Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab. 26 Ketika Saka Merasa Tak Rela


__ADS_3

Saka kembali ke Jakarta dengan mengantongi kontrak kerja senilai ratusan milyar rupiah. Hatinya yang sumringah membuat tak pikir panjang ketika Enggar mengusulkan Ayuna istirahat di Bekasi, di rumah ibunya.


Setelah seminggu berlalu, Ayuna minta waktu bertemu dan mengemukakan rencana yang mengejutkan lelaki itu.


"Sebagian deposito bisa kucairkan untuk modal usaha kan Bang Saka?" begitu Ayuna membuka percakapan. Wajahnya terlihat bersemangat, keluhan penyakit maag dan vertigo sepertinya sudah tidak ada.


"Tentu saja Ay! Memangnya Kamu sudah punya rencana?" sambutnya antusias, tak mengira secepat ini Ayuna bangkit dari keterpurukan nasibnya.


"Aku browsing beberapa buku tentang ide-ide usaha kecil, juga usaha online, yang sekiranya bisa dijalankan. Semua pilihan ada kelebihan-kekurangannya, selain ada faktor ketersediaan modal, SDM dan pengembangan ke depan...."


Saka terpaku mendengar Ayuna bicara dengan begitu lancar, tapi dirinya memilih diam saja menyimaknya.


"Ini Bang Saka, Aku sudah bikin matriknya setiap pilihan usaha dengan kisaran modal pertama, trus juga potensi berhasil dan hambatannya."Ayuna mengangsurkan ponselnya, menunjukkan file berisi ringkasan dalam file exel.


Saka menerimanya setengah tak percaya, sudah demikian detailnya step pemikiran Ayuna untuk memulai usahanya.


"Kamu sudah yakin dengan ini?" Saka mengerutkan kening, lebih mencermati uraian dalam baris matrik yang dishading dan dibold.


Jenis usaha yang tertera dalam file antara lain kuliner offline, kuliner online, depo air minum, depo sembako, Outfit remaja beserta asesorisnya dan salon kecantikan. Pilihan Salon kecantikan yang diwarnai sehingga menunjukkan itulah prioritasnya.


"Iya, Kalau Bang Saka setuju secepatnya aku akan ditemani oleh Erika adiknya Mas Enggar survey tempatnya untuk di sewa."


Jawaban Ayuna membuat Saka semakin terpaku. Hahh! Ternyata ada Enggar di balik semua ini?


Saka cukup terkejut dalam satu minggu saja, partner kerjanya itu sudah mampu menunjukkan kepiawaiannya sebagai tutor bagi Ayuna!


"Gimana? Bang Saka mendukung nggak?" Ayuna menuntut tanggapannya. Saka terdiam sesaat.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bahas lagi besok? Aku ada janji ketemu kolega, semoga dapat kontrak baru." Saka berdalih untuk memberi waktu dirinya sendiri memutar otak.


"Iya deh, Aku tinggal menunggu pendapat Abang. Yang lainnya akan dibantu oleh Erika dan Bu Naima, " Ayuna mengucapkan itu tanpa menyadari lelaki yang sedang bersamanya menjadi lebih waspada.


Satu langkah atau dua langkah dirinya tertinggal? Saka ingat Enggar lah yang menemani Ayuna di rumah sakit lalu berinisiatif membawanya ke Bekasi. Demi mempertimbangkan keluhan vertigo yang di alami Ayuna, tentu saja Saka tak keberatan sama sekali. Bahkan dirinya merasa sangat terbantu, Ayuna jatuh sakit bersamaan dengan titik kritis berjuang memperoleh goal kontrak kerja.


"Kenapa memilih buka usaha di Bekasi Ay? Di Jakarta kan potensi berkembangnya lebih luas?"


Saka jadi penasaran sejauh mana Enggar menggiring opini Ayuna. Baru sekedar wacana atau kah sudah demikian matang rencana yang disodorkan pada gadis ini?


"Sewa tempatnya lebih murah kan? Selain itu calon pekerjanya sudah tersedia, Yayasan yang di kelola Bu Naima memiliki beberapa orang yang sudah mengikuti pelatihan perawatan kecantikan. Kita tinggal mencari satu atau dua orang yang senior dan berpengalaman," Ayuna menjawab dengan lugas.


Rahang Saka mengeras dan tanpa disadari tangannya mengepal kuat.


Perkataan Ayuna menyimpulkan keraguannya, delapan puluh persen Ayuna sudah merumuskan rencananya dengan bantuan pemikiran Enggar. Berarti sekarang tersisa dua puluh persen adalah pendapatnya yang sedang ditunggu oleh gadis ini.


