CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Pilihan


__ADS_3

Aluna senang bukan main saat dia mendapatkan paket berisi pakaian sekolah Elmira. Apalagi sang anak terlihat begitu bahagia melihatnya. Mencobanya dan memutar tubuhnya dengan senyuman polosnya. "Mama, kirim ke Papa fotonya. Boleh?"


Aluna mengangguk. Kenapa tidak? Dia memotret nya dan mengirimkannya pada Arga. Sayangnya, pria itu tidak membalas sama sekali. "Papanya lagi kerja, Sayang. Gak dibales."


"Gak papa. Nanti Papa pulang jam berapa ya?"


"Jam biasanya. Mau jalan jalan ke depan gak? Ke taman?"


"Mau!" Anak itu terlihat antusias. "Tapi Mama hati hati ya jalannya. Biar gak keserempet lagi."


Aluna sampai tertawa mendengar hal itu dari Elmira. Bukan hanya untuk mengasuh samg anak, Aluna juga ingin menenangkan pikirannya. Khawatir sesuatu terjadi dengan pekerjaan Arga, Aluna tau kalau Arga sedang merintis usaha dari awal, perubahaan pria itu pasti karena tertekan. 


"Mama mau main perosotan. Boleh?"


"Boleh. Mama liatin dari sini ya." Aluna duduk di bangku panjang sendirian. Ini siang hari, tapi cuacanya mendung jadi tidak akan kepanasan. 


Senyuman Aluna mengembang, dia mengarahkan kameranya pada Elmira untuk mengabadikan moment ini. Sampai…  "ekhem!"


Aluna kaget bukan main dan menoleh mendapati keberadaan pria yang tidak asing. "Mas Riga?"


"Ngagetin ya?"


"Enggak, Mas."


"Boleh ikut duduk?"


"Silahkan." Aluna tetap menjaga jarak meskipun dia tau Riga tidak berniat yang aneh aneh. Hanya saja dia ingat pesan Arga. "Ngasih juga, Mas?"


"Enggak, tadi abis jalan ke mini market di sana. Kalau naik mobil suka trauma, inget nabrak kamu."


"Ya ampun, Mas. Nyampe segitunya?"


"Sebenarnya lagi masa penyesuaian di sini sih."


Aluna hanya mengangguk, dirinya juga sedang dalam masa penyesuaian. 


"Kamu udah lama di sini?"


"Baru kok, Mas. Baru satu minggu yang lalu deh. Suami pindah kerja ke sini soalnya." 


"Saya bukan pengangguran kok, saya seorang yang kerjanya di rumah. Kalau sekalinya keluar, suka lama. Saya juga ke Bandung niatnya buat kerja, kalau proyeknya beres nanti langsung balik lagi."

__ADS_1


"Asli mana, Mas?"


"Surabaya." Pria itu mengeluarkan barang belanjaannya, dan memberikannya pada Aluna satu. Itu sebuah keripik kentang. "Gak ada niatan apa apa kok. Cuma saya masih gak enakan aja atas apa yang terjadi sebelumnya."


Berhasil membuat Aluna tertawa dan menerimanya. "Makasih, Mas. Lagian saya udah santai kali. Udah mau sembuh."


"Tetep aja saya ngerasa bersalah." Kemudian tatapannya jatuh pada Elmira. "Anak kamu lucu. Saya juga harus minta ampun sama dia. Dia masih kesel kan sama saya?"


Benar saja, karena saat Elmira melihat sosok yang bersama dengan Mamanya, dia segera berlari mendekat. "Mamaaa!" Teriaknya dengan tangan yang merentang dan memeluk Aluna, sementara matanya yang lain menatap tajam sosok yang ada di sampingnya. 


"Hai anak cantik, Om beli permen nih. Mau gak? Enak loh."


"Jangan gitu, Nak. Om nya kan baik, gak niat jahat sama kita."


"Tapi Om yang tabrak Mama."


"Iya tapi Mama udah sembuh." Matanya menatap Elmira. 


"Gak papa, jangan dipaksa, Aluna. Mungkin dia emang gak nyaman sama saya." Riga mencoba mengambil jalan tengah. 


Namun tanpa diduga, tangan Elmira terulur dan menerima permen tersebut. "Makasih, Om."


