Cinta Untuk Sheila

Cinta Untuk Sheila
Kebohongan


__ADS_3

"Darimana saja kamu, Shel?" sapa Reihan saat Sheila memasuki kamar mereka.


"Aku dari menjenguk Kak Ragil, bukankah itu memang sudah seharusnya," jawab Sheila sambil menaruh tas jinjingnya yang dibawanya ke atas nakas.


"Berbicara tentang keharusan seharusnya kamu tau Shel, tentang kewajibanmu sebagai seorang istri," ucap Reihan mengalihkan pembicaraan mencoba mengorek luka lama.


"Cukup Mas!," teriak Sheila dengan penuh emosional karena pikirannya sedang kalut memikirkan Ragil yang sedang amnesia.


"Sejak kapan Shel, kamu berani berteriak seperti ini kepadaku?" ucap Reihan tak percaya.


"Pulangkan aku ke orang tuaku, Mas! aku sudah tak sanggup lagi hidup seperti ini ," jawab Sheila yang secara tidak langsung mencurahkan isi hatinya yang di rahasiakan nya dengan rapat.


"Shel, jangan seperti ini," ucap Reihan kali ini dengan suara lebih lembut setelah mendengar ucapan istrinya.


Tidak ada sahutan dari bibir Sheila, hanya tangis yang membasahi pipinya yang menggambarkan kegundahan hatinya saat ini. Dia tidak bisa megungkapkan semua kebenaran tentang dirinya karena kondisi Ragil saat ini, sehingga dia harus bertahan dalam kebohongan bersama dengan Reihan sampai saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana jika ingatannya tidak pernah kembali lagi?" batin Sheila dengan tangisannya yang semakin pecah.


"Mungkin ini bawaan dari kehamilannya, aku tidak boleh egois seperti ini," batin Reihan yang tiba-tiba merasa bersalah saat melihat Sheila menangis.


"Shel, tolong maafkan aku," ucap Reihan memohon.


Belum sampai Reihan mendengar jawaban dari istrinya, Mayang terdengar mengetok pintu kamar itu dari luar dengan tidak sabaran.


"Rei...Rei...Rei," suara Mayang terdengar dari balik pintu.


"Ada apa, Mi?" ucap Reihan setelah membuka pintu kamarnya.


"Kania, kamu berbohong," batin Sheila.


"Kasian adikmu, kamu harus cepat-cepat menemui Ragil dan ibunya," desak Mayang untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Mayang dan Kania telah membuat cerita bohong tentang kehamilan Kania, agar Ragil yang amnesia tidak meninggalkannya dan membuat Ragil mau menikahinya.


"Reihan masih tak menyangka, Pak Ragil yang sangat Reihan hormati melakukan hal seperti ini," ucap Reihan sambil menghela nafasnya kasar setelah mendengar kehamilan palsu adiknya.


"Berlian yang sudah di tangan tidak boleh sampai lepas," batin Kania sambil memperkuat actingnya dengan menangis sesenggukan.


"Maafkan Mami ya Rei, tapi ini semua agar kamu mau menuntut pertanggung jawaban untuk adikmu," batin Mayang sambil pura-pura menenangkan Kania.


"Kenapa semua jadi semakin runyam? Kak Ragil yang kehilangan ingatannya malah di tuduh menghamili Kania, tentu dia tidak akan bisa mengelak. Lalu bagaimana nasibku dan bayi yang masih berasa di dalam kandunganku?" batin Sheila semakin gundah.


"Reihan siap-siap dulu Mi, kita akan bersama-sama mendatangi mansion pak Ragil," batin Reihan sambil bergegas menuju ke kamarnya.


"Bagus, Kak Reihan sudah termakan omongan Mami," batin Kania penuh kemenangan.


"Kalian benar-benar licik," batin Sheila menatap tajam ke arah iparnya yang masih berpura-pura menangis di depan Sheila.

__ADS_1


Setelah Reihan selesai bersiap, tak menunggu lama dia langsung mengajak adik dan ibunya pergi ke mansion milik Ragil. Sedangkan Sheila yang tinggal di rumah hanya menghabiskan waktunya untuk kembali menangis, meratapi nasibnya yang entah arah tujuannya.


...****************...


__ADS_2