afeksi sederhana itu mampu membuat Arga langsung membuka matanya perlahan. "Sayang? Kok udah bangun?" Menarik lagi Aluna ke dalam dekapannya. "Tidur lagi ayok."


"Udah siang. Ayok bangun. Jangan dikebiasain bangunnya siang. Anak anak kamu bentar lagi bangun."


"Kan ada pengasuh. Lagian ini hari minggu. Kita harus tidur lagi. Istirahat bentar kayak gini. Nanti aku naikin gaji pengasuhnya."


Aluna terkekeh mendengarnya. Dia akhirnya balas memeluk sang suami. "Bayi kamu gak bisa dinegoisasi kalau udah kangen Mamanya."


"Makanya sebelum dia bangun, aku dulu yang milikin kamu." Memeluk Aluna dan memejamkan matanya lagi. Dengan wajah yang berada di ceruk leher sang istri, Arga bisa mencium aroma tubuh Aluna yang selalu menjadi candu untuknya. 


Aluna memberikan usapan di rambut sang suami. Jika seperti ini, Arga akan semakin susah bagun. Jadi Aluna kecup kening Arga dan bertanya, "Mau mandi bareng gak, Mas?"


"Mandi bareng?" Wajahnya masih agak malas.


"Iya, sekali dia kali gak papa. Asal jangan didalem keluarnya."


Tahu maksud sang istri, Arga langsung terlihat segar. Dia bahkan menggendong Aluna seketika ke kamar mandi yang mana membuat perempuan itu memekik karenanya. 


"Mas, pelan pelan. Aku punya kamu." 


Panggilan itu berubah seiring berjalannya waktu. Aluna pikir tidak sopan jika dia terus memanggil nama, apalagi Arga memang lebih tua darinya. 

__ADS_1


"Sayang, aku cinta kamu."


Pengungkapan yang selalu Aluna Terima setiap harinya. Bukan hanya perihal ucapan saja, Arga benar benar membuktikan perkatannya itu. Mencintainya, memperlakukannya seperti barang berharga dan selalu mendiskusiskan apapun bersamanya. Memperlihatkan kalau Aluna memang separuh hidupnya, suaranya berarti untuk Arga mengambil keputusan. 


"Mas…  ahhh…  pelan," Ucap Aluna dengan mata yang terpejam erat. 


Arga suka, bagaimana sang istri merintih dalam kuasanya. "Sayang…  sempit…"


"Mama?!" Nah, salah satu suara yang membuat Arga langsung menghentikan gerakannya. 


Aluna sendiri menatap sang suami dengan was was. "Gak papa, pengasuhnya pasti kasih pengertian. Mana mungkin dia gak paham kalau kita ada di sini."


Benar saja, tidak ada suara panggilan Elmira lagi yang membuat Arga kembali menggerakan tubuhnya. "Aduh, Mas. Bentar," Ucap Aluna masih dengan rasa paniknya. 


****


Satu tahun yang lalu Aluna melahirkan bayi laki laki yang tampan. Elmira jelas sangat menyayangi adiknya tersebut. 


Bahkan ketika Arga dan Aluna turun ke lantai satu, dia sudah melihat Elmira yang menemani sang adik berjemur. 


"Kakak udah bangun?"


Sebutan untuk Elmira pun berubah seiring berjalannya waktu. "Papa Mama kenapa gak ada di kamar tadi? Di kamar mandi kok berdua? Emangnya Mama perlu bantuan? Mama kenapa?"


"Tadi Papa benerin kran bocor di kamar mandi. Mama nemenin Papa. Jadi gitu." Arga mengalihkan perhatian. Dia mendekati anak anaknya sementara Aluna pergi ke dapur setelah memberikan kecupan pada kedua anaknya. 

__ADS_1


Melihat bayi mungilnya menggeliat, Arga menggendongnya. "Elio kenapa bobo mulu, Nak?"


"Kan libur, Papa bilang kalau libur gak usah ngapa ngapain selain tidur. Elmira juga belum mandi."


"Tuh Mas, didikan siapa itu," Sindir Aluna pada sang suami. 


Arga hanya terkekeh dan membawa anak anaknya untuk menonton televisi sambil menunggu sarapan. Sudah cukup berjemur hari ini. 


"Hahahahahah!"


Aluna ikut tersenyum melihat bagaimana interaksi ketiganya. Mereka adalah harta Aluna yang paling berharga. Tuhan akhirnya memberikan kebahagiaan untuknya setelah proses yang panjang. Pria yang dia pikir akan menjadi luka untuknya, malah menjadi pelipur lara, sumber cinta untuk Aluna. 


"Hahahahah— Aaaaa! Sayang! Elio kayaknya poop deh. Dia bau."


Aluna tersenyum. Bayinya yang sedang berjemur jarang memakai popok. 


"Ihhhh! Baju Papa kuning!" Elmira menutup hidungnya dan berlari dari sana. 


Meninggalkan Arga yang menatap memelas pada sang istri. 


"Mandi lagi ya, sekalian mandiin Elio."


"Iya, Sayang."


Bukan hanya menjadi sosok suami yang baik, Arga juga menjadi Papa rumah tangga yang bisa diandalkan. 

__ADS_1


***


Tamat. 


__ADS_2