Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.22 Ingin Bertemu Ibu


__ADS_3

Pesan yang dikirim Ayuna baru centang satu, belum dibaca. Ayuna mendapat giliran break pada jam delapan malam , barulah gadis itu punya kesempatan mengabari Saka.


“Gimana, capek ya?” Aris menyapanya sambil menyerahkan porsi makan malam yang sudah dibagikan untuk para relawan. Sejak mereka datang tadi Aris tidak terlihat karena ikut ke lini depan bencana, membantu tim SAR menyisir korban di antara reruntuhan.


“Kamu yang kelihatan capek, Aku kan bantu di sini saja,” balas Ayuna sambil memperhatikan penampilan Aris yang sudah lusuh berdebu.


Selanjutnya bersama-sama relawan lain mereka mulai menyantap nasi kotak dan air mineral, makan seadanya tapi dirasakan sangat nikmat di tengah kondisi posko bencana yang memberi kesan iba keprihatinan.


“Rumah kediaman keluarga kakek nenekmu juga terkena gempa?” Ayuna bertanya begitu teringat keluarga Aris juga tinggal di sekitar lokasi bencana.


“Sebagian besar dinding rumah retak, rangka atap juga peyot-miring. Tidak aman lagi buat ditinggali,” jawab Aris tak bisa menyembunyikan kesedihannya, apalagi ia melihat dari dekat dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah warga yang terkena gempa kondisinya begitu parah.


Aris juga menceritakan duka yang lebih besar sangat terasa karena tangisan dan jerit histeris mereka yang kehilangan anggota keluarga.


"Di posko juga banyak saksi mata yang menyampaikan kerusakan dan banyaknya korban jiwa," Ayuna menanggapi sambil teringat pada situasi posko beberapa jam ini.


Bagi Ayuna dampak bencana gempa bukan hanya ditontonnya melalui berita online dan media sosial. Hari ini berbagai versi kesedihan didengarnya langsung dari para saksi yang datang ke posko bantuan.

__ADS_1


Walaupun tak menyaksikan di tempat kejadian tapi siapa pun yang piket di posko bisa merasakan penderitaan mereka yang terkena musibah. Laporan dan cerita kasus korban gempa yang masuk ke posko cukup memberi gambaran separah apa gempa yang mengguncang kali ini.


“Besok kakakku datang menengok keluarga yang kena musibah. Kamu sekalian saja lusa ikut pulang di mobil kakak ,” ujar Aris lagi. Ayuna menoleh heran.


“Kenapa begitu? Shift kita kan sampai hari sabtu, kok aku di suruh pulang hari Kamis?”


“Aku khawatir kamu sakit. Di posko ini suasananya kurang kondusif . Niat Kamu bantu-bantu sudah terealisasikan? Buat pengalaman pertama cukuplah dulu,” Aris beralasan yang masuk akal.


Ayuna diam saja mempertimbangkan. Selama berapa jam di posko memang sudah terasa bagaimana sulitnya mau BAK dan BAB karena toilet selalu penuh dan harus jalan agak jauh mencari alternatif lain. Belum lagi kondisi posko yang minim udara segar, terasa sesak oleh cuaca berdebu dan gerah oleh hilir mudik banyak orang yang singgah di posko.


“Kamu maksimalkan aja bantu di sini sampai besok sore. Kakak singgah ke sini malamnya atau dini hari supaya bisa menghindari macet masuk Jakarta.” Aris beranjak setelah memberi saran demi kebaikan gadis itu.


Benar kata Aris, untuk pengalaman pertama jadi relawan, dirinya harus bisa mengukur kemampuan fisik dan tenaga jangan sampai drop justru merepotkan panitia.


Ayuna pulang bersama kakak Aris dan suaminya, ada juga satu orang keluarga mereka yang diboyong ke Jakarta. Sepanjang malam perjalanan dengan mobil baru setelah hari terlihat terang di pagi hari mereka memasuki batas kota.


Ayuna diantarkan ketempat kost, gadis itu pun segera saja mandi lalu bersalin pakaian dan menjatuhkan diri di tempat tidur.

__ADS_1


“Mbak…..! Mbak….!” Ayuna membuka matanya yang terasa berat, entah setelah berapa jam dirinya tertidur. Seluruh badannya terasa sakit-sakit. Suara gedoran pintu masih terrdengar di antara panggilan Mbak Retno pengurus rumah kost.


Gadis itu bangkit dengan sempoyongan mencapai pintu dan membukanya. Nampak wanita berumur empatpuluhan tahun dengan wajah khawatir.


“Aduhhh, kiraian Mbak pingsan! Sepanjang hari nggak keluar kamar, itu si Aris dari tadi nanyain apa Mba Yuna baik-baik saja?” berondong Retno yang sudah berpuluh kali memanggil dan mengetuk pintu. Hampir saja ia lapor ke bapak induk kost minta didobrak saja pintu kamarnya.


“Maaf Mba, Aku kecapekan tidur nggak kebangun. Sekarang jam berapa ya?” Ayuna terbeliak melihat jam dinding di kamar, masa sudah pukul empat sore? Huffh. Pantas saja Mbak Retno jadi panik karena ia tak bangun-bangun hampir delapan jam!


Ayuna bergegas merogoh ponselnya di dalam tas. Daya baterainya sampai tersisa 5% saja, Hedeuuh. Dicoloknya charger sambil mengaktifkan layar ponsel, banyak sekali notifikasi pesan dari Saka dan Aris.


Baru saja beberapa kalimat diketiknya membalas pesan Aris, ada rasa menusuk yang menyerang perut hingga Ayuna meringis kesakitan. Perutnya lantas terasa kram dan mulai sulit menarik napas. Peluh dingin mulai merembes di pelipis, gadis itu sekarang bergelung di lantai kamar menahan rasa sakit yang semakin tak tertahankan.


Ayuna memandang ke arah jendela dan sinar matahari yang mengenai matanya justru membuat kepalanya terasa berputar, pening luar biasa. Dicobanya merubah posisi tubuh dan menggeser layar ponsel mencari nomor Mbak Retno. Akibat sedikit bergerak itu, sekarang kepalanya jadi semakin pening dengan pandangan terus berputar.


Kenapa bisa begini? Ayuna menutup mata sambil merasakan sakit yang terus menusuk di bagian perut. Dicobanya merangkak bangun ke tempat tidur menghindari rasa dingin lantai keramik yang meresap di kulit, tapi sekali lagi akibat bergerak bangun itu kepalanya semakin terasa berputar.


Ibu….! Ayuna gemetar memanggil wanita yang sangat di rindukannya dan airmata terasa mengalir ke pipi. Di antara rasa sakit yang mendera , gadis itu hanya bisa mengingat wajah Bu Midah, ibunya yang hampir delapan tahun belum ditemuinya lagi.

__ADS_1


Aku belum mau mati sebelum bertemu Ibu, desis Ayuna sebelum dirinya benar-benar tak sadarkan diri.


__ADS_2