CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Wanita dari masa lalu


__ADS_3

Aneh sekali saat Aluna bangun, dia sudah tidak mendapati keberadaan Arga lagi di sana. Kemana pria ini? Biasanya dia susah bangun. Ketika Aluna mendengar suara tawa dari luar kamar, Aluna menyusuri dan mendapati Elmira bersama dengan Arga yang sedang bercanda bersama. 


Otomatis senyuman Aluna juga terbentuk, dia suka melihat bagaimana interaksi antara Elmira dan Arga. 


"Papa jangan gigit! Papa jangan gigit! Bauuu! Hahaahhaha!"


Seolah merasakan hal yang sama. Dulu, Elmira tidak punya orangtua. Dia besar di panti asuhan. Elmira yang mendapatkan kasih sayang penuh dari orang orang disekitarnya membuat Aluna turut merasakan kebahagiaan itu. 


"Mamaaaa!" Datang pada Aluna yang berdiri di ambang pintu. "Mama dah bangun? Mama juga belum mandi kayak Papa?"


"Mama baru bangun. Mau mandi dulu." Menggendong Elmira dan mengembalikannya untuk duduk di atas ranjang. "Kenapa jam segini udah bangun?"


"Tadi haus, di sini abis. Terus ke kamar Mama panggil Mama, yang keluar Papa."


"Maaf, kayaknya Mama gak denger deh." Aluna melirik Arga diam diam. Tunggu, ada perbedaan dalam diri Arga. Pria itu terlihat dingin, dan kesal? "Kamu ke kantor kan?"


"Iya nanti abis nganterin kalian ke rumah sakit."


"Mama mau mandi dulu ya. Abis itu bikin sarapan. Kalau El mau mandi, nanti kalau matahari udah terbit. Oke?"


Melangkah meninggalkan dua orang itu untuk bercanda lagi. Aluna membesihkan diri dulu sebelum membuat sarapan. 


Melihat makanan yang begitu banyak juga membuat Aluna ingin membuat Elmira merasakan apa yang tidak dia rasakan di masa kecil. Memasak lebih banyak makanan tidak apa kan? 


***


"Kopi aku mana?"


"Tumben mau kopi. Sebentar." Aluna segera menyedihkan nya. "Elmira mana?"


"Lagi mandi, nanti kalau lebih dari 10 menit susulin aja. Anaknya suka banget berendam, nanti masuk angin lama lama."


"Okey." Aluna masih memperhatikan Arga. Ada perbedaan yang begitu jelas dari pria itu yang membuat Aluna penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? "Kamu gak papa kan?"


"Gak papa kok."


"Keliatan ada yang salah. Kenapa?"

__ADS_1


"Aku bilang gak papa, Aluna." Berkata dengan tajam, persis seperti tatapannya. Jika seperti ini, Aluna lebih suka Arga yang selalu membuatnya kesal daripada membuatnya ketakutan. 


Beberapa hari berlalu, Aluna merasakan kalau Arga ternyata tidak semenakutkan yang dia pikirkan. Namun hari ini, semuanya berubah. 


Ketika pergi ke rumah sakit, pria itu juga banyak diam. Arga hanya berbicara dengan Elmira saja. Meskipun perbedaan kentara dirasakan oleh Aluna, tapi tingkah konyol tetap diperlihatkan oleh Arga pada anaknya itu. 


Control ke rumah sakit, memastikan kalau kondisi Jantung Elmira masih aman. "Untuk saat ini masih baik baik saja, tapi kita tidak tau bagaimana kondisi selanjutnya. Pihak rumah sakit sudah berkomunikasi dengan bapak Wardana. Jadi kami juga membantu untuk menemukan pendonor yang tepat."


Kemungkinan kemungkinan buruk itu membuat Aluna dan Arga juga khawatir. Sementara anak yang sedang dibicarakan itu terlihat damai saja dengan permen yang ada di tangannya. 


"El, kalau ada sakit langsung bilang sama Papa ya?" Ucap Arga dengan penuh perhatian


"Iya, Papa."


"Anak pintar." Mengusak rambut Elmira dengan penuh kasih sayang. "Papa mau ke kantor, Elmira sama Mama diturunin di rumah ya? Nanti mau ada baju sekolah El yang dateng. Nanti dicobain oke?"


Mengangguk dengan antusias. Wajahnya memperlihatkan bagaimana Elmira sangat bahagia akan hal ini. 


Ketika sampai di rumah, Elmira langsung keluar lebih dulu setelah mendapatkan ciuman dari sang Papa. 


