
Belum ada pembicaraan dari sepasang suami dan istri itu, mereka masih memilih untuk saling terdiam. Sheila merasa tersakiti dengan kedekatan suaminya dengan wanita lain sedangkan niat Reihan untuk memperbaiki hubungannya dengan Sheila ter urungkan karena merasa malu mengakui kesalahannya kepada Sheila.
Di pagi itu Reihan menunggu Sheila di atas motornya, dia berencana untuk mengajak istrinya untuk berangkat berkerja bersama. Namun Ajeng yang terlanjur nyaman berboncengan dengan Reihan mengira Reihan telah menunggu dirinya, apalagi rumah mereka yang hanya bersebrangan jalan saja.
"Ayo kita berangkat," ucap Ajeng sambil mengambil helm di boncengan motor Reihan.
Melihat kejadian itu, membuat Sheila menjadi kembali salah paham seperti kejadian kemarin sore, dia lebih memilih untuk mempercepat langkahnya melewati Reihan dan Ajeng yang masih berada di depan teras.
"Sheila," panggil Reihan yang membuat Sheila menghentikan langkahnya.
Dengan segera Reihan mengambil helm yang sedang di pegang oleh Ajeng, kemudian menyusul istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Ajeng.
"Ayo," ucap Reihan sambil memberikan helm itu kepada istrinya.
Tanpa berpikir panjang Sheila langsung mengambil dan memakai helm itu. Karena yang terpenting untuknya saat ini bukanlah rasa sakit hatinya atas semua yang telah terjadi, melainkan mempertahankan rumah tangganya dari godaan masa lalu suaminya.
__ADS_1
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, Sheila langsung duduk ke atas motor dan melingkarkan tangannya erat di pinggang suaminya, sedangkan Ajeng hanya bisa bisa terdiam mematung menatap kepergian motor Reihan dengan kemarahan dan kecemburuan.
Di waktu yang bersamaan Ragil juga mengemudikan mobilnya perlahan, membelah keramaian kota di pagi itu dengan harapan bisa bertemu dan berangkat bekerja bersama Sheila lagi.
"Kemana dia?" ucap Ragil sambil mengamati satu persatu para pejalan kaki.
Namun harapannya itu harus pupus karena hingga sampai di ujung jalan di sebuah pemberhentian lampu merah, dia tidak mendapati apa yang dia cari.
Sampai akhirnya sebuah motor melintas dan berhenti tepat di depannya ikut menunggu lampu berubah menjadi hijau.
"Sheila dan Reihan," batin Ragil merasa sangat kecewa ketika melihat suami istri itu berboncengan dengan mesranya.
"Ada apa denganku?" batinnya sambil menyetir perlahan melewati lampu merah yang telah berubah menjadi hijau, tanpa bisa mengenali rasa cemburu yang sedang menyerangnya.
...***************...
__ADS_1
Di Kantor Ragil
Dengan berbagai alasan Ragil terus melimpahkan sebuah kesalahan kepada Reihan, agar dia bisa melampiaskan semua kekesalannya.
Sampai Reihan Dibuat bingung dengan perubahan sikap bosnya itu, yang telah berubah menjadi seratus delapan puluh derajat.
"Kamu becus nggak sih Rei?" ucap Ragil marah sambil memegang map yang baru saja di kerjakan oleh Reihan.
"Maaf Pak, tapi saya sudah mengerjakan sesuai dengan keinginan anda," ucap Reihan membela diri.
"Kamu berani jawab saya, Rei? Mau kamu saya pindahkan kekantor cabang?" teriak Ragil bertambah marah sambil melempar map itu kelantai.
"Ampun Pak, saya akan membenahinya lagi," ucap Reihan sambil memungut bekas itu karena tentunya dia tidak mau di pindahkan ke kantor cabang yang berada di luar kota.
"Ada apa denganku?" batin Ragil sambil mengusap rambutnya dengan kasar setelah Reihan keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Yang ada di benak Ragil saat ini hanya bayang-bayang Sheila yang terus menggangunya, dia sangat ingin bertemu dan mengobrol dengannya seperti kemarin ketika berada di Mension nya.
...****************...