Dua hari kemudian baru lah gadis itu dijemputnya di kos-an dan melajukan mobil menuju kawasan perkantorannya. Di gedung berlantai sepuluh itu, mereka tidak naik ke lantai lima di mana kantornya berada.


Saka membawa Ayuna ke area yang berada satu lantai dengan lobby gedung, ada beberapa plat yang digunakan untuk kafe mini yang menjual aneka minuman ringan dan snack, apotik dan kantor sebuah agen perjalanan.


"Kamu akan buka salon kecantikan dan spa di sini," ucapnya dengan pasti. Ayuna tentu saja terbeliak.


"Ini mahal Bang Saka!" desisnya sembari menutup mulut. Sepasang matanya masih membulat merasa tak masuk akal dengan pilihan Saka.


"Mana cukup tabunganku, belum lagi modal untuk beli alat dan bahan perawatannya!?"


"Aku tertarik ikut menanam modal, jadi sewa plat ini sudah kubayar untuk enam bulan!"

__ADS_1


Saka membiarkan Ayuna bingung, gadis ini tak perlu tahu bagaimana ia berjibaku mengambil langkah cepat dalam dua hari ini.


"Bagaimana kalau usahanya nggak sesuai ekspetasi? Ini... kurang cocok untuk pemula seperti aku," Ayuna menggigit bibirnya merasa serba salah menerima dukungan Saka yang sebesar ini.


"Sudah lah Ay, kita lounching saja secepatnya. Nanti kamu bisa ambil kursus managemen atau teknik pemasaran buat mikir pengembangannya. Kalau sudah empat bulan dijalankan baru ditinjau lagi, ?" Saka tersenyum menatap wajah gadis yang dua hari ini hilir mudik di benaknya.


Sungguh masalah donasi atau investasi yang senilai ratusan juta pun tak dipusingkannya daripada harus merelakan Ayuna menjauh darinya.


Ayuna yang berniat membuka usaha di Bekasi sama halnya merentangkan jarak terhadap dirinya. Sementara Saka mengetahui persis Ada sosok Enggar yang mendukung penuh di sana.


Sekelumit kesadaran akhirnya muncul membayangi pikiran Saka, bahwa Enggar memiliki perhatian khusus pada Ayuna. Lelaki normal pasti akan tertarik pada kecantikan dan pembawaan Ayuna yang menarik.


Seharusnya Saka merasa lega jika Ayuna didekati oleh lelaki sebaik Enggar, tapi pada kenyataannya perasaan lah yang berbicara.


"Aku tak bisa jauh darimu Ay," hatinya yang berucap demikian, sedangkan tindakannya berwujud upaya untuk mengalihkan keinginan Ayuna tanpa mematahkan semangat hidupnya!


"Sekarang coba telpon Mas Engg, setelah ini apa step selanjutnya? Apa Erika tetap mau bantu menyiapkan target lounching sambil bolak-balik dari Bekasi ke sini?"


Saka mencoba mengurai kebingungan Ayuna, ditekannya nomor Enggar di folder telpon dan menyerahkan ponsel ke Ayuna begitu terdengar suara Enggar menyahut.


Saka membiarkan Ayuna berbicara dengan leluasa, kakinya melangkah menuju kafe mini dan memesan minuman botol dingin. Dari jarak tidak terlalu jauh itu masih bisa mengamati Ayuna yang bercakap dengan Enggar di sambungan telpon.


Saka berusaha menghadirkan pikiran positif bahwa usaha Ayuna akan bisa berkembang di sini. Gedung berlantai sepuluh ini, sebagian terdiri dari plat-plat yang sebagian besar digunakan sebagai unit kantor berbagai macam badan usaha.


Ratusan karyawan beraktivitas setiap harinya dan sangat terbuka peluang Ayuna memperoleh pelanggan diantara mereka yang sehari-harinya merasan penat bekerja tanpa perlu pergi jauh mencapai spot pelayanan perawatan dan rileksasi tubuh.


Ayuna bisa menjalankan usahanya dalam pemantauan Saka yang berkantor di lantai lima. Poin terpentingnya itu sudah melibatkan perasaan, sayangnya saat ini Saka tak bisa berbuat lebih dari sekedar membayangi Ayuna.

__ADS_1


Perasaannya ini tak bisa didefenisikan dalam bentuk hubungan selain pertemanan seperti yang mereka jalani. Latar belakang keluarga Saka dan tragedi yang dialami oleh gadis itu akibat perbuatan iparnya sendiri, seolah benteng yang menjulang tinggi membatasi dirinya dan Ayuna!


__ADS_2