
Berkat uang yang telah di berikan oleh Ragil, operasi Reihan berjalan dengan lancar. Namun sampai saat ini Reihan belum sadarkan diri dan masih mendapatkan perawatan di ruang ICU.
"Kamu pasti sembuh Mas," ucap Sheila ketika menatap suaminya dari balik kaca dihadapannya , hingga dering ponselnya membuyarkan kesedihannya.
Sheila segera mengambil ponselnya dari dalam tas selempangnya, ternyata sebuah pesan dari Ragil yang meminta Sheila untuk segera datang menemuinya. Mereka sempat bertukar nomer ponsel sebelum Sheila kembali ke rumah sakit di malam itu.
"Mi, ada urusan yang harus Sheila selesaikan," pamit Sheila kepada mertuanya yang langsung di setujui oleh Mayang.
Ternyata pengorbanan Sheila mendapatkan uang untuk biaya operasi Reihan, belum cukup membuat Mayang sadar atas sikapnya selama ini. Setelah kepergian Sheila, Mayang malah meminta Ajeng untuk datang ke rumah sakit karena Mayang ingin ketika Reihan sadar nanti, Ajeng lah orang yang akan di lihat Reihan menemani dan menjaganya selama dia sedang koma.
Di mension Ragil
"Bagaimana operasinya?" ucap Ragil basa-basi.
"Semuanya berjalan lancar Tuan, dokter bilang Mas Reihan juga akan Segera sadar dari komanya" jawab Sheila dengan wajah sumringahnya.
__ADS_1
"Baguslah kalau seperti itu, berarti sekarang Kau sudah siap melakukan apa yang aku inginkan," ucap Ragil sambil menatap tajam kearah Sheila.
"Saya, Siap Tuan," jawab Sheila yang tidak tau apa yang sedang menantinya.
"Layani aku, selayaknya yang dilakukan suami istri di malam pertama mereka," ucap Ragil yang membuat Sheila membulatkan matanya karena tidak menyangka laki-laki yang di anggapnya baik selama ini, akan meminta hal seperti itu darinya.
"Tu-Tuan tidak tidak sedang bercanda kan?" ucap Sheila yang gugup setelah mendengarkan permintaan dari Ragil.
"Kau sudah berjanji," ucap Ragil dengan wajah yang memerah karena dirinya terus dikuasai rasa cemburu yang tidak bisa dia kendalikan hingga meminta hal seperti itu dari Sheila.
"Maafkan aku Mas Reihan, bukan maksudku mengkhianatimu," batin Sheila sambil menangis ketika di tuntun Ragil menuju kamarnya, karena dia tidak mungkin bisa menghindar dari keinginan Ragil itu.
Ragil mulai menyerang bibir ranum wanita yang sangat dia cintai itu, di iringi dengan tangannya yang terus menjelajah di area-area sensitif milik Sheila, sedangkan Sheila hanya bisa pasrah melakukan tugas yang telah di inginkan Ragil itu.
"Maafkan aku Shel, tapi aku sangat mencintaimu," batinnya sambil terus menatap tubuh polos di hadapannya, yang sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.
__ADS_1
Tanpa berpikiran menggunakan alat pengaman karena Ragil pernah mendengar bahwa Sheila mandul, Ragil mulai membenamkan senjata miliknya diantara lubang sempit milik Sheila.
Dengan beberapa kali berganti gaya, Ragil terus menggoyangkan pantatnya di iringi dengan erangan-erangan dari ke dua insan itu yang membuat permainan semakin memanas.
"Ahhh," erang Ragil untuk kesekian kalinya sambil menyemburkan cairan hangat itu ke rahim Sheila tanda dia telah mengakhiri permainannya.
Dengan keringat yang membasahi tubuhnya Ragil kembali mengecup bibir ranum itu, kemudian memeluknya dengan erat hingga membuat keduanya tertidur dengan lelap.
"Jika nanti aku telah dewasa, aku akan menjadi penggantimu," ucap Ragil kecil yang tiba-tiba datang sekilas di mimpi Sheila hingga membuatnya terbangun.
"Kak Ragil," ucap Sheila lirih setelah membuka matanya perlahan.
Untuk sesaat Sheila merasa senang karena Ragil kecil telah datang ke dalam mimpi nya. Tapi bulir-bulir bening itu kembali membasahi pipinya ketika mengingat adegan-adegan semalam dengan orang yang bernama sama.
Dengan tubuh yang terasa remuk, Sheila mulai beranjak perlahan dari ranjang, mengganti dirinya dengan guling untuk di peluk Ragil yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
Dibawah guyuran air shower yang mengalir deras, Sheila membersihkan tubuhnya sambil menangis sejadi-jadinya. Bayang-bayang kejadian semalam terus melintas di dalam benaknya, dia merasa sangat buruk untuk saat ini karena telah mengkhianati suaminya.
...****************...