
Sheila nampak tersenyum sumringah saat menatap layar ponselnya, berbalasan pesan dengan Ragil membuatnya begitu senang setelah kebersamaan mereka kemarin.
"Tumben sampai jam segini Mas Reihan belum pulang juga, mana semua orang di rumah sudah pada tidur," batin Sheila sambil menatap jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi khawatir.
Berkali-kali Sheila mencoba menghubungi ponsel Reihan namun tidak tersambung, yang tentunya membuat Kekhawatiran Sheila semakin bertambah. Apalagi ketika tadi pagi dia pulang dari mansion Ragil, Sheila tidak sempat bertemu dengan Reihan karena sudah berangkat bekerja.
"Apa mungkin Mas Reihan lembur? Kalau aku menanyakan kepada Kak Ragil pasti dia akan Marah," batin Sheila sambil kembali menatap layar ponselnya.
Tak selang beberapa lama Reihan pulang dengan menjinjing tas kantornya, wajahnya nampak terlihat kecapekan dan lesu.
"Lho sayang kamu belum tidur?" ucap Reihan saat memasuki kamarnya.
"Kenapa Mas pulang sampai jam segini?" ucap Sheila sambil menghampiri suaminya dan membantu melepas dasi yang di kenakan suaminya.
"Mas tadi lembur di kantor, Maaf mas tidak memberikanmu kabar karena ponsel Mas kehabisan baterai," jelas Reihan.
Mendengar suaminya yang bekerja lembur membuat Sheila sangat khawatir mengingat kondisi Reihan yang baru saja pulih setelah kecelakaan. Ragil yang tak ingin Sheila menghabiskan waktu berdua dengan Reihan, sengaja meminta Reihan untuk bekerja lembur di kantor.
__ADS_1
"Kamu tidak usah Khawatir sayang, lagian kan lumayan nanti bisa untuk biaya tambahan kalau anak kita sudah lahir," ucap Reihan sambil mengelus perut Sheila saat melihat kekhawatiran di raut wajah istrinya.
"Tapi kamu kan baru saja sembuh Mas," sahut Sheila.
"Jadi kamu belum percaya kalau Mas sudah sembuh?" ucap Reihan sambil menatap Sheila dengan tatapan siap memangsa.
"Berhenti Mas!" cegah Sheila saat Reihan mulai memeluk tubuhnya.
"Shel, aku merindukanmu," ucap Reihan sambil mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku Mas, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama dengan dua orang yang berbeda," batin Sheila sambil menangis yang membuat Reihan melepaskan pelukannya.
"Sekarang usia kandunganmu sudah memasuki usia tiga bulan, kita bisa melakukanya pelan-pelan," ucap Reihan lagi membujuk tapi dibalas gelengan kepala oleh Sheila.
Setelah mendapatkan penolakan dari Sheila, Reihan langsung keluar dari kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras, Melihat kemarahan Reihan Sheila hanya bisa tambah menangis sejadi-jadinya.
Reihan menuangkan semua kegelisahannya di teras rumahnya, hingga Ajeng datang menyusulnya setelah beberapa saat memperhatikan keberadaan Reihan dari jendela kamarnya.
__ADS_1
"Rei, kok kamu belum tidur?" ucap Ajeng basa basi sambil melangkah duduk disamping Reihan.
"Aku hanya capek jeng," jelas Reihan berbohong.
"Kamu yakin?" ucap Ajeng lagi kali ini dengan memijat pundak Reihan.
"Mungkin aku harus lebih berani lagi dengan sikapku, agar Reihan peka kalau aku masih sangat mengharapkannya," batin Ajeng senang saat tidak mendapatkan penolakan dari Reihan.
"Sheila menolak ku jeng," ucap Reihan terus terang karena frustasi.
"Ini adalah kesempatan yang sangat bagus," batin Ajeng dengan senyum yang semakin merekah menghiasai bibir merahnya.
"Kasihan kamu, Rei," jawab Ajeng yang tangannya mulai beralih mengelus-elus bagian perut Reihan.
"Rei..." ucapnya lagi dengan suara manja kali ini sambil menempelkan gunung kembarnya di lengan Reihan.
"Pulanglah jeng! aku mau istirahat," ucap Reihan sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
Ajeng sangatlah kesal ketika Reihan meninggalkannya masuk kedalam rumahnya begitu saja, ditambah usahanya yang harus gagal berkali-kali saat menarik perhatian Reihan.
...****************...