
Nyatanya, Aluna tidak diajak. Dia malah ditinggal bersama dengan Arga. Kedua orang itu malah membawa Elmira bersama dengan mereka. Katanya ingin menghabiskan quality time bersama dengan sang cucu sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.
Berakhirlah dengan Aluna yang duduk di restaurant tempat mereka makan siang bersama tadi. "Sekarang kita ngapain? Masa diem aja di sini?"
"Terus kamu mau apa?" Tanya Arga dengan santai. Dimana dirinya sendiri sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Nyusulin Elmira."
"Biarin aja, orang bunda sama ayah pengen habisin waktu sama cucunya."
Pipinya mengembung dengan menghela napas dalam. "Tapi kalau Elmira beli sesuatu yang mahal gimana? Kalau dia malah nyusahin orangtua kamu gimana?"
"Biarin aja."
Arga masih tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Berhasil membuat Aluna kesal dan memilih untuk berdiri
"Mau kemana?" Barulah Arga mengalihkan tatapannya.
"Mau ke toilet."
Untuk menjernihkan pikirannya, Aluna perlu sendirian. ke depannya dia akan terus bersama dengan Arga, pasti tidak akan baik jika nantinya mereka terus menerus bertengkar saja.
Namun ketika keluar dari kamar mandi perempuan, tiba tiba tangannya ditarik. Hendak menjerit, tapi sadar itu Arga dan memilih untuk memukul dadanya dengan pelan. "Kenapa mgagetin?!"
Arga terkekeh, lucu melihat Aluna yang marah marah seperti itu.
"Yuk."
"Nyusulin Elmira?"
Arga hanya tersenyum sebagai jawaban. Kedua tangan pria itu masuk ke dalam saku membiarkan Aluna mengikuti dari belakang. Namun, Aluna kaget malah dibawa ke toko baju perempuan dewasa.
"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu untuk anda?"
"Ruang VIP kosong?"
"Apa sebelumnya Tuan sudah melakukan reservasi?"
Arga menggelengkan kepalanya. Sebelum pelayan itu mengatakan hal lain lagi, lebih dulu seorang pria berjas datang. "Tuan harlaputra. Senang bertemu dengan anda lagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Aluna terpekik tatkala pinggangnya ditarik hingga mereka berdiri sejajar. Ingin mengajar, tapi sadar ini tempat umum.
"Istriku membutuhkan pakaian pakaian yang bagus. Bisa membantu?"
__ADS_1
"Dengan senang hati, Tuan. Silahkan ikuti kami ke ruang VIP."
Kembali ditarik lagi oleh Arga menuju ruangan yang lebih baik. Dimana mereka hanya duduk di sana, kemudian beberapa pegawai toko datang membawakan beberapa pakaian yang seukuran dengan tubuh Aluna.
"Bagaimana, Nyonya? Apakah ada yang Anda suka?"
Menatap bagaimana gemilang nya gaun itu, Aluna menggeleng.
"Istri saya seorang ibu rumah tangga. Pilihkan pakaian yang nyaman untuk dipakai di rumah, dan juga terlihat baik jika dibawa keluar."
Biasanya Aluna hanya memakai daster. Kini dirinya diberikan beberapa dress dengan kais yang lembut dan harga yang fantastis.
"Ingin mencobanya, Nyonya?"
"Coba dulu sana." Arga menyuruh. Hingga akhirnya Aluna masuk ke bilik bersama dengan sang pegawai.
"Nah, itu cocok buat di rumah." Berkomentar demikian ketika Aluna memakai dress di bawah lutut tanpa lengan. "Bawa beberapa yang seperti ini. Dan kirim ke alamat ini."
Bahkan Arga yang memilah milah pakaian apa yang akan dipakai oleh Aluna untuk dirumah atau untuk acara diluar nantinya.
Selesai dari toko itu, Arga membawanya ke toko sepatu. Aluna hanya bisa diam kala itu, melihat bagaimana Arga sibuk bicara dan berkomentar.
"Mau kemana lagi?" Tanya Aluna saat tangannya ditarik. Bahkan dirinya tidak sadar disentuh oleh Arga saking lelahnya.
"Perhiasan buat apa lah. Kamu kan uang belum ada, usaha masih belum bisa stabil. Nanti gimana hidupin aku sama Elmira."
Pria itu menyunggingkan senyumannya mendengar kepedulian sang istri. Namun begitu tatapannya beradu dengan Aluna, matanya menatap tajam. "Aku lakuin ini ya biar kamu gak malu maluin aku ya. Jangan kamu pikir aku peduli sama kamu."
