Cinta Untuk Sheila

Cinta Untuk Sheila
Putri tidur


__ADS_3

Ragil meminta para staf dikantornya untuk mengurus rapat yang sedang berlangsung tanpa kehadiran dirinya, dia sibuk membawa Sheila yang masih tertidur pulas pergi Mension nya yang megah .


"Lanjutkan tidurmu putri tidur!" ucap Ragil sambil menyelimuti tubuh Sheila setelah kembali membopongnya ke kamar tamu.


"Dia terlihat begitu sangat kelelahan, mungkin jika aku membopongnya sampai ke kutub Utara saat ini, dia juga tidak akan bangun," ucap Ragil lagi sambil menatap wajah cantik Sheila.


Selain tidak tidur semalaman, kondisi tubuh Sheila yang belum kembali pulih seratus persen setelah dia sakit, membuatnya tertidur cukup lama, hingga senja yang datang telah berhasil membangunkannya.


"Aku ada dimana?" ucap Sheila bingung sambil menatap ke sekeliling kamar mewah itu yang tentunya asing baginya.


Yang ada di ingatan terakhir Sheila hanyalah berjalan kaki menyusuri kota sambil meratapi sakit hatinya, dan selebihnya dia bermimpi makan ayam bakar bersama seseorang yang telah menolongnya kemarin.


"Kenapa mimpiku saat makan bersama Tuan Ragil itu seperti sangat nyata?" ucapnya sambil beranjak duduk di ranjang.


Tak selang beberapa lama kebingungan Sheila mulai terjawab, Ragil masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Jadi semua itu bukan mimpi?" batin Sheila.


"Putri tidur, Kau sudah bangun?" sapa Ragil sambil menaruh nampan yang dibawanya di atas nakas.


"Namaku bukan putri tidur," protes Sheila malu-malu yang membuat Ragil merasa gemas.


"Maafkan aku Reihan mungkin tindakanku ini telah salah, seharusnya aku menghubungimu tadi, tapi istrimu telah mengingatkanku kepada seseorang yang selalu aku rindukan jadi izinkan aku untuk sebentar saja bersamanya," batin Ragil sedih.

__ADS_1


"Namaku Sheila," ucap Sheila yang membuyarkan lamunan Ragil sekaligus mengagetkannya saat mengetahui nama wanita di hadapannya.


"Sheila?" ulang Ragil memastikan dia tidak salah mendengar.


"Iya, adakah yang salah dengan namaku Tuan?" tanya Sheila yang bingung saat melihat raut wajah Ragil yang berubah ketika mendengar namanya.


"Nama yang sama, tanggal lahir yang sama, serta tatapan dan senyuman yang sama, mungkinkah dia adalah Sheila ku?" batin Ragil kembali terhanyut dalam lamunannya.


"Tuan," ucap Sheila yang kembali membuyarkan lamunan Ragil.


"Makanlah dulu!" jawab Ragil gugup.


"Baiklah tapi setelah aku selesai makan tolong antarkan aku pulang Tuan," ucap Sheila yang langsung di setujui oleh Ragil karena di luar hari telah mulai gelap.


Reihan hanya mendapati ibu dan adiknya saat Sampai di rumah, dia mencoba tidak peduli dengan keberadaan Sheila tapi lama-kelamaan dia merasa sangat khawatir saat Sheila tak kunjung pulang ke rumah.


"Apa aku telah menyakitinya? mungkin saja foto yang di tunjukkan Ajeng itu tidak seperti yang aku pikirkan, seharusnya aku bertanya dulu padannya," batin Ragil sambil mengusap wajahnya frustrasi.


"Kelayapan kemana dia? hari ini aku harus capek masak makan malam sekarang juga harus membereskan piring," batin Mayang kesal sambil merapikan meja makan dan sesekali menatap Reihan yang masih terduduk di meja makan.


"Istri kamu mulai tidak benar Rei, mungkin dia kelayapan sampai jam segini belum pulang," ucap Mayang membuka pembicaraan.


"Mungkin ada pekerjaan tambahan Mi di warung makan," jawab Reihan yang membuat Mayang semakin kesal karena ucapan Reihan terlihat lebih membela Sheila.

__ADS_1


"Harusnya dia bicara sama bosnya dia punya suami yang harus diurus, biar dia mendapatkan kelonggaran dari bosnya," ucap Mayang lagi mencoba menghasut anaknya.


"Sesekali kan tidak apa Mi, lagian ada Kania juga kan yang bisa bantu Mami sekarang," sahut Reihan.


"Bukan begitu maksud Mami Rei," jawab Mayang mencoba menjelaskan tapi Reihan tidak peduli dan lebih memilih untuk pergi ke teras depan.


"Maafkan aku Shel," batin Reihan yang sedang menghisap sebatang rokok sambil sesekali memandang ke ujung jalan untuk memastikan kedatangan Sheila.


Sedangkan Ajeng yang telah mengincar Reihan dari balik jendela rumahnya mulai melancarkan aksinya untuk kembali melakukan usahanya mendekati Reihan. Ajeng Datang ke teras rumah Reihan dengan membawa sepiring kue dengan dalih dia baru belajar membuat kue dan meminta Reihan untuk mencicipinya.


"Bagaimana Rasanya Rei?" ucap Ajeng yang duduk di samping Reihan.


"Enak," jawab Reihan singkat karena dibenaknya saat ini hanya menghawatirkan Sheila.


"Aku harap sikap dingin mu ini secepatnya bisa berubah Rei," batin Ajeng merasa sedih walau dia bisa makan malam dan beberapa kali membonceng Reihan tapi hanyalah sikap dingin Reihan yang dia dapatkan.


Dengan berjalan kaki Sheila telah sampai dirumahnya, dia meminta Ragil untuk menurunkannya sebelum sampai di depan rumahnya karena dia tidak mau mendapatkan masalah dari mertua maupun suaminya.


Tapi dia tidak menyangka justru hatinya lah yang harus kembali dibuat bermasalah dan merasakan sakit karena mendapati Reihan dan Ajeng yang sedang asyik berduaan di teras. Melihat hal itu Sheila langsung memilih masuk ke dalam rumah tanpa menyapa mereka terlebih dulu.


Sedangkan Ragil yang sedang melajukan mobilnya setelah mengantar Sheila pulang terus dibuat berkecamuk dengan hati dan pikirannya. Dia merasa senang jika memang Sheila yang baru saja dia temui itu adalah Sheila yang sama dari masa kecilnya, karena itu berarti dia telah berhasil menemukan orang yang telah lama di dambakan dan dicarinya selama ini. Tapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena Sheila sudah memiliki suami yaitu Reihan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2