***


"Tapi kamu janjiin aku kebahagiaan. Terus sekarang kamu ninggalin aku gitu aja? Kita mau tunangan bulan depan, Arga! Harusnya kita tunangan!" Teresa menangis kuat. "Iya aku salah karena pernah main sama cowok lain, aku juga salah karena aku udah jarang hubungin kamu. Tapi pliss, kamu bilang kamu udah maafin aku."


"Ya, aku maafin kamu. Tapi sebulan sebelum pertunangan kita, kamu bahkan ngilang gitu aja. Please, ini keputusan aku, Teresa. Aku punya anak dan istri yang harus aku bahagiain."


"Kamu bisa tanggung jawab sama dia tanpa menikahinya. Kenapa harus menikahinya, Arga?"


Arga melepaskan tangan Teresa yang menyentuhnya kemudian dia cium cukup lama. "Maaf."


"Bilang kalau kamu udah gak cinta sama aku. Tatap mata aku dan bilang kalau kamu udah gak cinta sama aku, Arga."


Menatap dalam mata Teresa. Dia ingin mengatakan kalimat itu, tapi tidak semudah itu melakukannya. Perasaan selama mereka bersamanya nyatanya membawa Arga pada kalimat, "Aku cinta sama kamu. Tapi kita gak memungkinkan lagi buat bersama sama, Teresa. Aku minta maaf. Sekali lagi, aku minta maaf."


Tangan wanita itu terulur mengelus tengkuk Arga sebelum ******* bibirnya. Mereka berdua berciuman. Sampai akhirnya Teresa melepaskannya. Dia mengambil tas dan melangkah pergi dari sana meninggalkan Arga sendirian. 


Pria itu dilanda dengan kegelisahan. Namun, dia harus tetap bersama dengan Elmira, bertanggung jawab pada Aluna meskipun pria itu tidak mencintainya. 


Untuk melupakan Teresa, Arga menyibukan dirinya dengan pekerjaan di luar kantor. Dia juga pulang agak terlambat. Sebelum mobilnya memasuki pekarangan rumah, Arga diam sejenak untuk menarik napasnya dalam. Menatap tatapan dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Tidak boleh memperlihatkan ekspresi ini di depan Elmira ataupun Aluna. 

__ADS_1


Karena begitu Arga keluar dari mobil, sang anak membuka pintu dan berteriak, "Papaaaa!" Sambil berlari untuk memeluknya. 


Arga tertawa karenanya. "Udah nyobain baju sekolah baru?"


"Udah, Papa. El suka."


"Udah makan?"


"Nunggu Papa."


Melangkah masuk ke dalam rumah, mata Arga menatap Aluna yang terlihat canggung. Dia sadar, ini karena sikapnya tadi pagi. 


"Belum makan?"


"Belum, anaknya nungguin kamu."


Arga menurunkan Elmira dan menyuruhnya mencuci tangan


"Gak mau mandi dulu?" Tanya Aluna. 


"Gak usah lah, udah ganteng ini. Lagian kasian anaknya udah nunggu dari tadi." Kemudian Arga mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya. Itu setangkai mawar merah. "Nah, buat kamu. Tadi kasian ada nenek tua yang jual. Makannya aku beli. Jangan besar kepala."


Aluna menerimanya. "Makasih."


Arga hanya mengangguk dan melangkah mendekati sang anak dan membantunya mencuci tangan dengan benar. 


Aluna tersenyum samar, setidaknya dia melihat Arga yang kembali seperti biasanya. 


"Mau besok mulai sekolahnya?" Tanya Arga. Dia sendiri yang menjawab. "Jangan lah, minggu depan aja. Lagian kamu belum bener bener membaik kan?"


"El maunya besok, Papa."


"Minggu depan aja. Papa yang anter ya? Kalau besok, Papa gak bisa anter." Menurunkan sang anak sebelum melangkah menuju ke arah kulkas. Arga haus, dia ingin meminum sesuatu yang membuatnya lega.


"Yaudah minggu depan. Tapi Papa anter."


"Siap, Cantik." Matanya beralih pada botol kaca berisi jamu. Wah, mengingatkan Arga pada sang Bunda yang selalu menyediakan ini di rumah. Arga segera menuangkannya ke dalam gelas dan meminumnya. 


Aluna yang sedang menyiapkan air minum itu baru sadar dengan apa yang sedang diminum oleh Arga. 


"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?"

__ADS_1


Aluna menggelengkan kepala. Tidak mungkin Arga jadi subur kan? Dia tidak punya rahim lagipula. Makannya Aluna membiarkannya. 


**


__ADS_2