Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.16 Pilihan Jalan Hidup Ayuna


__ADS_3

"Di mana kita bisa bicara ?” Ayuna bertanya setelah melihat pagi ini suasana sekitar restaurant hotel dan lobby nampak penuh dengan pengunjung.


“Di pantai? Aku memesan taksi online dulu,” Saka seperti paham maksudnya. Ayuna mengajaknya bicara lebih serius dan mubgkin berhububgan dengan apa yang mereka bahas tadi malam.


Di sekitaran hotel sudah banyak taksi stanby menunggu penumpang, jadi aplikasi segera terhubung dan sebentar saja mobil sudah menunggu di depan pintu lobby.


“Uang sebesar itu bisa digunakan untuk memulai usaha seperti apa?” Ayuna bertanya tapi matanya terus saja memandangi laut di depan sana. Saka yang menemaninya duduk menoleh memindai wajahnya dari samping. Ayuna nampak tenang, sepertinya gadis ini sudah mengambil keputusan.


“Kamu berniat memenuhi tawaran damai Kak Ros?” Saka balik bertanya. Ayuna berpaling sebentar kemudian meluruskan pandangan lagi ke laut.


“Apalagi yang bisa kupilih? Kejadian itu tidak ada faktor kesengajaan, lagipula Aku juga lalai, ketiduran menjaga Kaffi di kamar mereka….”


“Ayuna, Kamu bisa menunda keputusan, maaf kukatakan ini. Maksudku bagaimana bila Kamu hamil akibat kejadian malam itu?”


Sekali ini Ayuna terkejut karena ternyata Saka sampai memikirkan ke situ, melebihi dirinya sendiri.


“Kalau pun aku hamil…..anak itu juga tidak akan diterima. Sudahlah jangan khawatirkan itu dulu.” Ayuna menunduk. Sebenarnya resiko terburuk itu juga menghantuinya, hanya saja tubuhnya mengisyaratkan tak akan ada kehamilan. Sepanjang ingatan yang selalu ditepisnya pada malam itu lelaki pemerkosanya tidak sempat mengeluarkan apa pun di dalam tubuhnya


Saka menghela napas. Sulit memahami perasaan seorang wanita yang sedang terluka dan dihempaskan oleh nasib.


“Tawaran Kak Ros ini menjatuhkan harga diriku, Bang Saka. Tapi aku tak berdaya melawan takdir. Seandainya ada Ibu bersamaku, mungkin lebih mudah melewati semua ini…”


“Aku bersama Kamu Ay…”


“Tidak selamanya aku boleh merepotkanmu” potong Ayuna tersenyum.


Dia sudah menetapkan hati untuk tidak menambah membebani lelaki ini. Cukup sudah yang dilakukan Saka demi dirinya. Lelaki muda ini juga perlu menjalankan rencana hidupnya sebdiri dengan lebih fokus.

__ADS_1


“Bang Saka juga punya kehidupan, apalagi sekarang konsentrasi menjalankan perusahaan. Aku mau belajar mandiri juga, tapi kalau kota Jakarta terlalu keras untukku mungkin setelah beberapa bulan aku balik ke daerah saja.” tutur Ayuna diiringi senyum samar yang membuat Saka sedikit terkesima. Tak dibantahnya lagi perkataan gadis itu.


Sesungguhnya dirinya takjub dengan sikap yang menggambarkan gadis teman masa remajanya itu begitu dewasa dan kuat menghadapi persoalan hidup.


Kemelut yang secara tak langsung melibatkan Saka, seharusnya memang tidak berlarut-larut. Saka hanya perlu tetap memantau Ayuna pulih secara psikis.


Beberapa bulan di Jakarta mungkin sudah cukup melerai trauma yang menyesakkan. Bisa jadi Ayuna mampu memulai hidup baru lagi di daerah, kembali pada keluarganya atau apapun pilihan hidupnya sendiri.


Maka Besok harinya setelah mereka sarapan Ayuna diminta menunggu di ruangan lobby hotel yang luas, sedangkan Saka pergi ke lantai atas menggunakan tangga. Saka mendatangi meja cunter milik travel perjalanan, biasanya tersedia layanan berbayar untuk print out dokumen. Berselang sepuluh menit kemudian lelaki itu sudah kembali ke tempat Ayuna duduk.


Ditunjukkannya selembar surat yang tercetak di kertas putih, Ayuna dimintanya untuk membaca dan bila sudah yakin dapat menandatangani di atas materai.