"Gak papa. Emangnya kenapa? Kamu mau dicium juga?"


"Gak gitu!" Aluna menatap kesal. 


"Sana turun. Elmira butuh pengawasan."


Biasanya mengatakan hal hal seperti ini dengan wajah yang konyol. Namun sekarang, Arga terlihat datar saja. Melihat wajah Aluna juga tidak. 


Jadi, Aluna melangkah keluar dari sana dan menatap sendu pada mobil yang pergi dari halamannya.


"Mama siniiii!"


"Sebentar, Nak."


Mungkin harusnya Aluna tidak berharap banyak pada Arga. "Bisa bisanya aku bayangin Arga berusaha jadi ayah dan suami yang baik. Minta maaf dan semuanya dimulai dari awal." Karena tidak masalah untuk Aluna memulai lagi kalau Arga benar benar membuktikan dirinya berubah, dirinya menyesal. "Orangnya malah berubah jadi dingin, nyeremin." Bahkan mengingatkan Aluna pada sosok Arga yang dulu memperkosaanya. 


***

__ADS_1


Begitu sampai di kantornya, Arga segera pergi ke ruangannya. Kantor tempat Arga bekerja dan Hotel yang akan dia bangun lagi itu bersebrangan. Jadi setiap kali Arga melihat keluar jendela, otaknya terus berputar tentang bagaimana caranya agar dia bisa membangunkan lagi properti yang sudah lama tertidur itu. 


"Tuan, pihak Elf Company memberikan respon yang baik. Mereka meminta bertemu minggu depan."


"Bagus kalau gitu. Untuk sekarang, tolong siapkan bahan untuk bertemu dengan perusahaan China itu."


"Semuanya sudah saya siapkan, Tuan."


"Aku butuh konsentrasi di sini. Bisa tolong pergi lebih dulu ke tempat pertemuan? Mungkin aku akan sedikit terlambat."


Sosok yang menjadi asistennya itu menaikan alisnya. "Maksud anda pergi ke tempat rapat lebih dulu?"


"Ya, ada urusan pribadi. Jadi pergi ke sana lebih dulu."


Karena rapat tersebut dilakukan di salah satu hotel yang cukup jauh dari sini. Bukan dua perusahaan saja, tapi lima sekaligus yang akan ditemui oleh Arga. Jadinya, dengan kepergian pria itu, Arga bisa menelpon sosok yang semalam menghubunginya


Sengaja, kalau sosok itu tetap ada di sini. Maka mungkin orangtuanya akan tau siapa yang Arga temui sekarang. Teresa, kekasihnya yang seharusnya sudah tunangan dengannya. 


"Aku udah di kantor. Segera datang."


Tidak lama kemudian, Arga bisa mendengar suara ketukan pintu. Terbuka dan menampilkan Teresa berdiri di sana dengan tatapan yang terlihat terluka. Matanya berkaca kaca. Dan Arga tidak tahan, dia datang ke arahnya kemudian memeluk sosok itu dengan erat. 


"Kamu jahat… . Hiks… .  Kamu jahat…," Ucapnya seperti itu. 


Membiarkan Teresa menangis sepuasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya membawa sosok itu untuk duduk di sofa yang ada di sana. "Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Arga. 


"Kamu gak bisa ninggalin aku kayak gitu aja, Arga. Kamu udah janji bakalan nikah sama aku. Tapi kenyataannya, kamu sekarang nikah sama wanita lain."


"Kamu tau jelas alasannya kenapa, Teresa."


"Karena aku yang gak bener?" Teresa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Lihat, aku udah putusin semua kontrak demi kamu. Aku udah bayar semua denda supaya bisa sama kamu. Tapi kenyataannya? Kamu malah kasih aku kejutan yang menyesakan kayak gini." Teresa tertawa sendiri. "Karir aku udah hancur demi kamu. Karena aku main hidup sama kamu. Aku sayang sama kamu, Arga."


Yang seketika membuat Arga hanya bisa diam. Ketika dirinya hendak memulai langkah baru bersama dengan Elmira, sosok yang dia sayangi itu datang dan memperlihatkan betapa dirinya dicintai hingga semua pekerjaannya ditinggalkan. 


"Kamu tega? Aku bahkan sekarang gak tau harus tinggal dimana lagi, Arga. Aku sampe ke Indonesia dini hari. Kamu pikir demi siapa? Demi kamu, Arga."


***

__ADS_1


__ADS_2