
Reihan begitu terlihat senang setelah melewati hari pertama nya di kantor dengan baik, selesai makan malam Reihan memilih menghabiskan waktunya di kamar bersama dengan istrinya.
"Aku sangat mengkhawatir keadaanmu di kantor, Mas," ucap Sheila sambil membelai rambut plontos suaminya yang sedang tiduran manja di pangkuannya.
"Kamu tidak perlu khawatir Sayang, Mas kan sudah sehat sekarang," jawab Reihan sambil tersenyum.
"Tapi aku takut Jika Mas akan mengalami pusing mendadak dan diserang nyeri saat berada di kantor," ucap Sheila kembali yang membuat Reihan beranjak bangun dari pangkuannya.
"Sayang, aku akan baik-baik saja, aku akan membuktikannya sekarang juga" ucap Reihan sambil menatap Sheila dengan tatapan penuh arti.
Rasa Rindu telah menyelimuti diri Reihan saat ini, tentunya setelah kecelakaan yang menimpanya dia tidak pernah lagi memberikan nafkah batin kepada Sheila.
Baru saja dia ingin mengecup bibir ranum yang berada hadapannya itu, Sheila malah menghindarinya dengan alasan karena dia sedang hamil muda padahal Sheila trauma dengan sentuhan laki-laki termasuk suaminya sendiri setelah apa yang dilewatinya bersama dengan Ragil.
"Maafkan Ayah ya sayang," ucap Reihan sambil mengelus perut Sheila yang masih rata setelah mengurungkan niatnya.
"Aku yang minta maaf Mas," ucap Sheila dengan suara bergetar menahan rasa trauma yang telah menguasainya saat ini.
"Kita akan melakukannya nanti setelah semuanya aman," ucap Reihan sambil mencium pucuk rambut Sheila dan mengajaknya untuk segera tidur.
...----------------...
Pagi harinya Reihan kembali berangkat ke kantor bersama dengan Ajeng, walau sebenarnya ada rasa cemburu di hati Sheila tapi setidaknya dia merasa tenang jika Reihan ada teman pulang-pergi saat bekerja.
Setelah suaminya berangkat, Sheila kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk pergi ke dokter untuk check up rutin kandungannya tanpa di temani oleh Mayang yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah di pagi itu.
Tanpa menaruh rasa curiga kepada pengemudi taksi yang dia hentikan, Sheila berangkat pergi dengan taksi yang melintas di depan rumahnya.
__ADS_1
"Lho Pak, inikan bukan arah ke rumah sakit?" protes Sheila sambil memperhatikan arah jalan dari balik jendela.
Namun tidak ada jawaban dari si sopir taksi hingga membuat Sheila menjadi panik.
"Pak berhenti saja!" teriak Sheila kemudian namun tetap tidak ada jawaban dari si sopir taksi itu.
Hingga taksi yang membawanya itu berhenti di mansion mewah yang tak asing lagi baginya, mansion yang telah memberikan kenangan buruk untuk dirinya.
"Mansion Tuan Ragil," batin Sheila mulai tidak enak setelah taksi itu berhenti.
"Apa yang dia inginkan dariku?" batin nya lagi sambil keluar dari taksi dan mengikuti sopir taksi tadi masuk kedalam mansion.
"Kerjamu sangat bagus," puji Ragil sambil memberikan segepok uang berwarna merah kepada sopir taksi tadi.
"Terimakasih, Tuan," jawab sopir taksi itu.
"Setelah kejadian malam itu, akhirnya kamu kembali ke mansion ini lagi," ucap Ragil sambil menatap ke arah Sheila.
"Ada yang Tuan inginkan?" ucap Sheila dengan tubuh bergetar.
"Aku sangat menginginkanmu," jawab Ragil singkat yang membuat Sheila membulatkan matanya.
"Bukankah Tuan sudah menjalin hubungan dengan Kania dan tugas saya sudah selesai pada malam itu juga," jawab Sheila memberikan diri.
"Aku tidak peduli dengan siapapun selain dirimu, kau telah membuatku gila, Shel," ucap Ragil lagi sambil mengusap rambutnya kasar.
"Apa maksud Tuan?" ucap Sheila kebingungan.
__ADS_1
"Tinggalkan Reihan Shel, jadilah istriku," ucap Ragil memohon sambil berlutut di hadapan Sheila.
"Cukup Tuan! hentikan semua omong kosong ini!" ucap Sheila membalikkan tubuhnya dan ingin berlalu dari tempat itu.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan Shel, kau sedang mengandung anakku saat ini," ucap Ragil yang membuat langkah Sheila seketika terhenti.
"Apa yang dia katakan barusan? apa aku tidak salah mendengar?" batin Sheila sambil merasakan lemas yang seketika menyerang kakinya.
"Surat dari rumah sakit itu ada bersamaku," ucap Ragil lagi yang semakin memperkuat pernyataan nya.
"Kenapa semua jadi serumit ini," batin Sheila sambil mulai menangis.
"Tolong jangan beritahu Mas Reihan," ucap Sheila lirih setelah menemukan keberadaan surat yang dia cari.
"Untuk apa aku menyembunyikannya? tidak ada untungnya untukku," jawab Ragil yang membuat Sheila semakin menangis.
"Tolong Tuan, aku sangat mencintai Mas Reihan, aku bisa mati jika aku kehilangannya," ucap Sheila yang kini bergantian bersimpuh di kaki Ragil.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya tapi dengan satu syarat yang kamu harus penuhi," ucap Ragil kemudian sambil menahan perih dihatinya setelah mendengar pernyataan Sheila.
"Apapun akan saya lakukan Tuan, tapi tolong rahasiakan semua ini" jawab Sheila yang semakin erat mencengkram kaki Ragil.
Sheila yang tidak bisa berpikir jernih saat itu, menyetujui permintaan Ragil yang mengajaknya untuk berselingkuh.
Dengan mempertimbangkan semua ucapan Sheila, Ragil tidak mau mengambil resiko buruk setelah Reihan mengetahui semuanya hingga membuatnya rela menjadi nomer dua karena setidaknya dia bisa dekat dengan Sheila.
...****************...
__ADS_1