CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Masa lalu


__ADS_3

"Hei, Aluna." Arga mengguncang tubuh perempuan itu. Heran melihat apa yang terjadi dengannya. "Tenang, ini aku. Aluna lihat. Hei, kamu gak apa apa. Tenang."


Perlahan, napas Aluna ketika mendengar suara Arga. Air matanya menetes, tatapannya yang buram tergantikan dengan melihat sosok yang tengah menatapnya penuh dengan rasa heran. 


"Bisa liat aku?" Arga masih mencoba menenangkan Aluna. "Tarik napas dalam oke?"


Memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya mengangguk. "Aku gak papa," Ucapnya mencoba berdiri dibantu oleh Arga. 


Pria itu menyusul Aluna ketika merasa kalau istrinya terlalu lama. "Kenapa bisa kayak gini?"


"Gak papa. Ayok, El mungkin nunggu kita." Aluna malah meninggalkan pria itu lebih dulu. Membuat Arga mengerutkan keningnya dan menatap pada pelayan yang sedari tadi ada di sana. Bertanya tentang apa yang terjadi. 


Namun bukan jawaban yang memuaskan yang diberikan oleh pelayan tersebut karena dia juga tidak mengetahui apa apa. Ketika kembali ke meja dimana sang anak berada, Aluna terlihat sedang membantu Elmira untuk makan dengan perlahan. "Jangan belepotan gitu makannya. Hati hati."


Sampai tiba tiba Elmira memegang dadaanya dan berhenti mengunyah. 


"Kenapa?" Tanya Aluna panik. 


"Sakit. Mau pulang."


Menatap Arga meminta persetujuan. Tanpa berkata apapun lagi, Arga menggendong sang anak kemudian membawanya keluar dari sana dengan Aluna yang mengikuti dari belakang. 


Tidak lagi duduk di kursi belakang, Elmira bersama dengan Aluna di kursi depan. Dengan posisi sang anak yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Aluna. "Sesek nggak?"


"Nggak, sakit aja."


"Ke rumah sakit ya?" Tanya Arga yang panik. 


"Gak papa kok. Kalau kayak gini udah biasa. Kan dokternya dulu jelasin." Sebelum Arga berspekulasi hal hal yang aneh, Aluna segera berucap, "Soalnya Elmira gak terlalu suka sama aroma rumah sakit. Mending diajak istirahat aja di rumah."


"Oh oke." Menatap sang anak khawatir. Tangannya terulur mengusap surai itu. "Kalau kerasa apa apa, bilang sama Papa ya. Kalau sakitnya gak bisa ditahan harus ke rumah sakit. Biar Elmira cepet sembuh."

__ADS_1


"Sekarang gak terlalu sakit kok, Pah. Mau Bobo aja."


Menuruti apa keinginan sang anak. Jujur Arga agak panik dengan kondisi anaknya. Dia tidak siap mendapatkan hal yang begitu buruk. Apalagi ini baru langkah pertama Arga mengenal sang anak. Ikatan batin diantara mereka terjalin dengan erat. Tidak ada keraguan sama sekali saat orang tuanya mengatakan kalau anak ini adalah darah dagingnya. 


Arga yang menggendong Elmira ke kamarnya, membantunya membuka sepatu dan dibaringkan di atas ranjang. Arga pikir, anak itu akan merengek karena rasa sakitnya. Namun, dia malah terkekeh. 


"Kok ketawa? Kenapa?" Tanya Arga penasaran. 


"Suka ada Mama sama Papa di sini." Berucap seperti itu. "El sayang Mama, sayang Papa juga. Papa jangan pergi lagi ya."


"Nggak, Papa gak akan pergi lagi kok."


"Kata Eyang, Papa pergi karena Papa sekolah. Sekarang udah gak sekolah kan?"


"Enggak. Sekarang kan Papa kerja buat El. Jadi gak akan kemana mana."


Tangannya menggenggam tangan yang lebih kecil dan menciumi nya berulang kali. Seolah mengatakan kalau Arga tidak akan meninggalkannya lagi. 


