
Detik-detik waktu yang berlalu setelah pengakuan Ayuna dirasakan sangat panjang oleh Saka. Lelaki muda itu berupaya keras mengendalikan emosi yang membuncah, terasa hendak memecahkan dada. Otak di kepalanya seolah mendidih dibakar pemikiran kalut hendak melampiaskan amarah pada sang kakak ipar.
“Kita akan pergi, tunggu Bunda dulu Kita pamit baik-baik.” itulah kata-jata yang diucapkan Saka setelah pengakuan mengejutkan Ayuna. Beruntung lah dirinya tak sampai melesat mendatangi Edwin dan menghajarnya.
Akal sehatnya masih menempatkan Saka pada posisinya yang paling tepat untuk tetap bisa mengamankan Ayuna. Jika ia berseteru ribut dengan Edwin dan Rosmaya, pastilah Ayuna semakin disudutkan.
Keluarganya pasti mengembalikan gadis itu ke desa, di sana sudah menanti buaya rakus si Tuan Takur. Ayuna seperti di pimpong oleh nasib buruk yang satu ke nasib buruk lainnya.
“Saya mau ke desa saja Tuan, seandai saya tahu ibu ada di mana....” tangis Ayuna tidak terbendung, dadanya sesak dengan bibir bergetar.
“ Coba dengarkan aku, bisakah Kau mempercayaiku Ay? Aku tidak akan membiarkanmu jadi korban lagi. Aku mengupayakan hal terbaik seperti ketika pergi membawamu dari desa. Uwa Mirja sudah mempercayakan Kamu kepadaku, jadi Aku tidak akan melupakan janjiku. Sekarang tenanglah, coba lah tidur dulu,”
Setelah berhasil menenangkan Ayuna Saka meninggalkan gadis itu dalam keadaan kamar dikuncinya. Duduk sendirian di ruang tamu menunggu kedatangan Bunda dan Rosmaya yang masih dalam perjalanan dari bandara.
Sudah satu jam berlalu Saka memikirkan langkah yang harus diambilnya, tindakanya tidak
boleh gegabah yang bisa semakin menyudutkan Ayuna. Gadis yang sudah dicelakai oleh anggota keluarganya sendiri, biarlah dirinya yang mengambil sikap.
Dirinya cukup mengutarakan apa yang terjadi, perkosaan Edwin yang terjadi karena Ayuna terlelap ketiduran menjaga Kaffi di kamar orangtuanya.Apapun kejadian di rumah ini, Bunda harus mengetahui seobyektif mungkin.
“Saka, ngapain kamu malam-malam di sini?” Bunda terkejut mendapati satu-satunya anak lelaki keturunan suaminya itu, duduk di ruang tamu dengan wajah kaku. Gelagat Saka yang menyongsong kedatangannya ini seolah warning yang memantik instingnya bahwa ada yang tidak beres terjadi di rumah ini.
Rosmaya yang menyusul di belakang ibunya juga keheranan, bersamaan dengan Edwin muncul dari arah kamar. Sekarang mereka berempat berdiri dengan aura ketegangan yang terasa nyata di ruang tamu yang luas itu.
__ADS_1
“Maafkan Saka Bunda, Saka pamit mau membawa Ayuna pergi.” Saka mengucapkan dengan setenang mungkin, sementara tak jauh dari tempatnya Edwin berdiri terpaku. Lelaki itu terlihat gentar.
“Apaan sih Kamu? Malam-malam begini urusan nggak penting, Aku dan Bunda juga baru datang dari bandara. Capek tahu!” Rosmaya mendumel kesal.
“Penting atau tidak, Kak Ros silakan bertanya pada suamimu sendiri!” kecam Saka mengepalkan tangan menahan emosi.
Bunda sekarang memilih duduk di kursi jati, nalurinya yang peka sebagai seorang ibu terbukti. Nyonya besar pemegang kuasa di kediaman ini sekarang menunggu sambil menatap Saka dan Edwin bergantian.
“Apalagi ini, kamu bawa-bawa suamiku segala?!” Rosmaya melotot marah.
“Dia sudah memperkosa Ayuna! Sekarang katakan bahwa Kakak sependapat denganku bahwa Edwin harus bertanggung jawab atau Kita menunggu Ayah dan Bunda yang membuat keputusan!”
“Saka! Kamu kurang ajar,” Plakkk! Rosmaya melayangkan tangan menampar adiknya. Saka tidak membalas, tubuhnya berbalik pergi ke kamar menjemput Ayuna. Tapi baru selangkah kemudian berhenti dan berbalik menghadapi Edwin.
