
"Gak usah masak," Ucap Arga ketika dia melangkah menuruni tanggal. Menatap Aluna yang baru saja mematikan kompor dan menatap ke arahnya. "Kita makan di luar aja ayok. Jalan jalan naik mobil."
"Naik mobil?" Manik Elmira terlihat antusias. "Mau mau!" Tangannya bahkan terentang meminta digendong oleh Arga.
Pria itu terkekeh dan memeluk sang anak. "Ayo kamu siap siap."
"Aku udah potong potongin sayuran nya ini."
"Masukin aja ke box. Kan buat besok juga bisa." Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Aluna, maka dia mengikuti keinginan pria itu. Mematikan kompor dan segera bersiap. Tidak tega juga melihat Elmira yang sudah begitu antusias.
Mereka menunggu di dalam mobil, dengan Elmira yang meminta video call dengan Eyangnya. Ibu Gita yang mendapatkan panggilan Video dari sang anak awalnya terlihat malas. Namun begitu wajah Elmira yang tampil, matanya langsung bersinar. "Eyaaang!" Teriaknya seperti itu.
"Cucu eyang mau kemana? Udah cantik gitu."
"Mau jalan jalan sama Papa ya, Pa, ya? Terus kita mau makan di luar juga. Eyang mau ikut?"
"Mau banget. Tapi sayang banget Eyangnya jauh. Nanti kapan kapan Eyang ke sana lagi ya." Melihat interaksi antara Ibunya dan sang anak membuat Arga otomatis tersenyum sendiri. Sampai Elmira merasa pegal dan meminta izin untuk pergi ke belakang, juga mengakhiri pembicaraan dengan sang Eyang.
Ibu Gita ditinggalkan dengan hanya menatap wajah sang anak. Wanita itu menarik napasnya dalam. "Bunda gak mau lakuin video call sama kamu."
"Pindah ke telpon, Bun. Arga mau ngomong." Karena dirasa sang anak sedang sibuk dengan mainan yang dia bawa, jadi Arga memulai pembicaraan tentang permintaannya untuk bantuan dalam memulai bisnis. "Ya gimana bisa memulai kalau emang gak ada modalnya, Bun?"
"Makanya kamu cari cara sendiri biar bisa berdiri lagi. Anggap aja itu hukuman buat kamu. Bayangin gimana dulu Aluna berjuang sendirian waktu kamu hamilinn dia. Udah minta maaf sama dia?"
"Hah?"
"Minta maaf sama dia, Arga. Bunda mau punya cucu lagi. Kamu jangan egois."
"Gak semudah itu, Bun." Menikah dengan sosok yang tidak diduga juga masih mengejutkan Arga, apalagi jika dipinta menghamili nya lagi. "Bun, nanti lagi ya. Bye." Ketika melihat Aluna datang ke arahnya.
"Mama lama. El udah nungguin lama."
"Maaf, kan Mama ganti baju dulu."
Arga menatap lama Aluna yang sekarang tengah memakai sabuk pengaman. Dia menatap pada Arga saat merasa diperhatikan. "Kenapa?"
"Lama."
__ADS_1
"Kan aku siap siap dulu. Dandan dulu biar gak malu maluin kamu kan."
"Tetep aja. Gak ada bedanya."
Aluna mendengus kesal, tidak mau menanggapi perkataan Arga yang nantinya malah membuat dia naik pitam dan mengidap darah tinggi. Sementara Arga sendiri diam diam melirik Aluna, ada perbedaan dalam perempuan itu. Dari mana dirinya belajar berdandan hingga tidak terlihat kampungan seperti ini?
"Yang mana rumah orang yang nabrak kamu itu?"
"Mau apa?"
"Nanya aja. Yang mana?" Tanya Arga.
Aluna menunjuk salah satu rumah yang dilewati. Hanya berjarak empat rumah dengan miliknya dan berada di jajaran yang sama. "Yang itu dia bilang. Tuh masih ada mobil box nya."
Lumayan jauh, mungkin tidak akan mengganggu untuk ke depannya. Arga berharap demikian.
"Papa kita mau kemana? Mamnya dimana?"
"Di depan kok. Gak jauh, El suka pasta gak?"
"Makannya sekarang sama Papa diajak ke sana."
