Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.25 Keinginan Enggar


__ADS_3

Enggar mendorong kursi roda perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Ayuna yang tadi sempat protes sekarang dibawanya menuju ruang terbuka hijau di dalam area gedung pelayanan medis.


“Kenapa pakai kursi roda?” Ayuna mengerutkan kening merasa aneh ketika diminta duduk pada alat bantu untuk pasien itu.


“Lho, dari pada nanti oleng trus jatuh? Akibatnya bisa fatal, Saka bisa memecatku lho Dik?” Enggar berdalih tak mau kalah. Akhirnya Ayuna menurut dengan bibir sedikit manyun.


Pagi tadi dokter memperbolehkannya untuk bersantai di taman, mengingat pemyakit Ayuna bukan tertular virus atau semacamnya jadi masih aman untuk berinteraksi di luar ruangan perawatan. Dan Enggar malah berinisitatif lebih agar gadis itu tidak perlu berjalan, siapa tahu Ayuna malah semakin pusing terkena cahaya di luar. Menurutnya kursi roda adalah pilihan terbaik, daripada harus menggandeng gadis itu dengan sungkan.


“Aku sudah izin ke Ibu, kamu boleh rehat di rumah Bekasi bila sudah diperbolehkan rawat jalan.” Ucap Enggar setelah mereka dapat lokasi yang agak teduh. Sinar matahari pukul lima sore tidak terlalu meyengat lagi.


“Nanti merepotkan Ibunya Mas Engg, Ayuna di kos-an saja.” Elak Ayuna halus.


“Wah, riskan malah itu Dik! Kamarmu di lantai dua kan? Di kamar sepanjang hari bisa suntuk, untuk keperluan makan walaupun pesan online, tetap harus bolak­-balik ngambil ke bawah toh?”


Ayuna terdiam sedikit ragu, mengingat kejadian waktu pertama menginap di Bekasi. Dirinya malah jadi bahan godaan kaum ibu yang berkegiatan di rumah bu Naima, ibunya Enggar.


“Saka pasti memperbolehkan, biar nanti Aku yang bicara padanya.” Enggar mengira Ayuna menghawatirkan tanggapan sepupunya itu.

__ADS_1


Lelaki dewasa seperti dirinya bisa membaca cara berpikir Saka, perhatian Saka pada Ayuna merupakan bukti tanggung jawab sebagai keluarga. Tiga bulan yang lalu pun Saka yang memintanya untuk meluangkan waktu menemani Ayuna yang masih asing di kos-an dan tidak mengenal sama sekali kota Jakarta.


“Ayo, di makan…” Enggar sekarang malah menyuapi sepotong buah. Ayuna merasa jengah dimanjakan seperti itu, membuka mulut dengan sedikit malu menerima potongan buah untuk di suap. Buah yang kemarin dibawakannya oleh lelaki ini diminta kupaskan ke perawat sebelum di bawa mereka nikmati di taman ini.


“Erika pasti sangat disayangi oleh kakak-kakaknya ya? Erika kan anak bungsu, pasti suka dimanja ya Mas Engg?” Ayuna berucap tentang adik lelaki itu untuk mengalihkan rasa jengahnya, tetapi justru memancing Enggar untuk menggodanya.


“Dik Yuna juga boleh bermanja, tidak harus jadi anak bungsu seperti Erika” sahutan Enggar membuat kulit wajah Ayuna merona. Sejurus tertangkap olehnya sorot mata Enggar seakan mengunci di balik senyum lebarnya itu.


“Ayo katakan…..mau minta apa? Kalau bermanja itu biasanya karena ada sesuatu yang diinginkan?” Enggar melanjutkan candaannya, senang bisa berhasil membuat Ayuna lebih rileks sore ini. Semoga tak ada hujan air mata lagi.


“Ah, Enggak…! Aku nggak kepengen apa-apa” Ayuna menggeleng malu.


Perlakukannya tentu saja membuat Ayuna terhibur, seingatnya tiga bulan lalu Saka juga mengurusinya seperti ini. Sejalan waktu di mana perusahaannya mulai berjalan, maka lelaki yang memposisikan diri sebagai kakaknya itu pun hampir tak punya waktu lagi. Komunikasi mereka lebih banyak lewat pesan di aplikasi hijau atau telpon singkat.


Dua kali perjalanan ke Banua untuk mengejar pembelajaran ofline juga dilewati dengan sedikit ketegangan, karena Ayuna masih trauma kembali ke kota itu. Tetapi metode Pendidikan Paket mengharuskannya minimal bebrapa kali hadir di forum kelas tatap muka.


“Bagaimana sekolah lanjutanmu,DIk?” pertanyaan Enggar seolah bisa membaca isi pikiran gadis itu, Padahal hanya kebetulan saja karena Enggar melihat Ayuna kembali terdiam melamun.

__ADS_1


“Masih tersisa satu kali pembelajaran tatap muka dan ujian, setelah itu diriku bebas” sahut Ayuna spontan.


“Maksudnya bebas itu gimana, Dik?” Enggar mengerutkan kening mendengar bentuk kelegaan yang diungkapkan Ayuna.


“Eh, maksudku kalo selesai, setelah itu aku kan bisa balik ke desa. Gitu lho mas Engg,” Ayuna juga gelagapan kelepasan bicara.


“Begitu ya?” Enggar menahan diri tak bertanya lagi, walaupun sikap Ayuna memancing rasa penasarannya. Biar lah gadis ini pulih terlebih dahulu, tak ingin terlalu agresif menanyakan soal masa depan atau semacamnya.


Percakapan mereka juga disela oleh telpon seseorang yang menghubungi Ayuna, Enggar membiarkan saja gadis itu menjawab telpon. Lelaki berusia tigapuh tahun itu tentu saja mampu bersabar tidak bereaksi apa-apa, walaupun interaksi Ayuna di telpon terdengar cukup akrab.


“Itu tadi Aris Mas, temanku yang tim relawan. Dia menanyakan bagaimana kondisiku setelah dirawat di sini.”Ayuna sendiri yang menjelaskan siapa lawan bicaranya barusan.


Enggar hanya tersenyum dan mengangguk. Rupanya Ayuna juga memiliki penggemar lain, batinnya mencandai diri sendiri.


Sore ini Enggar tak segera pulang, melainkan menunggu sampai dokter kunjungan untuk kontrol di sore atau malam hari. Lelaki itu berniat mendengarkan langsung hasil observasi dokter terhadap kondisi Kesehatan Ayuna.


Entah kenapa naluri Enggar mendorongnya untuk menggantikan peran Saka bila memang lelaki yang memimpin perusahaan itu terlalu sibuk.

__ADS_1


Keinginan Enggar seperti halnya Saka yang berkomitmen menyelamatkan masa depan Ayuna. Hanya saja, Saka mengetahui persis permasalahan gadis itu, sedangkan Enggar hanya bisa mengintip ke ruang hati Ayuna.


Mendengar pengakuan sedih Ayuna yang bertahun-tahun merindukan sosok ibundanya, Enggar bisa merasakan gadis itu memendam hati yang di dera kekosongan dan rindu akan kasih sayang.


__ADS_2