Cinta Untuk Sheila

Cinta Untuk Sheila
Kasih sayang


__ADS_3

Ragil kembali mengunjungi rumah Reihan dihari Minggu dengan alasan andalannya yaitu untuk menemui Kania, tentunya hal itu Ragil lakukan karena dia tak ingin Sheila menghabiskan hari minggunya bersama dengan Reihan.


"Makasih nak Ragil, repot-repot bawa oleh-olehnya sebanyak ini," puji Mayang setelah menyambut kedatangan Ragil.


"Nggak repot kok tante," ucap Ragil dengan senyuman yang semakin menambah ketampanannya.


"Sekarang Aku sudah tidak mampu mengenali siapa diriku lagi? aku sudah terlalu jauh terbawa arus permainan ini tapi semua ini terpaksa aku lakukan demi kamu Mas Reihan," batin Sheila sambil menatap ke arah selingkuhannya yang sesekali curi-curi pandang ke arahnya.


"Kania bantu mami siapkan makan siang di dapur, biar Nak Ragil di temani Sheila dulu sampai Reihan datang" ucap Mayang setelah beberapa saat mengobrol dengan Ragil.


"Iya Mi," ucap Kania sambil mengekor di belakang ibunya berjalan menuju dapur.


"Kamu dan bayimu sehat?" ucap Ragil memilih meneruskan sandiwaranya setelah Mayang dan Kania berlalu.


"Sehat," ucap Sheila singkat.


"Syukurlah, itu pasti berkat perhatian dan kasih sayang terutama dari papanya," ucap Ragil yang bermaksud membanggakan dirinya sendiri.


"Kak Ragil ini semakin kesini semakin tidak jelas," batin Sheila yang paham betul maksud ucapan Ragil.


"Pasti benar kan?" ucap Ragil lagi menggoda Sheila.

__ADS_1


"Benar sekali Pak bos, semua berkat perhatian dari papanya," sambung Reihan yang baru datang bergabung dengan mereka.


"Pasti lah Rei, karena papanya sangat menyayanginya," ucap Ragil penuh makna yang tentunya membuat Reihan salah arti karena kebohongan yang di tutupi darinya.


"Benar sekali pak bos saya sangat menyayanginya tapi sepertinya mamanya yang tidak tau," ucap Reihan yang bermaksud menyinggung kejadian semalam bersama Sheila.


"Aku papanya Rei bukan kamu," batin Ragil dengan sorot matanya yang tajam.


"Mas aku minta maaf," ucap Sheila yang membuat Ragil menyadari ada bau-bau perselisihan antara Sheila dan Reihan.


"Ada apa ini?" batin Ragil curiga.


Reihan terus bersikap cuek kepada Sheila yang berusaha mengajaknya berbicara tanpa menjawab ucapan Sheila, Reihan terus asyik mengajak Ragil mengobrol tanpa curiga sedikitpun tentang perselingkuhan antara atasan dan istrinya itu.


"Pak kalau bisa saya minta lembur untuk beberapa bulan ke depan," ucap Ragil kepada atasannya yang secara tidak langsung mencurahkan kekecewaannya kepada Sheila.


"Tapi kamu kan baru sembuh Mas," sela Sheila karena merasa khawatir namun Reihan sama sekali tidak merespon ucapan Sheila itu.


"Bagus Rei, aku senang mendengarnya," batin Ragil girang.


Saat makan siang berlangsung Ragil terus memperhatikan tingkah suami-istri di hadapannya sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya membuat mereka berdua berselisih.

__ADS_1


"Kak, cobain deh," ucap Kania sambil menyuapkan sesuap sup kepada Ragil.


"Enak kan?" ucap Kania setelah berhasil menyuapi Ragil.


"Enak" ucap Ragil singkat.


Tak disangka setelah adegan itu berlangsung, tiba-tiba Sheila membanting sendok yang sedang dia pegang dan membuatnya berlalu begitu saja ke kamarnya, yang tentunya membuat semua orang yang berada di meja makan tercengang dengan tingkah tak biasa dari Sheila itu.


"Rei, sebenarnya kamu ada masalah apa dengan Sheila? apalagi semalam kamu tidur di ruang tamu," ucap Mayang yang tak sungkan lagi membagi masalah keluarganya saat Ragil berada di sana.


"Sheila yang tidak bisa mengerti Reihan Mi," ucap Reihan kemudian sambil meninggalkan meja makan dan berlalu ke arah teras depan.


"Aku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi?" batin Ragil.


Sedangkan di dalam kamar dada Sheila terasa sesak setelah melihat kejadian di meja makan antara Ragil dan Kania tadi, bukan karena sikap Reihan yang dingin kepadanya yang membuat dia menjadi meradang.


"Ada yang terjadi denganku?" batin Sheila resah dengan perasaannya.


"Bukanya malah bagus untukku, jika Kak Ragil benar-benar mau menjalin hubungan dengan Kania, aku bisa bebas dari semua permainan ini," batinnya lagi semakin tidak karuan.


"Tapi kenapa dadaku terasa sesak seperti ini? ingin rasanya aku marah," batinnya kembali penuh emosi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2