Di kamar Ayuna masih tertidur karena kelelahan menangis. Dibangunkannya gadis itu perlahan dan mengatakan mereka akan segera pergi. Ayuna tak segera merepon, kegugupannya kembali terlihat karena dari arah ruang tamu terdengar tangisan histeris Rosmaya.
“Duduklah dulu, aku menyiapkan beberapa pakaian dan keperluanku.” Saka mengelus lembut bahu Ayuna menenangkannya. Dimasukannya beberapa stel pakaian dan folder berisi dokumen penting, lalu mengemasi laptop ke dalam ransel.
Ayuna agak tersentak kaget ketika diangsurkan tas berukuran kecil berisi barang pribadinya. Saka tadi sudah meminta kepada Bu Sinah kepala ART untuk mengemas baju-baju Ayuna seperlunya.
Saka menuntunnya keluar kamar langsung menuju ke ruang tamu. Di sana sudah pula ada Ayah yang bersandar di kursi jati berhadapan dengan Edwin yang nampak gelisah. Bunda dan Rosmaya tidak terlihat lagi.
“Saka pergi Ayah, Ayuna bekerja di rumah kita atas inisiatif Saka, jadi biar Saka yang bertanggung jawab padanya.” Dibawanya Ayuna duduk di sisinya,
__ADS_1
“Sebaiknya kita pastikan dulu keadaannya Saka, Edwin sudah mengakui bahwa dia khilaf. Masalah Ayuna ini kita selesaikan dengan tenang, kita bisa mengembalikannya kepada keluarganya baik-baik.”
Ayahnya sudah membuat keputusan, tapi Saka pun sebelumnya bisa menebak langkah yang diambil oleh keluarga besarnya pasti bertujuan menyelamat muka dan nama baik keluarga. Tangan dingin dan kekuasaan mereka tak mungkin peka berempati pada nasib Ayuna sebagai korban.
“Baik Ayah, Saka bisa mengerti. Saka hanya mengamankan sementara supaya traumanya berkurang,” ucap Saka lalu bangkit berdiri bersalaman pamit. Sempat diliriknya Edwin yang menunduk seperti pesakitan.
Gadis di samping Saka tidak lagi menangis bersuara, tapi airmatanya yang mengucur tak henti membuat lelaki paling berkuasa di istana kediaman itu memilih diam dan tak mencegah kemauan putranya.
Saka berjalan cepat membawa Ayuna ke mobilnya, meletakkan barang bawaan di Jok belakang dan memasangkan sitbelt di kursi Ayuna. Setelah itu ia menarik napas panjang sebelum menghidupkan mesin dan melajukan mobil meninggalkan istana kediaman keluarganya.
“Kita mau ke mana? Bisakah Tuan mengantarku pulang ke desa?” Ayuna menoleh bertanya. Saka menatapnya sekilas sebelum kembali fokus pada kemudi.
“Kita cari tempat istirahat dulu, tidak mungkin aku berkendara sepuluh jam lebih mengantarmu malam ini.” Saka memilih kata-kata yang tepat, demi menenangkan gadis di sampingnya ini. Untunglah Ayuna bisa menerima tanggapannya. Gadis itu selanjutnya mengunci mulut dengan pandangan kosong ke depan.
Saka merasa lega. Dua jam perjalanan menuju bandara bisa ditempuhnya pada tengah malam seperti ini, mereka akan menginap di hotel terdekat bandara sebelum besok pagi terbang ke Jakarta.
Ada sejumlah upaya yang akan dilakukannya demi kebaikan gadis ini, tapi mengembalikannya ke desa bukanlah solusi. Ayuna yang menjadi korban perkosaan bisa semakin terpuruk bila kebenaran itu sampai terbongkar.
Saka harus memperhitungkan reaksi Tuan Takur bila mengetahui Ayuna kembali, mungkin saja lelaki kejam itu segera menikahinya. Lalu yang terburuk adalah Tuan Takur sampai mengetahui Ayuna bukan gadis suci lagi?
Semua beban ditangungkan oleh Ayuna dan keluarga Uwa Mirja? Hahh, Saka tidak bisa cuci tangan semudah itu, hati kecilnya nenolak.
Bagaimana pun Ayuna akan tetap berada pada rel semula. Gadis ini tidak akan dipulangkannya ke desa, apakah Ayuna menerima keputusan Saka atau menolaknya mentah-mentah?
__ADS_1