
Siang itu Ragil menepikan mobil mewahnya di warung makan sederhana itu, meski tujuan utama kedatangannya bukan untuk mengisi perutnya yang kosong melainkan menemui sosok yang telah menggangu pikirannya.
Sudah berhari-hari Ragil berusaha keras melupakan bayang-bayang Sheila dari pikirannya, namun semua hanyalah sia-sia belaka justru Ragil semakin merasa kesulitan untuk menghilangkannya Sheila dari pikirannya.
"Tuan ingin memesan menu apa?" sapa Sheila dengan ramahnya ketika mengetahui Ragil yang telah datang berkunjung.
"Aku ingin Ayam bakar," ucap Ragil tersenyum sambil mengingat kejadian manis di cafe waktu itu bersama dengan Sheila.
Tidak menunggu lama Sheila datang dengan satu porsi Ayam bakar beserta minuman yang telah di pesan oleh Ragil.
"Silahkan Tuan," ucap Sheila setelah selesai menghidangkan makanan itu ke meja.
"Temani aku," ucap Ragil malu-malu.
"Baiklah Tuan, tapi sebentar saja karena aku harus kembali bekerja lagi," jawab Sheila yang tidak enak menolak permintaan Ragil yang telah banyak membantunya.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" ucap Ragil tiba-tiba di sela-sela makan siangnya.
__ADS_1
"Silahkan Tuan," jawab Sheila singkat tanda mengiyakan permintaan Ragil.
"Siapakah nama lengkap mu?" tanya Ragil yang sebenarnya hanya ingin memastikan apakah Sheila yang duduk dihadapannya memanglah Sheila dari masa kecilnya.
"Sheila Adara," jawab Sheila singkat walau sebenarnya Sheila merasa aneh dengan pertanyaan dari Ragil itu.
"Aku telah menemukanmu Sheila kecilku," batin Ragil sambil menahan tubuhnya yang bergetar hebat setelah mendengar jawaban dari mulut Sheila, hingga membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Tuan tau, nama Tuan itu sama dengan seseorang dari masa kecilku, namun sayangnya aku tidak tau keberadaan Kak Ragil ku itu sekarang," ucap Sheila bersedih karena tanpa dia sadari hatinya sangat merindukan Ragil.
"Aku disini, di hadapanmu," batin Ragil yang tidak ingin membongkar identitasnya kepada Sheila untuk saat ini.
"Tidak apa-apa, jika kamu belum bisa menemukan Ragil teman dari masa kecilmu itu, Kau bisa mengganggap aku sebagai Ragil temanmu itu," ucap Ragil sambil tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya.
Yang ada di benak Ragil saat ini hanyalah ingin dekat dengan Sheila, walaupun dia harus menelan pil pahit bahwa gadis kecil pengisi hatinya itu telah memiliki suami.
"Aku terlambat datang Sheila, tapi satu yang kamu harus tau bahwa aku masih menunggumu sampai saat ini," batin Ragil sambil berlalu dari warung makan itu setelah menyelesaikan makan siangnya.
__ADS_1
...----------------...
Di kantor Ragil
Ragil telah kembali ke kantornya dengan pikiran dan hatinya yang masih berlanjut dengan gejolaknya, hingga dia tidak sengaja mendengarkan obrolan dari dua Stafnya yang tak lain adalah Reihan dan Ajeng.
"Sheila mandul, jeng," ucap Reihan sedih.
"Aku turut prihatin Rei, kamu yang sabar ya" ucap Ajeng yang berpura-pura bersedih walau sebenarnya hatinya sangat senang ketika mendengar ucapan Reihan itu.
"Terimakasih jeng,"
"Semoga Tante Mayang juga bisa menerima semua ini," ucap Ajeng mulai memancing.
"Tanpa sepengetahuan Sheila, semalam Mami mendesak ku untuk menikah lagi jeng," jawab Reihan yang membuat Ajeng merasa senang karena tentunya dia merasa memiliki peluang untuk bisa mendapatkan Reihan.
"Tentunya aku tidak akan melakukan hal seperti itu, aku sangat mencintai Sheila," ucap Reihan lagi yang membuat semangat Ajeng runtuh seketika.
__ADS_1
"Jangan pernah kau menyakitinya Rei, karena aku tidak akan segan mengambilnya darimu, jika sampai semua itu terjadi" batin Ragil yang sedari tadi menguping pembicaraan ke dua Stafnya itu.
...****************...