
Tak terasa Sheila sudah satu Minggu menghabiskan waktunya di mansion Ragil, perhatian dan kasih sayang dari Ragil membuatnya semakin terlena.
"Aku yakin, bahwa sekarang aku mencintai kak Ragil," batin Sheila yang sedang merias wajahnya.
Sebelum Reihan menjemputnya besok pagi, Ragil mengajaknya untuk makan malam romantis di malam itu, dengan balutan gaun berwarna hijau tua semakin membuat kecantikan Sheila makin terpancar.
"Kau cantik sekali sayangku," ucap Ragil ketika memasuki kamarnya sambil menatap Sheila yang duduk membelakanginya dari pantulan cermin.
"Kau sudah siap sayang?" ucap Ragil kembali saat mendekati Sheila sambil mencium pucuk rambutnya.
"Dia benar-benar membuatku meleleh," batin Sheila terkesan.
"Aku sudah siap Kak," ucap Sheila sambil tersenyum.
Ragil menyulap taman belakang mansion nya menjadi tempatnya dan Sheila melakukan makan malam. Ragil yang tak bisa mengajak Sheila makan malam di luar karena status hubungan mereka, memilih menghiasi tamanya dengan di dominasi bunga mawar serta lilin yang tentunya lebih mengesankan dari makan malamnya sebelumnya di balkon kamarnya waktu itu.
"Kak, aku mau kita mulai semuanya dari awal," ucap Sheila memberanikan diri di sela-sela makan malam mereka.
"Maksud kamu apa sayang?" ucap Ragil yang bingung, meminta penjelasan.
"Aku akan tinggalkan Mas Reihan dan kita besarkan anak kita bersama-sama," jelas Sheila.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Ragil memastikan
"Aku mencintaimu Kak," ucap Sheila yang membuat Ragil tak mampu berkata-kata, karena ini merupakan kebahagiaan yang tak terbendung untuknya.
"Mungkin ini yang terbaik, aku juga tidak mungkin selamanya membohongi Mas Reihan," batin Sheila meyakinkan hatinya.
"Besok aku akan mengakhiri semuanya," ucap Sheila kembali yang membuat Ragil langsung mencium punggung tangannya.
"Aku akan mengatakan siapa diriku sebenarnya, setelah kita menikah nanti," batin Ragil yang masih enggan mengungkapkan jati dirinya.
Malam itu mereka berdua terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing, tak henti mereka mengucapkan kata-kata cinta dan saling memuji satu sama lain.
...****************...
Sebenarnya Ragil yang ingin berterus terang kepada Reihan saat menjemput Sheila ke mansion nya namun niatnya itu di cegah olah Sheila, karena Sheila ingin mengakhiri semuanya sendiri tanpa melibatkan Ragil di dalamnya.
"Shel, kamu marah ya?" ucap Reihan kembali karena tidak mendapatkan jawaban.
"Aku ingin mengatakan sesuatu Mas," ucap Sheila kemudian ingin mengungkap keinginannya yang sudah dia rencanakan matang-matang.
"Katakan!"
__ADS_1
"Aku..." baru saja Sheila memulai ucapannya namun harus terputus karena teriakan histeris Kania.
"Ada apa?" ucap Reihan saat menghampiri Kania yang menangis sesenggukan di peluk oleh Mayang.
"Nak, Ragil..." ucap Mayang yang tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya dan menunjuk ke arah televisi yang sedang menyala Menayang berita kecelakaan.
"Tidak mungkin," batin Sheila yang merasakan kakinya terasa lemas saat menoleh ke arah televisi.
Reihan langsung memberikan ponselnya yang terus berbunyi karena menerima banyak pesan di grup WhatsApp, Reihan mendapati berita bahwa atasannya itu mengalami kecelakaan di Minggu pagi ini.
"Kak, antar Kania ke rumah sakit, Kak Ragil pasti sendiri di sana karena mamanya sedang berada di luar negeri," ucap Kania sambil menghapus air matanya.
"Baiklah, Ayo kita berangkat sekarang!" jawab Reihan menyetujui.
"Mas aku ikut," ucap Sheila sambil menahan air matanya mencoba menghentikan langkah suami, ipar, serta mertuanya.
"Kamu sedang hamil, beristirahat lah di rumah," jawab Reihan sambil beranjak berlalu.
"Bagaimana keadaanmu Kak?" batin Sheila sangat khawatir.
Sheila yang sendirian di rumah tak mampu lagi membendung air mata dan kesedihannya memikirkan kondisi Ragil, apalagi setelah ponsel Ragil juga tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
...****************...