Cinta Untuk Sheila

Cinta Untuk Sheila
Mual muntah


__ADS_3

Satu setengah bulan telah berlalu kondisi Reihan sudah semakin membaik bahkan saat ini Reihan sudah tidak menggunakan perban di kepalanya lagi, walau pun sekarang tampak terlihat bekas jahitan yang melingkari dari ujung dahi hingga belakang kepalanya tapi itu tidak membuat ketampanan yang Reihan miliki berkurang.


Di saat keduanya tidak bekerja mereka masih bisa bernafas lega, karena masih bisa mengandalkan gaji Reihan yang masih di dapatkan nya walau dia sedang cuti bekerja sedangkan Sheila lebih memilih untuk berhenti bekerja karena ingin fokus mengurus suaminya.


Namun di balik semua itu, ketakutan selalu datang menghantui hari-hari Sheila. Dia selalu merasa takut kehilangan Reihan jika sampai kebenaran biaya operasi itu telah terbongkar.


"Dengan alasan demi proses pemulihan mu, aku telah berhasil membuat Mami dan Kania sepakat membohongi mu dengan mengatakan semua biaya rumah sakit mu telah di tanggung pihak asuransi," batin Sheila yang semakin merasa bersalah karena kebohongannya yang semakin bercabang.


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu," puji Reihan sambil mengelus lembut pipi Sheila yang sedang duduk menemaninya menyaksikan tayangan sinetron di televisi.


"Kamu salah Mas, aku istri yang sangat buruk," batin Sheila yang semakin bertambah sedih sambil membalas ucapan Reihan dengan senyuman.


Hingga sinetron yang sedang mereka saksikan, menampilkan sebuah adegan seorang istri yang telah ketahuan berselingkuh hingga hamil, tapi istri itu sangat beruntungnya karena suaminya mau memaafkannya bahkan menerima calon bayi yang di telah di kandung nya.


"Seharusnya perempuan seperti itu jangan di kasih ampun," Ucap Reihan terlihat kesal saat mengomentari sinetron itu.


Sontak saja setelah mendengar komentar suaminya itu, langsung membuat Sheila menjadi keringat dingin di buatnya. Apalagi setelah menyaksikan sinetron itu, Sheila juga baru menyadari bahwa dia telah terlambat datang bulan, yang tentunya membuatnya menjadi semakin khawatir.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Reihan khawatir saat menyadari perubahan suhu dari tangan yang sedang dia pegang.


"Mungkin aku sedang masuk angin, Mas," ucap Sheila yang tiba-tiba juga merasakan mual, yang membuatnya langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya di sana.

__ADS_1


Dengan tubuh lemas dan wajah pucat Sheila keluar dari kamar mandi, Reihan yang sangat khawatir segera menuntun istrinya untuk duduk di sofa.


"Apa perlu Mas panggilkan dokter?" ucap Reihan yang langsung di tolak oleh Sheila.


Sepintas terlintas di pikiran Sheila bahwa hubungannya dan Ragil di malam itu telah membuahkan kehamilan, Namun Sheila berusaha menepis semua itu dari pikirannya dengan mengganggap dirinya hanya sedang masuk angin saja.


...----------------...


Sedangkan di tempat Lain, dalam waktu satu setengah bulan terakhir Ragil selalu berusaha melupakan bayang-bayang Sheila dari kehidupan nya dengan cara menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaannya di perusahaan miliknya. Namun semua usahanya itu hanya membuatnya semakin tersiksa seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya.


Setelah kejadian di malam itu, Ragil memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Sheila karena dia tidak ingin menjadi pengganggu di dalam hubungan Sheila dan Reihan.


Bahkan kali ini Ragil juga sudah mulai belajar membuka hatinya untuk perempuan lain walau masih dalam tahap perkenalan saja.


Hingga sampailah di situasi sore itu, saat Ragil mengantarkan Kania pulang ke rumahnya. Ragil mulai melambatkan laju kendaraannya, saat dia menyadari bahwa rumah Kania satu lokasi dengan arah rumah Sheila.


"Dulu aku menurunkannya tepat di tempat ini" batin Ragil saat melewati ujung gang.


"Lurus saja kak, rumah Kania yang catnya warna putih paling ujung," ucap Kania sambil menatap ke arah Ragil.


Tidak ada jawaban dari Ragil selain fokus mengemudikan mobilnya dengan pikirannya yang kembali bergejolak karena teringat dengan Sheila tanpa dia sadari Bahwa dia memang sedang menuju ke rumah Sheila.

__ADS_1


Saat sampai di rumahnya, Kania langsung menarik Ragil untuk mampir ke rumahnya dengan gayanya yang merengek manja, dan kedatangan Ragil langsung mendapatkan sambutan ramah dari Mayang yang langsung mengajaknya mengobrol di ruang tamu.


"Kania anakku ini sangat pintar mencari pacar," batin Mayang bangga sambil menatap Ragil dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kamu kerja dimana nak?" ucap Mayang kemudian walaupun belum sempat menanyakan nama dari tamunya itu.


"PT Ragil SH, Tante," ucap Ragil singkat.


"Dia bekerja di tempat yang sama dengan Reihan? lebih baik aku segera memanggil Reihan kesini, siapa tau saja mereka saling mengenal jadi aku bisa mendapatkan informasi tentang bibit,bebet,bobotnya dari Reihan" batin Mayang.


"Kamu tunggu disini sebentar, Tante akan segera kembali," ucap Mayang sambil berlalu meninggalkan Ragil sendirian diruang tamu sedangkan Kania masih sibuk di dapur karena membuat minuman.


Tak selang beberapa lama Mayang datang bersama Reihan yang di ikuti oleh Sheila, tentunya Reihan sangat terkejut ketika melihat kehadiran bosnya di rumahnya, begitu pula dengan Sheila yang langsung ambruk tak sadarkan diri karena melihat laki-laki yang telah menodainya sedang berada di rumahnya.


"Rei, lebih baik aku segera membawanya ke rumah sakit," ucap Ragil yang langsung menggendong Sheila tanpa memperdulikan suami dan mertua Sheila yang berada disitu.


Melihat kondisi istrinya yang tak sadarkan diri dan memang sudah muntah-muntah dari sebelumnya, Reihan langsung menyetujui ucapan dari bosnya itu. Dengan di ikuti oleh Mayang, Sheila langsung di bawa ke rumah sakit terdekat sedangkan Reihan tetap tinggal di rumah karena kondisi nya yang belum pulih seratus persen.


Kania yang datang membawa nampan berisi minuman tentunya dibuat bingung saat hanya mendapati kakaknya seorang yang berada di ruang tamu.


"Sheila di bawa ke rumah sakit," jelas Reihan yang seolah mengerti kebingungan Kania.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal Kania segera bergegas menuju ke kamarnya, setelah menaruh nampan yang dia bawa.


...****************...


__ADS_2