
Pagi itu Sheila merasa sangat panik ketika tidak mendapati surat yang telah dia lempar semalam di bawah kolong tempat tidurnya.
"Dimana sih?" ucap Sheila sambil membungkukkan badanya mencari-cari keberadaan surat itu.
Rasa takut pun semakin menghantui Sheila yang membuatnya mulai berfikiran jika salah satu anggota keluarga telah menemukan surat itu, disaat semalam dia menemui Ragil dan beberapa kerabat Reihan yang datang untuk menjenguknya.
"Sayang," ucap Reihan yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang membuat Sheila terkaget dan langsung mengalihkan pandangannya dari arah kolong tempat tidur.
"Apa yang sedang kamu cari?" tanya Reihan.
"Mas Reihan masih bersikap baik kepadaku berarti dia tidak menemukan surat itu," batin Sheila mengira-ngira.
"Cuma cari jepit rambut yang jatuh Mas," elak Sheila.
"Kamu pakai yang lain saja, jangan kamu nunduk-nunduk seperti itu lagi," ucap Reihan sambil mengelus perut istrinya.
"Iya, Mas," jawab Sheila sembari menampilkan senyum palsunya di tengah kegelisahannya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi sarapan dulu!" Ajak Reihan kemudian sambil menggandeng tangan Sheila.
Dengan langkah gemetaran Sheila mengekor di belakang suaminya sambil berjalan menatap kearah mertuanya.
"Bagaimana jika Mami yang telah menemukan surat itu?" batin Sheila yang kemudian menundukkan pandangannya.
"Cepatlah Shel, jangan telat sarapan!" ucap Mayang dengan senyum sumringah membuat Sheila merasa sedikit lega.
"Iya, Mi," jawab Sheila yang langsung duduk disamping mertuanya.
"Kalo bukan Mas Reihan dan Mami, apakah Kania yang mengambilnya?" batin Sheila kembali memikirkan keberadaan surat itu.
"Ayo makan yang banyak!" ucap Mayang lagi sambil menaruh beberapa sayuran di piring menantunya, sedangkan Reihan hanya bisa tersenyum senang ketika melihat perhatian ibunya kepada istrinya.
"Kania kemana, Mi?" ucap Sheila di sela-sela sarapannya sambil berusaha terlihat setenang mungkin di depan suami dan ibu mertuanya.
"Kania pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kampus," jelas Mayang.
__ADS_1
"Aku harus memastikan semuanya, apakah memang benar Kania yang telah mengambilnya?" batin Sheila sambil meneruskan sarapan paginya.
...----------------...
Ragil sedang duduk di kursi singgasananya di kantor sambil memutar kursi itu bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Begitu besar kah rasa cintamu padanya? hingga kau rela mengaku mandul demi menjaga perasannya," batin Ragil yang sedang di kuasai api cemburu sambil menatap surat keterangan medis yang sudah lecek itu di atas meja kerjanya.
Singkat cerita semalam Ragil mempergunakan kamar mandi yang berada di kamar Reihan atas persetujuan dari Mayang yang sedang sibuk di dapur, karena hanya ada dua kamar mandi di rumah itu sedangkan kamar mandi yang di belakang sedang digunakan oleh Kania.
Ragil yang memiliki pandangan mata yang sangat jeli, keluar dari kamar itu dengan mengantongi sebuah remasan kertas di dalam kantong jasnya yang berisi tentang keterangan medis Reihan dan Sheila. Tanpa sepengetahuan Sheila yang sedang sibuk bersama Reihan di ruang tamu karena ada kerabat yang sedang datang menjenguknya.
"Yang kau kandung itu ternyata memang benar benihku, Shel," batinnya lagi dengan masih setia duduk di kursi kebesarannya.
Setelah mengetahui semua kenyataan ini, Ragil Semakin berambisi untuk mendapatkan anak itu bahkan siap menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya itu.
...****************...
__ADS_1