Judul Suratnya SURAT PERJANJIAN DAMAI, dengan pihak pertama adalah Rosmaya, Pihak Kedua adalah Ayuna, salah satu saksi adalah Saka dan satu nama yang tak di kenal oleh Ayuna.


“Maaf sebelumnya Ay, dananya akan ditransfer ke rekeningku lalu kucairkan untukmu dan Kak Ros minta dibuatkan kuitansi atas namamu walaupun perihal uang tidak ada dalam perjanjian itu.” Saka sebenarnya agak risih bicara tentang dana yang mengiringi persetujuan damai Rosmaya mewakili suaminya dengan Ayuna.


Ayuna meraih pulpen hitam yang disediakan lalu dengan membulatkan hati menandatangani surat itu.


“Kuharap kamu tetap kuat Ay, Abangmu ini akan ada sebagai tempat berbagi atau apapun.Hmhhh?” Saka menggenggam jemarinya dan senyumnya membuat Ayuna lekas menyeka airmata yang jatuh tanpa diminta.


“Sampai hari apa kita di hotel ini⁵? Seharusnya sudah mulai cari tempat kost kan?” dialihkannya topik pembicaraan.


“Promosi kamar ini masih sampai empat hari kedepan, kita bisa lanjut kalau promosinya masih diberlakukan oleh hotel.” Saka diam sebentar seperti sambil memikirkan sesuatu.


“Apartemenku bisa kita tempati sambil sambil cari kost buatmu. Sayangnya bulan depan baru penyewanya keluar, sesuai perjanjian aku harus memberi tahu satu bulan sebelumnya bila menghentikan sewa.”


“Apartemenmu sebesar kamar di sini?”

__ADS_1


“Sedikit lebih besar Ay, dapurnya juga lebih luas dan ada tempat untuk mesin cuci plus pengering.”


“Kita tetap harus cari kos-an, Ayuna kurang nyaman kita tinggal bareng terus. Maafin ya Bang?” Ayuna tersipu tapi ia harus jujur kalau ingin lebih enjoy menikmati hidupnya setelah kemelut ini.


“Aku setuju, seharusnya kita memang tidak begini terus.” Saka tentu saja sependapat dengan gadis itu . Telponnya kemudian berdering, Saka mengangkatnya lalu berbicara dengan sesorang di seberang sana.


“Sebentar lagi kenalanku menemui kita di sini. Siapa tahu dia punya informasi tempat kost yang bisa pilih untukmu” Saka kembali duduk.


Beberapa menit berlalu keduanya asik dengan ponsel masing-masing. Seorang lelaki berjalan mendekati mereka setelah Saka merespon panggilannya di telpon, kedua lelaki itu saling melambai untuk memastikan mereka tak salah orang.


Saka memperkenalkan Ayuna pada lelaki yang dipanggilnya Enggar itu.


" Ini adik sepupuku Ayuna. Sambil nunggu Mas Enggar, tadi kami tadi ngobrol soal nyari tempat kos-an." ujar Saka sambil melirik Ayuna. Tadi malam lewat pesan chat, Saka menyampaikan pada Ayuna bahwa ia akan memposisikan gadis itu sebagai sepupu ketika mereka bertemu dengan kenalan baru.


"Siapa yang nge-kos? Dik Ayuna kah?" Enggar dengan jenaka menirukan logat bahasa daerah yang biasa dipakai sehari-hari. Ayuna tersenyum merasa geli mendengar logat asal daerahnya dibahasakan oleh kenalan Saka itu


"Mas Enggar punya rekomendasi?"


"Saya rumah di Bekasi pinggiran, awal kuliah dulu sih pernah kos di dekat kampus. Setelah itu kuliahnya pp aja, tapi coba browsing aja dulu beberapa pilihan nanti tinggal disurvey sekali jalan bisa selesai."


"Nah itu..! Sarannya sangat berguna. Baru selanjutnya kita obrolin soal pkerjaan."


"Lebih nyaman kita ngobrol di luar saja, Saya punya tempat representatif buat minum kopi makan sambil bahas proyek,"


Saka setuju dan meminta Ayuna pergi bersama mereka. Ayuna tak punya pilihan selain mengekori saja kedua lelaki itu. Untuk beberapa waktu dirinya harus membiasakan identitas sebagai sepupu Saka dalam tanda kutip, seperti instruksi Saka padanya.


Kota megapolitan ini sebenarnya tak peduli juga dengan apa pun, siapa saja di kota ini sibuk sendiri-sendiri, tak saling mengurusi orang lain. Meski demikian hubungannya dengan Saka lebih nyaman disebut seperti itu ketika mereka berinteraksi dengan orang lain selama di Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2