
Hubungan Sheila dan Ragil semakin hari kian dekat, perhatian dan kesabaran Ragil mampu meluluhkan hati Sheila.
Ragil selalu memanfaatkan status hubungannya dengan Kania untuk datang menemui Sheila, tak jarang juga Ragil sering mengirimkan berbagai macam makanan dan hadiah untuk Sheila melalu jasa ekspedisi dengan berkedok sebagai teman semasa sekolah dulu.
Usia kandungan Sheila saat ini sudah memasuki bulan ketiga yang membuat perutnya sudah mulai terlihat sedikit membuncit.
Dengan di jemput taksi suruhan Ragil, Sheila kembali mendatangi Mansion Ragil untuk kembali melakukan cek rutin kandungannya, yang membuat Ragil yang memilih untuk libur ke kantor karena ingin menghabiskan waktu bersama selingkuhannya itu.
Dengan wajah sumringah Ragil menyambut kedatangan Sheila dengan pelukan hangat yang juga dibalas malu-malu oleh Sheila.
"Aku merindukanmu sayang," bisik Ragil yang kini memanggil Selingkuhannya dengan sebutan itu.
"Papa juga sangat merindukanmu, Nak" ucap Ragil lagi sambil mengelus perut Sheila lembut.
"Kak, kamu sudah sarapan?" ucap Sheila malu-malu, yang kini sudah tidak memanggil Ragil deng sebutan formal lagi.
"Belum, aku menunggumu."
Dengan rasa cinta dan perhatiannya yang begitu besar, Ragil menarik kursi di meja makan dan mempersilahkan pujaan hatinya itu untuk duduk terlebih dahulu. Tak sampai di situ saja Ragil juga menuangkan beberapa menu lauk kedalam piring di hadapan Sheila.
"Sudah Kak, ini terlalu banyak," protes Sheila.
"Kamu memang harus makan yang banyak, agar anak kita sehat," ucap Ragil menjawab protes Sheila.
__ADS_1
"Tapi aku sedang tidak nafsu makan Kak."
"Ada apa? apa mereka telah menyakitimu?" tanya Ragil khawatir.
"Bukan itu Kak, aku menginginkan buah Mangga tapi karena belum musimnya jadi aku tidak bisa memakannya," jelas Sheila.
"Seharusnya kamu bilang kepadaku, aku akan mendapatkannya untukmu," ucap Ragil sambil tersenyum.
"Kakak serius? ini kan bukan musimnya..." ucap Sheila yang terpotong karena Ragil menempelkan jari manisnya di bibirnya yang ranum.
"Sekarang makanlah dulu," ucap Ragil lagi kali ini sambil menyuapi Sheila makan.
"Aku terjebak di dalam permainan ini, aku mulai nyaman dengannya," batin Sheila di sela-sela sarapan ya.
"Tidak boleh seperti ini, aku ini istri Mas Reihan dan aku sangat mencintainya," elak Sheila kemudian.
"Ya sudah, beristirahat dulu sambil menunggu kedatangan dokter," jawab Ragil yang tak ingin memaksa Sheila untuk makan.
Setelah menemani Ragil Sarapan dan selesai mendapatkan pemeriksaan dari dokter, Sheila kemudian menyandarkan punggungnya di sofa empuk yang berada di mansion itu sambil asyik menyaksikan tayangan televisi di hadapannya, hingga tak selang beberapa lama di susul kedatangan Ragil yang membawa sekantong buah mangga yang sedang di inginkan Sheila.
"Mangga," teriak Sheila kegirangan.
"Dari mana kakak mendapatkannya?" ucap Shela kembali dengan tatapan kagum.
__ADS_1
Ragil hanya membalas ucapan Sheila dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya, tentunya tidak akan sulit bagi seorang Ragil untuk mendapatkannya walau dia sedang duduk manis di mansion nya karena semua sudah di urus oleh orang-orang kepercayaannya termasuk mencari mangga itu.
"Kak ini enak sekali," ucap Sheila menikmati buah itu setelah Ragil mengupasnya untuknya.
"Habiskan, aku akan mencarikannya lagi jika kamu masih menginginkannya," ucap Ragil sambil ikut menikmati manisnya mangga di hadapannya.
Tak ada jawaban dari Sheila, dengan lahapnya dia menghabiskan semua mangga itu hingga membuat Ragil tersenyum saat memperhatikannya.
"Kamu terlihat bertambah sangat cantik, Shel," batin Ragil memuji Sheila saat menyaksikan aksi Sheila yang terlihat rakus.
"Kak, jangan menatapku seperti itu," rengek Sheila dengan wajah memerah ketika Ragil kedapatan sedang memperhatikannya.
"Sheila, kamu adalah orang yang selalu hidup di dalam bayangan pikiranku selama ini, aku tak pernah mengira kita akan sedekat ini walaupun aku hanya menjadi yang kedua tapi aku bahagia, Shel," batin Ragil sambil mengusap lembut sisa makanan di bibir ranum Sheila dengan tangannya.
Bak tersihir dengan perhatian wajah tampan di hadapannya, Sheila tidak menolak aksi saling tatap itu yang kemudian berubah menjadi acara ciuman panas diantara keduanya.
Tanpa mengingat Reihan, Sheila telah berhasil di buat bertekuk lutut untuk kedua kalinya oleh Ragil.
"Ahhh...emmttt," erang Sheila ketika Ragil membenamkan senjata miliknya diantara benda berharga miliknya, yang tentunya membuat Ragil semakin bersemangat melakukan aksinya setelah mendengarnya.
"Ahhh...sayang," erang Ragil sesekali di sela-sela permainannya sambil menghujani tubuh polos di hadapannya dengan kecupan-kecupan lembut.
Dengan nafas memburu dan keringat bercucuran, Ragil telah berkali-kali berganti gaya dan posisi sampai dia berhasil menyelesaikan permainannya di siang itu.
__ADS_1
"Terimakasih sayang," ucap pemilik tubuh kekar itu sambil menciumi pucuk rambut Sheila yang tergolek lemah di sofa empuk itu.
...****************...