"Aku gak suka pasta," Ucap Aluna tiba tiba.
Arga melirik. "Gak nanya kamu. Pesen aja yang lainnya nanti."
Sebenarnya mencium aroma nya saja sudah membuat Aluna enggan masuk ke dalam. Ada kenangan yang tidak baik dengan makanan itu. Namun melihat Elmira yang terlihat sangat bersemangat dengan menggandeng tangan kedua orangtuanya, jadi Aluna masuk saja ke dalam restaurant itu.
***
"Kenapa sih keliatan gak suka gitu?" Tanya Arga risih sendiri melihat gestur tubuh Aluna yang tampak tidak nyaman.
"Ya emang risih. Aku gak suka sama bau pasta."
"Jangan hilangin kebahagiaan anaknya. Liat dia suka banget di sini."
Mata Aluna beralih pada Elmira yang sedang melangkah ke arahnya. Anak itu didorong oleh Arga untuk meminta tolong pada pelayan karena sebelumnya Elmira sendiri ingin tambahan menu. Karena sukar memanggil, Elmira datang sendiri pada pegawai di sini
__ADS_1
"Udah pesennya?" Tanya Arga kembali membantu sang anak untuk duduk di atas kursi.
"Udah, kata Mbaknya iya."
"Pinter anak Papa."
Benar juga apa kata Arga, dia tidak boleh menghilangkan kebahagiaan sang anak. Jadi Aluna menarik napasnya dalam dan mencoba untuk berbaur dengan aroma ini. memakan menu makan malam yang berbeda dengan anak dan suaminya.
"Suka gak?" Tanya Arga ketika sang anak melakukan suapan pertama.
Elmira diam sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Nggak enak," Ucapnya demikian. "El mau sama sayur oyong aja, Pa. Ada gak?"
Yang berhasil membuat Arga kaget dengan permintaannya itu. Apalagi orang orang di sekitar juga mendengar. "Gak ada sayur oyong, Nak. Yang kaya Mama mau? Onion bread?"
"Nasi aja ada gak?"
"Bentar ya, Papa tanya dulu," Ucap Arga yang kecewa karena sang anak ternyata tidak menyukainya.
Untungnya ada juga nasi di sini. Jadi Arga memesannya, ya meskipun Elmira tetap mengomentari rasa yang asing di lidahnya. Yang diingatkan oleh Aluna kalau sang anak tidak boleh seperti itu.
"Gak papa namanya juga anak kecil. Dia ngomong kan jujur gak suka sama ini."
"Iya, tapikan gak boleh gitu kalau sama makanan." Demi Tuhan, Aluna merasa mual dengan aroma di restaurant ini. Jadi baru beberapa suap memakannya, Aluna langsung berdiri membuat Arga bertanya, "Mau kemana?"
"Ke kamar mandi dulu," Ucapnya meninggalkan tempat tersebut.
Keringat sudah membanjiri tubuhnya, apalagi aroma itu meninggalkan memori yang begitu tajam. Sampai di salah satu bilik kamar mandi, Aluna memeluk dirinya sendiri. "No, kamu gak papa. Kamu di sini sama Arga. Gak akan ada yang jahat lagi sama kamu." Aluna berucap demikian.
Setelah cukup tenang, baru Aluna keluar dari sana. Namun, dirinya berpapasan dengan seorang pelayan yang wajahnya tidak asing. Seseorang itu mirip dengan pria yang pernah memarahinya ketika Aluna bekerja di restaurant barat, dimana karena pria itu adalah pemilik restaurant, dia menyiksa Aluna. Memaksa Aluna menghabiskan semua pasta dengan cara menyuapkannya secara paksa sampai Aluna sesak dan mual mual. Aluna juga mendapatkan tamparan, pukulan waktu itu.
Dan tidak ada yang menolongnya.
"Nona, anda baik baik saja?" Tanya sosok itu begitu mata Aluna berkaca kaca dan tubuhnya mulai merosot sambil bersandar pada dinding. "Nona?"
Lima tahun lebih Aluna hidup sendirian, banyak hal hal mengerikan yang pernah dia rasakan. "Jangan sentuh aku, tolong." Bahkan memeluk dirinya sendiri, menyilangkan tangan di dadaa dan menggelengkan kepalanya panik.
****
__ADS_1