Menunggu sampai Elmira terlelap di sana. Barulah Arga berucap, "Bunda sama Ayah lagi berusaha buat cari donor jantung yang cocok buat Elmira. Belum bisa dipastikan kapan mereka dapetnya. Sampai saat itu tiba. Tolong jaga Elmira dengan baik."


"Aku gak bakalan ninggalin Elmira lagi, gak akan biarin dia kesakitan lagi." Begitu ucapnya sambil terus mengecupi tangan sang anak. 


Untuk Aluna, cukup baginya melihat Elmira mendapatkan perlindungan dari Arga. 


***


Aluna terdiam sejenak di kamar mandi. Dirinya masih syok dengan ingatan ingatan menyedihkan yang menghampirinya. Dia membuka pakaiannya untuk membersihkan diri. Memastikan kalau tubuhnya hanya miliknya, tidak ada orang lain yang bisa menyentuhnya lagi. 


Ketika Aluna belum memakai apapun, dia menatap pantulan dirinya dalam cermin. Dirinya terlihat menyedihkan dengan beberapa bekas luka yang ada di tubuhnya. Apalagi punggungnya, banyak sekali bekas yang menjijikan di sana. 


"Gak papa, gak akan ada yang bisa lakuin hal buruk lagi ke kamu." Begitu Aluna berucap pada dirinya sendiri. 

__ADS_1


Kejadian yang dia lewati di masa lalu menjadi alasan untuk Aluna membangun benteng di antara dirinya dan juga Arga. Ketika melihat pria itu sedang memangku laptop di kasur, Aluna menjadi was was. Khawatir pria itu kembali melakukan hal yang buruk padanya.


"Kenapa cuma berdiri aja? Tidur. Besok katanya seragam Elmira datang. Besok juga kita ke rumah sakit buat check up rutin." Berucap tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya


"Aku gak mau tidur di samping kamu."


"Berhenti drama, Aluna. Lagian aku gak akan lakuin hal hal yang aneh sama kamu. Aku gak tertarik sama kamu."


"Dulu kamu gak tertarik sama aku, kenapa lakuin hal itu?"


Arga berhenti mengetik sesuatu di keyboard dan melirik Aluna. "Gak usah ungkit ungkit masa lalu. Yang terpenting sekarang aku udah tanggung jawab kan?"


"Kamu belum minta maaf sama aku." Aluna masih mengharapkan kalimat itu dari Arga. Namun bukannya minta maaf, pria itu malah menyimpan laptopnya di nakas dan beranjak dari ranjang. Pria itu melangkah menuju mendekati pintu dan menguncinya dari dakam


"Mau apain kamu?"


"Biar kamu istirahat. Stop mulai pertengkaran. Kalau kita tidurnya pisah, nanti Bunda bakalan curiga dan aku gak bakalan bisa majuin bisnis karena kepercayaan mereka yang turun." Arga melangkah ke kamar mandi dengan santainya. "Tidur aja. Lagian kamu bukan tipe aku. Tolong diingat."


Meninggalkan Aluna yang berdecak kesal karenanya. Perempuan itu menghembuskan napasnya kasar dan naik ke atas ranjang. Bahkan dia berbaring di bagian ujung dengan guling yang berjajar di tengah karena tidak mau Arga menyentuhnya. 


Lama juga Arga di kamar mandi, tadinya Aluna ingin tetap terjaga dan memastikan pria itu tidak menyentuh dirinya sama sekali. Namun rasa ngantuk menguasai, yang pada akhirnya membuat Aluna memejamkan matanya secara perlahan dan masuk ke alam mimpi. 


Arga yang baru beres membersihkan badan itu keluar. Dan mendapati Aluna yang sudah terlelap.


Mendekati perempuan itu dan memandangnya lama. Ketika tangannya terulur hendak mengusap rambut Aluna, ponselnya bergetar. Arga langsung mengambilnya dan menatap siapa yang mengubungi nya.


Itu nomor asing. 


"Hallo?" Arga mengangkatnya. 


"Arga, ini aku Teresa."

__ADS_1


Yang mana membuat Arga terdiam sejenak. 


***


__ADS_2