
"Kamu tak perlu khawatir memikirkan tentang mereka, semua akan baik-baik saja," ucap Ragil sambil mengeringkan rambut Sheila dengan hairdryer setelah Sheila selesai mandi.
Sedangkan Sheila yang merasa gelisah hanya bisa mempercayai semua ucapan Ragil saat ini sambil menatap ke pantulan cermin besar di hadapannya, yang menampilkan dirinya bersama Ragil yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"Ternyata dia begitu penyayang, Mas Reihan tidak pernah melakukan ini hal seperti ini kepadaku," batin Sheila terkesan.
"Ikutlah denganku!" ucap Ragil setelah mematikan hairdryer yang dia pegang setelah rambut Sheila mengering.
Sheila berjalan mengekor di belakang langkah kaki Ragil, sebuah makan malam romantis ternyata sudah di persiapkan Ragil di balkon kamarnya. Di hiasi dengan bucket bunga mawar merah yang indah serta lilin-lilin kecil di sana, makanan favorit mereka sudah siap tersaji di atas meja.
"Ayam bakar," ucap Sheila memecah keheningan.
"Tentu, makanan favorit kita berdua," ucap Ragil sambil memundurkan bangku di hadapannya dan meminta Sheila untuk segera duduk di sana.
"Dia benar-benar romantis," batin Sheila memuji kagum kepada Ragil.
"Kau terlihat menyukainya," ucap Ragil sambil menatap wanita di hadapannya dengan penuh arti.
__ADS_1
Sheila yang tersentuh dengan sikap Ragil hanya bisa mengangguk malu-malu dan hatinya juga mengakui Ragil pria romantis dan penyayang, apalagi Reihan tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini kepadanya.
"Sayang..." ucap Ragil kemudian sambil memegang tangan lembut Sheila.
"Iya," jawab Sheila singkat.
"Jika kamu berubah pikiran, pintu mansion ku selalu terbuka lebar untukmu, aku sangat mencintaimu Shel," ucap Ragil kali ini sambil mencium punggung tangan yang sedang di pegangnya.
"Maafkan aku, karena aku tidak mungkin meninggalkan Mas Reihan" ucap Sheila yang membuat harapan Ragil kembali runtuh.
Ragil mencoba mengendalikan dirinya dan menikmati makan malam romantis bersama sang pujaan hati karena tentunya dia tidak ingin melewatkan malam yang sangat indah baginya itu.
"Shel, dalam hatiku selalu ingin bersamamu menghabiskan waktuku denganmu tapi aku bisa apa Shel, dengan semua kenyataan ini?" batin Ragil sedih di sela-sela makan malamnya.
"Kakak tau, Kak Ragil teman masa kecilku juga sangat menyukai ayam bakar," ucap Sheila kemudian mencoba memecahkan ketegangan di antara mereka.
"Ternyata kau punya ingatan yang baik, sehingga kau selalu menyebut teman kecilmu itu," ucap Ragil sambil menampilkan senyumnya saat diri kecilnya disebut.
__ADS_1
"Tentu aku mengingat semua tentang dirinya, dia punya tempat tersendiri di hatiku," jawab Sheila yang membuat hati Ragil seperti tertusuk paku setelah mendengarnya.
"Benarkah? coba ceritakan kepada tentang Ragil teman kecilmu itu? aku penasaran tentangnya," ucap Ragil yang belum mau mengungkapkan identitas aslinya kepada Sheila.
"Kalau bisa di bilang Kak Ragil itu laki-laki pertama yang aku taksir," ucap Sheila sambil tersenyum mengingat masa kecilnya.
"Lalu kenapa kau tidak menunggunya dan malah menikah dengan orang lain?" tanya Ragil kembali mewakili kekecewaan hatinya walau dia harus menjadi Ragil lain di mata Sheila saat ini.
"Kak Ragil kecil pergi begitu saja tanpa berpamitan kepadaku, Sheila kecil benar-benar terluka saat itu bahkan sampai aku beranjak dewasa, aku selalu menunggu kedatangannya tapi kenyataanya dia tidak pernah kembali mungkin karena dia sudah melupakan aku," cerita Sheila sambil meneteskan bulir-bulir bening yang membasahi pipinya.
"Aku disini, semua itu tidak benar," batin Ragil sambil menahan sesak di dadanya.
"Dimana pun Ragil mu sekarang, dia pasti selalu mengingatmu," ucap Ragil dengan suara bergetar sambil menghapus air mata Sheila dengan salah satu jarinya.
"Maafkan aku Shel aku belum bisa jujur tentang siapa diriku, tapi setidaknya aku merasa lega setelah mendengarkan semua ucapanmu," batin Ragil lagi sambil menatap lekat wanita yang sangat dicintainya itu.
...****************...
__ADS_1