Cinta Untuk Sheila

Cinta Untuk Sheila
berbalas pesan


__ADS_3

"Yang selalu aku sesali Shel, kenapa aku datang terlambat dalam hidupmu?" batin Ragil saat sudah sampai kembali di mansion nya.


"Aku sangat mencintaimu, Shel," tambahnya sambil memeluk dan menciumi bantal yang digunakan Sheila beristirahat tadi siang.


Setelah puas memeluk bantal itu, Ragil kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana panjangnya.


"Aku sudah sangat merindukanmu," ucapnya lagi sambil sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.


Diwaktu yang bersamaan Sheila yang baru saja menyalakan ponselnya dan langsung membuka sebuah pesan yang baru saja di terimanya.


"Pedagang Apel, nomer siapa ini? sepertinya aku tidak pernah menyimpan nomor ini," batin Sheila bingung sambil membaca pesan yang menanyakan tentang kegiatannya saat ini.


"Apa ini dia?" batin Sheila lagi kali ini sambil menepuk jidatnya ketika mengingat ponselnya sempat diambil Ragil tadi siang.


Sebenarnya Sheila tak ingin membalas pesan itu namun karena tidak tega dengan Ragil yang terus-menerus mengiriminya pesan, akhirnya Sheila mau membalasnya walau hanya dengan kata-kata singkat yang tentunya membuat Ragil begitu kegirangan saat menerima pesan balasan itu.

__ADS_1


"Pedagang Apel," batinnya sambil mencerna kata-kata yang membuatnya kembali mengingat masa kecilnya dengan teman di masa kecilnya yang sering berperan sebagai penjual apel ketika bermain dengannya.


"Kau mengingatkanku kepadanya lagi, kak Ragil kamu berada dimana sekarang?" batin Sheila tiba-tiba sedih mengingat tentang kenangan masa kecil.


Hingga kesedihannya itu berubah menjadi senyuman tipis ketika dia kembali mendapatkan pesan dari Ragil yang membuatnya sedikit terhibur.


"Ada apa sayang? tumben senyum-senyum sendiri," ucap Reihan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada apa-apa kok Mas," jawab Sheila yang seketika gelagapan dan kemudian langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


"Iya Mas," jawab Sheila singkat.


Tanpa menaruh curiga dengan sikap istrinya yang sedang berbalas pesan dengan laki-laki lain, Reihan melakukan ritualnya sebelum tidur. Reihan mengelus dan dan menciumi perut istrinya, tak lupa mengajak mengobrol janin yang dia kira adalah anaknya itu sedangkan Sheila hanya mampu tersenyum tipis seperti biasanya ketika menutupi kebohongannya.


"Tidak di balas? apa yang dia lakukan sekarang bersama dengan Reihan?" batin Ragil yang mulai berkecamuk sambil menatap tajam ke layar ponsel miliknya.

__ADS_1


Hal itu membuat Ragil tidak bisa tidur dan memejamkan matanya untuk sekejap saja, bayang-bayang Sheila yang sedang bercinta dengan Reihan terus mengusik pikirannya saat ini.


"Argh," teriaknya sambil menghantam cermin yang sedang menampilkan bayangan dirinya itu.


Darah segar terus mengucur dari tangannya yang sedang terluka namun Ragil tidak memperdulikan nya karena yang ada di benaknya saat ini hanyalah Sheila.


Entah beberapa kali dia mengintip layar ponselnya namun yang datang hanyalah pesan dari Kania yang terus dia abaikan, hingga pesan yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang, Sheila menyuruhnya untuk segera tidur dan akhirnya bisa membuat Ragil tertidur nyenyak.


"Aku tidak tau apa yang sedang aku lakukan saat ini?" batin Sheila kembali gelisah setelah menaruh ponselnya.


Sheila menatap ke arah wajah tampan yang sedang tertidur pulas di sampingnya, dia merasa semakin berdosa dengan semua yang telah dia lakukan.


"Maafkan aku Mas, tapi ini yang bisa aku lakukan saat ini," batin Sheila kembali dengan mata berkaca-kaca meratapi semua perbuatannya yang tentunya akan terus berkelanjutan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2