
"Kenapa aku menyimpan foto yang sudah pudar ini di dalam dompetku? pasti foto ini sangat berarti untukku," batin Ragil di balkon kamarnya memandang potret dirinya bersama Sheila kecil.
Ragil kini sudah kembali ke mansion nya, keadaan Ragil sudah jauh lebih baik saat ini namun dia belum mampu mengingat apapun tentang dirinya dan kehidupannya sebelum mengalami kecelakaan.
"Gil, Kania datang menjenguk mu," ucap Rima kepada anak laki-lakinya.
"Perempuan itu lagi, kenapa aku tidak bisa mempercayai semua ucapannya, bahwa kami memiliki hubungan," batin Ragil yang tidak buru-buru menjawab ucapan ibu nya.
"Bun, Ragil ingin istirahat, tolong bunda suruh dia pulang saja," jawab Ragil kemudian.
"Baiklah, beristirahat lah Nak," ucap Rima kemudian sambil berlalu dari kamar anaknya.
Saat mengetahui Ragil punya hubungan dengan Kania, Rima merasa sangat kaget apalagi sejak pertemuan pertama mereka di kantin rumah sakit membuat Rima sudah tidak menyukainya sedangkan Kania sendiri di buat mati kutu setelah kesalahan fatal yang telah dia perbuat.
Semenjak pulang dari rumah sakit, Ragil selalu menolak di jenguk oleh siapapun yang ingin mengabarkan tentang kondisi nya. Dia lebih memilih menyendiri dan mengurung dirinya di dalam kamar.
Beberapa saat setelah kepulangan Kania, Rima kembali mendatangi kamar Ragil.
"Sheila datang untuk menjenguk mu, apa Bunda juga harus menyuruhnya untuk pulang?" ucap Rima dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar nama yang disebutkan oleh ibunya, membuat Ragil kembali tidak langsung menjawab ucapan dari ibunya. Melainkan sejenak mengigat kembali pertemuan mereka di rumah sakit setelah Ragil amnesia.
"Baiklah, bunda akan memberitahunya," ucap Rima yang hendak beranjak namun di hentikan oleh Ragil.
"Ragil akan menemuinya, Bun," ucap Ragil kemudian sambil beranjak dari Ranjangnya.
"Akhirnya Ragil mau bertemu dengan seseorang," batin Rima sambil mengekor di belakang anaknya.
"Mansion ini penuh dengan kenangan kita berdua, Kak," batin Sheila sambil menatap ke sekeliling ruangan.
"Mungkinkah kau akan ingat kembali kepadaku dan calon anak kita," batin Sheila kembali, kali ini dengan menitipkan air matanya.
"Tidak apa-apa," jawab Sheila sambil menghapus air matanya.
"Tidak mungkin," sahut Ragil.
"Baiklah, akan ku katakan."
"Aku akan mendengarkannya," sahut Ragil kembali.
__ADS_1
"Aku ingin makan Ayam bakar ini, tapi aku tidak memiliki teman," ucap Sheila sambil menunjuk beberapa kantong kresek yang di bawa sebagai buah tangan.
"Aku juga suka Ayam bakar, kalau kau tidak keberatan aku akan menemanimu," jawab Ragil.
"Sungguh miris melihat kisah anak-anakku ini, mereka saling mengenal selama ini tapi Sheila bahkan mungkin Ragil juga tidak mengetahui mereka adalah teman kecil yang sudah lama terpisah," batin Rima yang tidak mengetahui tentang kebenaran Ragil dan Sheila.
Dengan lahannya Ragil menikmati ayam bakar kesukaannya di temani ibunya dan juga Sheila di siang itu. Tanpa mengetahui siapa?mengapa? dan kenapa?, Ragil merasa nyaman bersama dengan Sheila walaupun dia tidak mampu mengingat apapun.
"Makasih lho Shel, kamu sudah repot-repot bawa oleh-oleh," ucap Rima setelah menikmati makanannya.
"Nggak repot kok, Bun," jawab Sheila segera.
"Kenapa kamu nggak ajak Reihan? padahal inikan hari Minggu," ucap Rima kemudian, yang sudah mengenal Reihan saat menunggui Ragil di rumah sakit beberapa waktu lalu.
"Mas Reihan sedang mengantar Mami Mayang ke kondangan, Bun," jawab Sheila.
"Biasannya jika aku menyebut nama Mas Reihan, kamu langsung marah," batin Sheila merasa bersedih sambil menatap ke arah Ragil yang masih menikmati makanannya tanpa terganggu sedikitpun.
...****************...
__ADS_1