"Heh, emangnya siapa yang pikir kamu peduli sama aku? Enggak ya! Aku gak segeer itu!"
Ketika Aluna marah marah dengan bibir mengerucut dan mata menatap tajam, ini menjadi kesukaan Arga membuat sang istri marah.
****
Lelah Aluna mengikuti kemana agenda yang dibuat Arga sendiri. Padahal yang dirinya inginkan hanyalah, "Elmira dimana? Sama Bunda sama ayah juga pada dimana?"
"Biarin aja. Mereka katanya mau bawa Elmira main bentar. Jadi kita pulang duluan."
Jujur saja Aluna merasa khawatir. Dia belum pernah berpisah lama dengan sang anak. Bahkan ketika dulu dirinya bekerja sebagai pekerja cuci piring, Elmira selalu dia gendong di punggung sampai tertidur.
"Jangan khawatir. Orang mereka nenek sama kakeknya. Mereka gak akan pernah berani nyakitin Elmira."
"Bukan karena itu. Cuma kangen aja sama wajah lucu Elmira."
__ADS_1
"Hah? Kangen? Liatin wajah aku aja. Kan aku mirip sama Elmira."
Delikan sinis itu berhasil membuat Arga tertawa. Bagaimana Aluna selalu jijik jika melihatnya dan menjadi hiburan tersendiri bagi Arga.
Ketika sampai di rumah, Aluna kaget melihat ada mobil box besar.
"Pengiriman, Mas?"
"Iya, Pak. Maaf ada keterlambatan sebelumnya."
"Bawa masuk aja ke dalam ya." Tangannya kembali menarik tangan Aluna yang mematung di sana. Demi apapun! Di sana ada tiga mobil box besar.
Sadar tangannya disentuh, Aluna langsung menariknya. "Gak usah pegang pegang!"
"Gak pegang pegang, orang kamu diem aja di sana. Gimana kalau ke geleng truk gede?" berucap dengan santai. "Itu barang barang yang tadi kita beli. Beresin ya."
Aluna kaget ketika melihat banyaknya barang datang. Jadi setelah Arga mengganti baju, dia memarahi pria itu habis habisan karena menyia nyiakan uang dengan begitu mudahnya.
"Yaudah gak papa sih. Kan itu buat kamu juga. Biar kamu gak bikin aku malu. Lagian kamu kan lulusan SMP. Jadinya kalau pendidikan kamu mempermalukan aku, maka penampilan kamu jangan."
Arga sadar betul setelah mengatakan itu, Aluna terlihat sedih. "Aku mau ganti baju dulu. Gak nyaman pake baju ini," Ucapnya demikian.
Kemudian tangannya meraih banyak papper bag untuk dibawa ke kamar. "Makasih ya buat semuanya. Nanti aku pake kok. Yang lainnya nanti aku bawain ke atas, sekarang mau mandi dulu."
Merasa ada yang janggal. Sungguh Arga memilih mendapatkan tatapan sinis daripada sedih dari Aluna. Jadi dia mengambil barang barang itu dan membawanya ke kamar atas.
Membukanya satu persatu dan menatanya di dalam walk in closet untuk mengganti baju Aluna yang sudah jelek.
Sampai Arga membuka sebuah pakaian yang terbuka. Kenapa ini ada di sini? Ternyata di sana ada tulisan, "Hadiah untuk tamu yang hebat, layak mendapatkan penampilan terbaik dari istrinya."
"Terbaik apanya," Ucap Arga dengan kesal. "Ini kebuka banget. Mana boleh Aluna pake yang beginian."
Terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berguman. "Ini kalau dipake, belahannya sampe mana ya?"
Karena penasaran, Arga membuka pakaian bagian atasnya dan memakai dress tersebut. Sesuai dugaannya, belahan dadanya bahkan begitu rendah hingga memperlihatkan dada bidang milik Arga. "Ck! Gak boleh. Mana ada Aluna pake baju beginian."
Saat bersamaan, Aluna yang sudah selesai mandi dan memakai bathrobe itu mendapati Arga yang sedang memegang buah dadanya sendiri. "Kamu… ngapain, Arga?"
Sungguh! Aluna tidak ingin memiliki suami yang tidak normal
"Ini gak seperti yang kamu liat," Ucapnya sambil menyilangkan tangan di dada layaknya perempuan yang sedang diintip.
***
__ADS_1