
Malam ini, Aluna sungguh diajak pergi makan malam diluar bersama dengan Arga. Dia sedikit khawatir, takut mempermalukan sang suami dengan penampilannya yang kampungan. Aluna juga tidak pandai berdandan. Jadi dia harus apa sekarang? Hanya diam dengan gaun yang dirinya pilih. Ini juga referensi dari internet.
Ceklek
Saat pintu terbuka, Aluna menoleh kaget. Arga yang masuk dengan penampilan yang sudah rapi. "Belum siap?"
"Belum. Aku belum dandan."
"Kenapa? Gak bisa dandan?"
Kalimatnya seperti mengejek, tapi nada suaranya melembut. "Gak usah cantik cantik, di sana juga ketemu sama bapak bapak kok."
"Ya seenggaknya aku gak bikin kamu malu lah."
"Iya sih. Ke salon aja. Mau?"
"Bunda udah beliin banyak make up buat aku. Aku mau pake yang ini aja."
"Yaudah. Aku nunggu dibawah sama Elmira. Jangan lama lama."
"Okay." Aluna mencoba berdandan sebisanya. Sayang sekali barang mahal ini jika tidak dipakai. Jadi rambutnya disanggul dengan make up pink tipis. "Udah deh," Ucapnya memilih untuk keluar dari kamar.
Arga yang sedang bercanda dengan Elmira itu menghentikan tawanya saking teresonanya dengan Aluna. Dia terlihat sangat cantik dengan gaunnya yang indah. Dan itu mengingatkan Arga pada pertama kali dia melihat Aluna.
"Mama cantik," Ucap Elmira memeluk kaki sang Mama.
"Makasih yang lebih cantik."
Arga berdehem. "Ayok berangkat."
Di dalam mobil, Arga menyetir di depan dengan sang anak yang memilih di belakang. Jadi Aluna bisa leluasa berbincang dengan Arga. Tidak baik jika dia terus membuat benteng diantara keduanya. "Emang yang lainnya bawa istri?"
"Gak tau, mereka gak tau udah nikah apa belum."
"Terus? Kenapa aku dibawa?"
"Biar kasih tau mereka aja kalau aku udah punya istri. Karena aku ganteng, biasanya bapak bapak yang ketemu sama aku pasti mau jodohin aku sama anaknya."
Aluna sampai menatap tidak percaya. Ini alasannya?
"Emang gak bakalan ganggu?"
"Enggak sih. Lagian nanti pulangnya aku mau ajak jalan jalan bentar. Mumet kan di rumah?"
"Nggak juga sih."
"Belum nyadar aja kamu."
__ADS_1
Sampai di restaurant yang dimaksud, Elmira berjalan diantara kedua orangtuanya. Oh lihatlah ekspresi yang begitu menggemaskan ini, Aluna sampai tidak mau berpaling darinya.
Karena ini restauran China, jadi mereka memiliki ruangan tersendiri. Begitu pintu digeser, dan Aluna melihat ke dalam. "Mas Riga?"
"Loh Aluna?"
"Kalian kenal?" Tanya Arga.
"Ini Om yang nabrak Mama waktu itu! Ya om ya?"
Oh, sungguh tepat sekali. Tidak sia sia Arga membawa sang istri. Dia langsung merangkul Atalia dan membawanya melangkah masuk. "Hallo, saya Arga. Suami dari wanita yang Anda tabrak."
"Hallo, Pak Arga."
***
Aluna di sini hanya sebagai patung, percakapan antara Arga dan Riga itu hanya seputar bisnis. Katanya, ada dua orang pria yang tidak datang, tapi mereka sudah menandatangani kesepakatan dan mau bekerja sama.
"Mama mau ini lagi."
"Shhhhtt.. Jangan berisik."
"Gak papa, Sayang." Arga malah merangkul Aluna. "Adek mau apa? Ini lagi?"
"Iya, Papa."
Aluna hanya terkekeh dengan kaku di sana.
"Mau gak?"
"Gak mau." Menggelengkan kepala.
"Anaknya baru satu, Pak?" Riga ikut masuk ke percakapan. Dia merasa diabaikan di sini.
"Iya baru satu. Kami rencananya mau 12, mau bikin team sepak bola."
"Wah, beruntung sekali. Saya belum punya istri."
"Kasihan ya, semoga cepat punya istri. Supaya matanya gak lihat terus istri orang." Arga mengibaskan tangan di depan wajah Riga yang sedang menatap Aluna.
Aluna dan Riga kaget dengan kalimat Arga yang seperti itu. "Maaf, saya gak bermaksud apa apa kok, Pak."
Aluna juga mencubit pelan paha Arga karena kesal. "Sayang kenapa? Jangan elus elus paha aku dong."
Oh ya ampun! Ada apa dengan pria ini?! Sampai makan malam berakhir, Arga bahkan masih merangkul Aluna yang mana membuat Elmira kini bergeser ke sisi sang istri.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Saya sangan berharap untuk depannya," Ucap Riga.
__ADS_1
"Iya sama sama." Arga melepaskan jabatan tangan dan menggendong Elmira. Dia kecup pipi sang anak. Kemudian bergantian dengan pipi Aluna.
Perempuan itu kaget dan ingin memukul Arga, tapi terhalang lagi karena mereka masih di restaurant. Baru saat di jalan, Aluna protes. "Kamu kenapa sih?"
"Kenapa emangnya?"
Ingin marah, tapi masih ada sang anak di sini.
"El mau pindah ke belakang ah. Mau bobo boboan. Nanti kalau udah nyampe di toko roti bilang ya, Pa."
"Iya, Cantik. Hati hati jalannya."
Saat Elmira berpindah ke belakang, baru Aluna mau bicara. "Kamu tadi kenapa kayak gitu? Aku gak suka disentuh sentuh sama kamu."
Bukannya menjawab, Arga malah mengetatkan rahangnya.
"Arga, aku gak mau kamu sentuh seenaknya. Gak boleh kayak gitu. Aku gak suka."
"Cowok itu suka sama kamu. Dan kamu udah punya suami juga anak. Jadi aku lakuin itu."
"Darimana kamu tau kalau dia suka sama aku? Orang kita baru beberapa kali ketemu."
"Jangan ketemu sama dia lagi. Gak boleh."
"Kamu aneh. Pokoknya kamu gak boleh sentuh aku lagi."
Keterdiaman mendominasi, sampai akhirnya mobil berhenti di toko roti, keduanya menoleh pada Elmira yang ternyata tidur. "Kasian anaknya. Biar aku aja yang keluar." Aluna bergegs membeli beberapa roti yang anaknya suka.
Saat sedang memesan, seseorang menepuk pundaknya. "Aluna?"
"Iya?"
"Whoaa beneran istrinya Arga ya. Aku Verrel, temennya Arga."
"Oh hallo." Aluna ingat kalau pria ini adalah salah satu genk Arga yang menyebalkan.
"Btw gimana perasaannya?"
"Maksudnya?" Aluna risih.
"Pas Arga bilang dia suka sama kamu sejak pandangan pertama. Gimana rasanya?"
"Arga gak bilang gitu." Aluna bingung.
"Oh, anggap kamu ngomong sama tiang. Jangan bilang sama Arga kalau kita ketemu ya." Kemudian bergegas pergi dari sana. Aluna heran, ada apa dengan orang orang hari ini?
***
__ADS_1