
"Ayah berangkat bekerja ya sayang," pamit Reihan sambil berjongkok menciumi perut Sheila yang sedang berdiri di teras rumah.
Reihan mulai kembali berkerja di kantor Ragil lagi setelah masa pemulihan panjang yang telah dia jalani. Dengan setelan kemeja dan celana panjang berwarna senada, Reihan begitu terlihat sumringah di pagi itu.
"Kamu hati-hati ya, Mas," ucap Sheila sambil membenarkan dasi suaminya.
Ajeng yang tak sengaja melihat dari sebrang rumahnya merasa sangat kepanasan melihat adegan itu di depan matanya.
"Rei, kita berangkat bareng yuk," ajak Ajeng yang datang mendekati sepasang suami dan istri itu.
"Aku berangkat menunggu kedatangan taksi online jeng karena aku belum berani kembali mengemudi motor lagi," jawab Reihan.
"Sekalian ya, kita kan satu arah," bujuk Ajeng yang membuat Reihan melirik kearah istrinya meminta persetujuan.
"Kamu bareng sama Ajeng saja Mas, aku juga akan lebih merasa tenang soalnya Mas kan juga masih dalam tahap pemulihan," jawab Sheila.
"Bagus sekali kalau kamu merasa tenang jika suamimu satu taksi dengan perempuan yang menyukainya," batin Ajeng sambil tersenyum jahat.
"Mas berangkat ya?" ucap Reihan kemudian sambil mencium kening istrinya saat taksi online yang dia pesan sudah datang menghampirinya.
Sheila menatap kepergian taksi yang membawa suaminya sampai menghilang dari pandangan matanya, ada rasa khawatir dalam benak Sheila karena hari ini adalah hari pertama suaminya bekerja setelah kecelakaan hebat yang menimpanya.
"Aku harus segera menemui Kania, mumpung Mami masih sibuk menjemur baju dihalaman belakang" batin Sheila sambil bergegas masuk kedalam rumah.
"Semalam kamu pulang jam berapa?" ucap Sheila yang menghampiri iparnya yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Aku pulang malam kak," jelas Kania sambil menikmati sarapannya.
"Dari jawaban Kania, sepertinya bukan dia yang mengambil surat itu," batin Sheila yang mulai bingung karena semua anggota keluarga masih bersikap baik kepadanya.
"Ada apa kak?" tanya Kania yang melihat kakak iparnya yang sedang melamun.
"Tidak ada Apa-apa kok, apakah kemarin lusa kamu masuk ke dalam kamar kakak?" tanya Sheila kembali.
"Tidak kak, memangnya ada barang kakak yang hilang?" jawab Kania bingung.
"Tidak kok, kakak permisi dulu ya," ucap Sheila sembari beranjak menuju ke kamarnya.
"Kalau bukan mereka, lalu siapa yang telah mengambilnya?" batin Sheila semakin di buat kebingungan, memikirkan segala kemungkinan yang membuat surat itu lenyap.
Sheila terus memikirkan masalahnya itu hingga matanya terpejam walau hari masih pagi karena dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya setelah semalaman memikirkan hal yang sama.
"Jam Sepuluh? apa bekas operasi Mas Reihan nyeri lagi, jadi mas Reihan harus pulang sepagi ini?" batin Sheila mulai khawatir dan membuatnya langsung beranjak mengubah posisi tidurnya untuk melihat kebelakang.
"Aaa...." teriak Sheila ketika mendapati Ragil lah yang sedang tidur memeluknya.
"Ada apa? bukanya kita sudah pernah melakukan lebih dari ini," ucap Ragil setelah membuka matanya karena mendengar jeritan Sheila.
"Apa yang Tuan lakukan disini?" ucap Sheila sambil berusaha beranjak bangun dari ranjang namun Ragil malah mengencangkan pelukannya hingga membuatnya tertahan di dalam pelukan Ragil.
"Aku merindukanmu, diam lah!" ucap Ragil lagi sambil menghirup wangi rambut Sheila.
__ADS_1
"Tuan tolong jangan seperti ini, saya sudah bersuami dan Tuan sudah memiliki pacar yaitu Kania," ucap Sheila sambil menangis ketakutan.
Ragil yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya membuatnya tidak menghiraukan tangisan Sheila, dia terus menciumi bibir ranum itu dan mencoba membuka paksa daster yang sedang di kenakan oleh Sheila sedangkan Sheila hanya bisa terus menangis memangil-manggil nama Reihan.
"Kak Ragil," ucap Sheila kemudian memanggil nama teman dari masa kecilnya yang membuat Ragil menghentikan seketika aktivitas yang sedang di lakukannya.
"Apakah aku berarti dalam hidupmu? hingga Kau menyebut namaku?" batin Ragil sambil menatap mata sembab dihadapannya.
"Kak Ragil malaikat di masa kecilku, aku selalu berharap bisa bertemu dengannya lagi, namun sekarang aku malah di pertemukan dengan Ragil lain yang begitu sangat menyeramkan," teriak Sheila yang belum mengetahui identitas pria di depannya.
"Rapikan dastermu!" ucap Ragil sambil beranjak bangun dari ranjang dan merapikan kemejanya yang acak-acakan ketika dia mulai menyadari perbuatannya.
Kedatangan Ragil ke rumah itu untuk datang menemui Kania yang sedang libur kuliah hanya sebagai alasan untuk bisa bertemu dengan Sheila, saat Kania dan Mayang sibuk pergi berbelanja sayur untuk menjamu Ragil makan siang, Kesempatan itu langsung digunakan Ragil nekat masuk kedalam kamar Sheila.
"Ternyata kamu menggapku sebagai malaikat," batin Ragil saat keluar dari kamar Sheila sedangkan Sheila dengan gemetaran mengancingkan satu persatu dasternya yang dia pakai.
"Aku dari kamar mandi belakang," ucap Ragil saat mendapati Kania dan Mayang yang sudah datang memasuki rumah, beberapa saat setelah dia menutup pintu kamar Sheila.
"Tidak apa-apa Nak, masak mau ditahan," ucap Mayang sambil menahan tawanya.
"Maaf ya Kak, kami berbelanja sedikit lama," sambung Kania yang hanya di balas senyuman oleh Ragil.
"Nak Ragil nonton televisi saja dulu sambil nunggu tante memasak," ucap Mayang lagi sambil menunjuk kursi di sebelahnya.
"Baik Tante," ucap Ragil sambil beranjak duduk.
__ADS_1
"Lebih baik kamu tidak mengetahui siapa aku yang sebenarnya Shel, aku tidak mau kamu kecewa dengan Ragil yang sekarang," batin Ragil yang pura-pura menikmati tayangan televisi sambil sesekali menatap pintu kamar yang berada beberapa langkah darinya sedangkan Kania dan Mayang sibuk memasak di dapur.
...****************...