
"Kakak kenapa harus melakukan ini semua?" protes Kania marah setelah mendengar kakak iparnya tinggal di rumah pacarnya.
"Kamu jangan seperti ini, kakak butuh tenang saat ini," ucap Ragil sambil mengebrak meja lalu berlalu ke kamarnya.
"Kamu lihat seperti apa kakakmu saat marah, jadi biarkan Sheila di sana, setidaknya calon cucuku akan baik-baik saja," ucap Mayang setelah Reihan pergi.
"Mami ngertiin perasaan Kania donk!" protes Kania kali ini kepada ibunya.
"Mami tau, memang sebenarnya tidak pantas Sheila mengungsi ke mansion Ragil tapi lebih tidak mungkin lagi jika Sheila ngungsi ke luar kota ke rumah orang tuanya, mereka akan berpikir yang macam-macam," jawab Mayang sambil menatap anak perempuannya.
"Cucu terus yang paling penting untuk Mami, Kania sudah tidak penting lagi," ucap Kania marah, kali ini sambil berlalu ke kamarnya.
Saat orang-orang sedang sibuk membicarakan mereka berdua, pasangan yang sedang sama-sama di mabuk asmara itu kembali melakukan penyatuan di malam itu.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ragil membuat Sheila mengerang berkali-kali saat Sheila menikmati permainan ranjang dengan selingkuhannya itu.
"Kak...Ahhhh...." erang Sheila untuk kesekian kalinya yang langsung di balas dengan permainan bibir oleh Ragil.
__ADS_1
Seperti yang mereka lakukan sebelumya, Ragil berkali-kali berganti posisi permainannya hingga dia menyelesaikan permainannya.
"Apakah kau senang?" ucap Ragil sambil mendekap tubuh Sheila yang langsung di balas anggukan kepala dari Sheila.
"Aku tau sekarang Shel, kenapa kamu menolak Reihan," batin Ragil tersenyum dengan penuh kemenangan.
Dengan tubuhnya yang terasa remuk, Sheila membuka matanya perlahan di pagi itu. Dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya, Ragil yang sudah rapi mengenakan baju kantor menghampiri Sheila dengan membawa nampan berisi sarapan.
"Ratuku kau tidur dengan sangat nyenyak," ucap Ragil yang kemudian duduk di ranjang bersama dengan Sheila.
"Ayo makanlah sarapanmu!" titah Ragil kemudian setelah mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Sheila.
"Kau bisa mandi setelah sarapan, kau sudah telat sarapan sayang," ucap Ragil kembali.
"Baiklah," jawab Sheila langsung memulai sarapannya.
Memasuki usia Kandungan yang sudah tiga bulan lebih, Sheila sudah tidak mengalami mual dan muntah lagi seperti di awal-awal kehamilannya. Dengan lahapnya, Sheila menyantap sarapan yang dibawakan Ragil untuknya.
__ADS_1
"Awww" pekik Sheila setelah menghabiskan sarapannya.
"Ada apa Sayang?" tanya Ragil khawatir.
"Bayi di dalam perutku bergerak Kak," ucap Sheila polos karena baru merasakannya hal ini untuk pertama kalinya.
"Mungkin dia sudah tidak sabar ingin main bola dengan Papanya," ucap Ragil sambil tersenyum memegang perut Sheila.
"Aku merasa nyaman bersama dengan Kak Ragil tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan Mas Reihan," batin Sheila yang mulai merasa bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Aku berangkat ke kantor dulu, Reihan akan curiga jika aku tidak datang bekerja," ucap Ragil kemudian sambil menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tapi jangan lupa mengirimiku pesan saat sudah sampai di kantor," ucap Sheila dengan manjanya.
"Tentu Sayang, kamu baik-baik disini," jawab Ragil sambil mencium mesra kening selingkuhannya itu.
"Apa penantianku selama ini mulai terjawab?," batin Ragil terharu sambil beranjak meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Ragil ke kantor Sheila langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan kebimbangan yang terus mengacau pikirannya, Sheila mulai kebingungan antara memilih bersama Reihan atau Ragil.
...****************...