CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Penjelasan Arga


__ADS_3

"Aku ceritain nanti di rumah ya." Arga hanya mengatakan demikian. 


Melihat situasi, memang tidak tepat. Ada Elmira yang terus menunjuk nunjuk semua hal yang dia sukai. Apalagi anak itu menempel pada sang suami. 


"Gak papa kan?"


"Gak papa." Karena Aluna ingin lepas dari perasaan menjengkelkan ini. Dia tidak bisa terus berada dalam kubangan ketakutan ini. 


Setelah naik biang lala, Elmira masih ingin jalan jalan. Khawatir sanga anak kelelahan, Arga menggendong sang anak. Sementara tangannya yang lain mencoba meraih genggaman tangan Aluna. "Gak papa kan? Aku takut kamu ilang."


"Gak papa." Aluna membiarkan jemarinya sang sang suami bertaut. 


"Mau ice cream di sana, Pa."


"Adek udah banyak makan ice cream hari ini. Yang lain aja." Arga protes. "Ya?"


"Tapi mau itu." Bibirnya mengerucut. "Atau…  mau yang di mam sama mbak itu?"


Menatap kemana arah tatapan Elmira, Aluna dan Arga kaget. Dia mengarah pada Teresa yang sekarang juga sedang memandang mereka dengan tatapan yang penuh kebencian. 


"Oke, ayok pergi dari sini." Aluna merasakan Arga yang kini merangkuk bahunya dan membawanya pergi. 


"Kenapa kamu gak biarin aku ketemu sama dia?"


"Kalau ketemu juga mau apa? Mau gosip bareng? Malah gak baik buat kesehatan."


"Dia kayaknya masih suka deh sama kamu. Matanya berkaca kaca gitu pas tatap mata kamu." Jujur saja, tatapan cinta dan penuh kebencian itu bisa Aluna rasakan. 


"Ya, gimana lagi. Soalnya aku ganteng gini. Pasti lah dia susah move on."


Seketika wajah Aluna berubah menahan kesal, mengadah menatap Arga yang ternyata tersenyum sombong. 


Membeli makanan yang diinginkan Elmira dulu. "Kamu gak mau?"

__ADS_1


"Nggak, masih kenyang." Aluna lebih tidak sabar mendengar penjelasan Arga. Hingga saat mereka di dalam mobil dan Elmira terlelap di belakang, Aluna kembali bertanya, "boleh dijelasin sekarang?"


"Nggak sekarang, nanti kalau di kamar. Biar lebih nyaman."


Kenapa sekarang Aluna jadi takut kalau Arga akan menjelaskan dengan melakukan hal lain. 


"Maksudnya biar kita ngobrolnya enak loh. Bukan apa apa. Aku gak ada niatan apapun."


***


Jantung Aluna berdetak kencang menungu Arga mengatakan penjelasan. Pria itu sedang di kamar mandi. Jadi saat Arga masuk, tubuh Aluna menegang melihatnya selesai mandi.


"Bentar ya." Berpakaian di walk in closet. Arga terkekeh sendiri dan bergumam, "kayak cewek yang mau diperawanin aja." 


Aluna sudah duduk di atas ranjang dengan kaki bersila, Arga duduk di depan Aluna dan menatap dalam perempuan itu. Sampai Aluna dibuat malu karenanya. 


"Oke, jadi, kamu boleh tanya apapun tentang aku. Mau tanya apa?"


"Kamu bakalan marah gak?"


"Tergantung"


"Katanya udah maafin aku?" Ini yang Arga khawatirkan, luka di masa lalu menjadi permasalahan. 


"Iya tapikan pastinya aku ada rasa kesel sama kamu nantinya. Jadi kalau marah mungkin ada, kalau maafin emang udah." Aluna menaikan nada bicaranya akibat kesal, sungguh dia tidak sabaran mendengar penjelasan Arga. 


"Oke oke. Aku jelasin." 


Tangannya digenggam oleh Arga. Aluna hanya menatap bagaimana Arga mengusap tangannya. Kenapa dia membiarkannya ya? 


"Aku dulu taruhan sama temen aku. Katanya, aku di suruh tidurin kamu. Kalau udah, nanti aku dapet… Lamborghini."


"Yakin?" Kenapa Aluna merasa tidak yakin. "Kamu banyak Lamborghini, kamu punya banyak mobil. Cuma karena itu?"

__ADS_1


"Asli. Nih aku telfon temen aku!" Langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi temannya yang bernama verel. Aluna melihat sang suami menyalakan speaker. "Hallo?"


"Napa? Mau apa?"


"Lu inget gak dulu… gue perkossa Aluna? Karena apa?"


"Hmmm karena taruhan sama tantangan. Kan dulu lu dikasih Lamborghini, terus tantangan karena lu ngelak mulu kalau lu su–" Tut. Arga mematikan panggilan. 


Aluna menyipitkan mata. Dia yakin kata berikutnya adalah tentang perasaan Arga. 


"Tuh udah. Aku gak bohong. Aku minta maaf karena jadiin kamu bahan taruhan." Merem*ss genggaman tangan pada Aluna. "Karena kamu anak beasiswa juga. Mereka nantang nya buat ke anak beasiswa."


"Lamborghini nya sekarang kemana?"


"Ada di rumah. Kamu mau? Nanti aku ajarin nyetir. Mau?"


"Nggak." Aluna menarik napas, masih tidak percaya dirinya dijadikan bahan taruhan. Kenapa mereka jahat sekali? "Kenapa harus aku yang jadi bahan taruhan? Anak beasiswa lain kan banyak. Kenapa harus aku?"


"Karena… . . Itu kamu. Gak ada alasan yang lain. Cuma kebetulan… kita papasan jadi aku lakuin itu ke kamu."


"Kamu jahat banget tau. Sadar gak?" Kecewanya itu sampai membuat sesak. Dijadikan bahan taruhan dan tantangan anak anak orang kaya. Sampai Aluna menderita selama enam tahun ini. 


"Iam sorry."


"Nasi udah jadi bubur emangnya bisa apa?" Diulang lagi pun, pasti Arga melakukannya lagi. 


Setidaknya sekarang Aluna menatap Elmira sebagai pemenang hatinya. "Aku Terima semua penjelasan kamu. Makasih. Mau tidur dulu." Membaringkan tubuh membelakangi Arga. Aluna butuh waktu menerimanya meskipun sudah memaafkan. Kenyataan itu masih membuatnya kecewa. 


"Aku di ruangan kerja kalau kamu butuh aku." Bahkan sekarang Arga terasa hampa dengan tangan Aluna yang terlepas dari genggamannya. 


Membiarkan pria itu pergi, baik Arga maupun Aluna butuh waktu sendirian. 


***

__ADS_1


__ADS_2