
"Apa yang telah aku lakukan?" batin Sheila dengan tubuh polosnya sambil menatap Ragil yang sedang memeluknya di sofa empuk yang lumayan lebar itu.
"Ada apa?" ucap Ragil sambil menatap pujaan hatinya yang terlihat gelisah itu.
"Aku...." ucap Sheila yang terputus karena menangis sebab ada penyesalan setelah menyelesaikan permainannya bersama Ragil.
"Aku tau Shel, ini berat untuk kamu," batin Ragil tanpa berbicara lagi, lalu memeluk Sheila untuk menenangkannya.
Sheila yang merasa nyaman dalam pelukan Ragil akhirnya membuatnya tenang sampai membuatnya tertidur pulas, dengan rasa kasih sayang Ragil membopong pujaan hatinya itu untuk berpindah ke kamarnya karena Ragil ingin Sheila beristirahat lebih nyaman di sana.
"Kenapa Mami tidak menemani Sheila lagi?" protes Reihan ketika pulang bekerja saat mendapati istrinya belum pulang ke rumah seperti kejadian sebelumnya saat melakukan pemeriksaan kandungan.
"Mami kan repot, Rei," jawab Mayang.
"Kita harus cari kemana? ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap Reihan yang panik sambil menempelkan ponselnya di daun telinganya.
"Aku jadi di marahi Reihan gara-gara kamu Shel, awas saja setelah bayi itu lahir akan ku balas semuanya," batin Mayang kesal.
__ADS_1
"Kania coba kamu hubungi Nak Ragil, mungkin saja Sheila membantunya berbelanja lagi," ucap Mayang kepada Kania yang sedang duduk disebelahnya.
"Males mi, paling cuma dibaca saja," jawab Kania dengan wajah jutek.
"Apa maksud kamu? kalian kan pacaran?" tanya Mayang bingung.
"Kak Ragil itu tidak pernah mau membalas pesan dari Kania, paling kalau dia mau datang ke rumah saja baru mau mengirim pesan kepada Kania," jelas Kania memelas.
"Mungkin karena Nak Ragil itu sibuk, dia kan bos," bela Mayang.
"Sudah-sudah hentikan! kenapa malah jadi bahas masalah yang lain?" ucap Reihan semakin marah yang membuat ibu dan anak itu langsung terdiam.
"Sheila menginap di rumah teman sekolahnya, yang sering mengirimkannya hadiah akhir-akhir ini," ucap Reihan kemudian kepada ibu dan adiknya.
"Biarkan saja Rei, lagian temanya itu kan sangat baik," jawab Mayang walau sebenarnya hatinya dongkol karena Sheila yang dianggap keluyuran dan melampaui batasan.
"Iya Mi, Reihan mandi dulu," ucap Reihan sambil berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
"Baik-baik sayangku, i love you," baca Ragil saat mendapatkan pesan balasan dari Reihan.
Ragil yang di buat cemburu dengan kata-kata itu hanya membubuhkan emoji hati pada pesan balasan yang dia kirimnya kemudian, tentunya hal itu terpaksa dilakukannya karena Ragil tidak ingin Reihan curiga bahwa bukan Sheila yang sedang berbalas pesan dengannya.
Tidak sampai di situ, Ragil dibuat kelabakan setelah kembali membaca pesan balasan dari Reihan yang menyatakan Reihan akan melampiaskan semua rindunya ketika Sheila telah kembali pulang nanti.
"Tidak bisa dibiarkan ini," batin Ragil kesal sambil menggaruk janggutnya meski tidak sedang gatal.
"Aku harus segera pulang," ucap Sheila saat terbangun yang membuyarkan kekesalan Ragil saat itu.
"Tidak," cegah Ragil yang sedang berbaring disampingnya.
"Tapi ini sudah malam kak, apa yang aku katakan kepada mereka nanti?" ucap Sheila panik saat mengetahui jarum jam pendek berhenti di angka delapan.
"Bermalam lah disini, aku sudah mengurus semuanya," ucap Ragil sambil mengelus pipi lembut itu.
Sheila langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah menyetujui ucapan Ragil untuk bermalam di mansion mewah itu.
__ADS_1
...****************...