
"Kak," ucap Kania bahagia setelah mendapati Ragil yang sudah sadarkan diri setelah kecelakaan.
"Aku dimana? kamu siapa?" ucap Ragil yang memegangi kepalanya yang di perban sambil menahan rasa sakit.
"Aku Kania," jawab Kania segera.
Ragil yang terus mengeluh sakit pada bagian kepalanya langsung mendapatkan penanganan dokter setelah sadarkan diri. Namun semua orang harus di buat terkejut setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menyatakan bahwa Ragil mengalami amnesia.
"Mi, bagaimana jika Kak Ragil tidak mengingat Kania lagi?" ucap Kania sambil menangis setelah dokter berlalu.
"Kamu tenang! jangan seperti ini, kasihan Nak Ragil," ucap Mayang mencoba menenangkan anak perempuannya di ruang tunggu.
Sedangkan Reihan yang terus mendapatkan telepon dari Sheila, tanpa menaruh rasa curiga terhadap kepedulian Sheila kepada atasannya tentu langsung memberikan kabar tentang kondisi Ragil saat ini.
"Baru saja Kak, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu tapi takdir malah mempermainkan kita seperti ini," batin Sheila yang menangis setelah menutup panggilan teleponnya.
...****************...
__ADS_1
Rasa sedih sekaligus khawatir membuat Sheila mendatangi rumah sakit tempat Ragil di rawat di pagi harinya.
Dengan mata bengkak yang tidak bisa di sembunyikannya karena menangisi Ragil semalaman, Sheila menghampiri suami, mertua serta iparnya yang berada di ruang tunggu pasien.
"Sayang kenapa kamu menyusul kesini? Mas baru saja mau pulang, mau siap-siap ke kantor," ucap Reihan menyapa sekaligus heran.
"Aku hanya ingin melihat menjenguknya, apalagi setelah dia telah berbaik hati menampungku di mansion nya selama seminggu," jawab Sheila berdalih.
"Mungkin ini yang terbaik untuk saat ini, aku menunda berterus terang dengan Mas Reihan setidaknya sampai keadaan Kak Ragil membaik," batin Sheila saat itu.
"Baiklah, aku mengerti. Lalu Kamu kenapa?" tanya Reihan setelah menyadari mata istrinya yang bengkak.
Setelah mertua dan suaminya pulang, tinggallah Sheila dan Kania yang menunggui Ragil di rumah sakit. Kania tertidur dengan pulas nya di pagi itu, hingga kesempatan itu di manfaatkan oleh Sheila untuk menemui Ragil di dalam ruangan perawatan intensif.
"Syukurlah kamu selamat dari kecelakaan itu Kak," batin Sheila sambi menatap wajah laki-laki tampan yang sedang tertidur pulas di ranjang rumah sakit.
"Aku harap kamu tidak melupakan aku," batin Sheila kembali sambil mendekati ranjang.
__ADS_1
"Air..." ucap Ragil lemah sambil perlahan membuka matanya.
Sheila langsung sigap mengambil gelas berisi air yang sudah di sediakan di atas meja dan membantu Ragil minum.
"Apa kau terlalu banyak menangis?" ucap Ragil setelah selesai minum.
"Pasti Kakak tau dari mataku yang bengkak," jawab Sheila yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
"Aku tersiksa dengan semua ini, ketika aku membuka mataku semua terasa asing bagiku dan aku juga tidak mampu mengingat namaku sendiri," ucap Ragil sambil memegangi kepalanya.
"Dia tidak mengingatku, bahkan melupakan semua kenangan kita berdua," batin Sheila hancur setelah mendengar pengakuan Ragil.
"Siapapun Kamu, aku yakin kamu adalah orang baik," ucap Ragil kembali.
"Namaku Sheila," jawab Sheila segera walau dadanya terasa sesak melihat kondisi Ragil.
"Sheila," ucap Ragil sambil memegangi kepalanya, karena dia menjadi begitu pusing setelah mendengar nama itu.
__ADS_1
Sheila yang panik langsung memanggil perawat untuk memeriksa keadaan Ragil yang terus mengeluh sakit di bagian kepalanya. Walau setelahnya Sheila harus kembali bersedih karena diminta untuk menunggu di ruang tunggu, tapi setidaknya dia sudah merasa lega karena sudah bisa bertemu dengan Ragil walau hanya sebentar.
...****************...