
Braaakkk! Kemarahan yang meluap disalurkan dengan menendang kursi bulat hingga terjungkang. Saka kini berteriak marah di ujung teleponnya dengan Rosmaya.
“Kenapa harus ada surat perjanjian segala Kak Ros? Kalau niatnya mau melunakkan hati Ayuna atau bentuk permohonan maaf Kalian, harusnya tidak perlu menuntut apa-apa lagi pada gadis itu!”
Senyap tak terdengar lagi percakapan Saka dengan siapa pun lawan bicaranya di seberang sana. Perlahan Ayuna bergerak dari balik pintu yang setengah terbuka, melanjutkan langkahnya masuk. Tampak Saka duduk meremas rambutnya, sepertinya sedang berpikir keras.
“Surat perjanjian apa yang harus kusetujui, Bang Saka?” Saka terkejut mendengar pertanyaan itu.
Bukannya ia meminta gadis ini pergi ke bawah mengecek laundry mereka pagi tadi. Secepat ini dia sudah Kembali ke kamar. Padahal Saka juga meminta pesankan pizza salad di angkringan depan hotel? Seharusnya Ayuna menunggu di sana dan perkiraan waktunya cukup untuknya bicara telpon dengan kakaknya Rosmaya.
“Tidak perlu dibahas, Kamu tidak akan sependapat dengan mereka.” Tolak Saka.
“ini Fizza Saladnya,” Ayuna mengambil piring lebar yang tadi siang mereka beli bersama seperangkat alat masak, meletakkan di meja bar.
Ada rasa penasaran terhadap sepenggal pembicaraan yang sempat ditangkapnya tadi, tapi segan mengusik Sakaa yang seperti masih mengatur emosi.
Ayuna masuk ke kamar, termenung mereka-reka apa gerangan yang membuat Saka begitu marah sampai menendang kursi. Dirinya lah penyebab lelaki itu berkonflik dengan keluarganya, seandainya bisa Ayuna pun tak mau berada pada posisi ini.
Bunyi pesan masuk di ponselnya, Ayuna mengambil benda pipih itu dan matanya membulat di laman pesannya muncul pertanyaan dari Herdi
Yuna, apakabarnya Kamu?
Baik, Kamu gimana Di? Kok bisa online? < Ayuna>
__ADS_1
Setahu Ayuna desa mereka itu sulit sinyal ,hanya bisa hubungan telepon atau sms.
Aku ikut pelatihan di kabupaten Yun, Kamu betah kan di kediamannya keluarga Bang Saka?
Begitu lah. Aku titip salam buat Uwa Mirja dan Uwa Ratna ya ,
Oke
Sesaat kwnudian Herdi tak lagi online, mungkin sibuk dengan pelatihannya
Berbalas pesan singkat dengan teman sekampung mengingatkan pada keluarganya dan desa pesisir mereka membuat hati Ayuna terasa lemah.
Hidupnya dibuat tak berdaya oleh orang-orang kaya, semacam Tuan Takur yang berkuasa di wilayah desa-desa perkebunan sawit dan Keluarga Saka yang pengusaha besar itu.
Pesan masuk lagi, kali dari Saka
Kita bicarakan apa yang barusan Kamu dengar
Ayuna memutar kunci kamar dan membuka pintu kamar. Saka nampak menikmati Salad Pizzanya, sudah habis separuh.
“Itu tadi Kak Ros, Aku marah memutus telponnya” ucap Saka begitu Ayuna sudah duduk di hadapannya.
“Kak Rosmaya mau memberi santunan untuk Kamu, semacam penyelesaian damai secara kekeluargaan. Syaratnya Kamu bersedia tandatangan surat yang menyebutkan bahwa tidak akan ada tuntutan hukum lagi dari pihak korban.”
__ADS_1
Saka menyampaikan dengan bahasa yang cukup jelas, tetap saja Ayuna tidak tahu harus seperti apa menanggapinya.
“Keluargaku tidak tahu kita di Jakarta. Mereka pikir Aku mengantarmu ke desa dan memintaku memediasi masalah ini.” lanjut Saka
Ayuna masih diam, menunggu lelaki muda itu melanjutkan. Saka mendorong piring salad ke depan gadis itu, lalu berdiri mengambil botol air mineral yang tersusun di kitcten set dapur.
“Kalau mereka mengetahui Kita di Jakarta, pasti Kak Ros akan menyusul dan memaksa Kamu menandatangani surat itu. “
Sekarang Saka memperlihatkan gambar layar pada ponselnya yang menampilkan sebuah format surat. Lelaki itu memperbesar tampilan layar dan membiarkan Ayuna membacanya.
Isi surat memuat bahwa kedua belah pihak menyadari adanya kelalaian dan dalam keadaan khilaf hingga terjadi pelecehan, selanjutnya bersedia berdamai tanpa paksaan dan tidak akan ada tuntutan hukum atau tindakan penyebaran nama baik dikemudian hari terhadap masing-masing pihak.
Di bawah surat itu,tertulis sederet pesan Rosmaya bahwa ia menyiapkan dana mencapai dua ratus juta, setara harga sebuah rumah type sederhana atau mencukupi untuk modal usaha.
"Aku minta maaf untuk sikap keluargaku, dalam hal ini Bunda juga membujukku agar mau bicara padamu," Saka mengucapkan dengan tulus dan menyesal. Kenapa uang seolah bisa menyelesaikan masalah?
Ayuna semakin diam tenggelam dalam pikirannya. Bagi Rosmaya dan suaminya memberi uang damai dengan nilai mencapai ratusan juta itu, cukup untuk nilai kesucian dan harga dirinya yang terenggut. Semudah itu mereka menganggap masalahnya selesai, tak berbekas, tak perlu berkepanjangan.
Sedangkan Ayuna, bahkan dengan uang sebanyak itu, dirinya belum tentu diterima lagi di keluarga dan lingkungannya. Bisa jadi hutang keluarganya bisa dilunasi, tapi bila si tuan tanah bersikeras mengawininya lalu mendapati gadis yang tidak lagi perawan, kembali dari kota membawa uang sebanyak itu. Bukankah hanya fitnah keji yang bisa ditujukan pada Ayuna ?
"Tidurlah dulu Ay, tidak harus dipikirkan malam ini. Dan Kamu berhak menolak kemauan kakakku.” Saka menyentuh tangan gadis itu sekilas, menyentak Ayuna dari kecamuk pikirannya. Mereka berdua bersitatap sesaat, sebelum Ayuna mengangguk menuruti saran lelaki muda itu.
Ayuna gegas berdiri dan masuk ke kamar. Entah kenapa dirinya merasa tatapan Saka tadi sedang mempertanyakan sikapnya walau tidak mendesak jawaban secara langsung.
__ADS_1
Gadis itu duduk memeluk kaki di sisi tempat tidur. Pada siapa lagi dirinya bisa berbagi duka? Hanya ada Saka yang memperlakukannya seperti seorang adik. Hanya sikap saka yang bisa menghargainya, apakah Ayuna harus meminta pemikirannya juga sekali ini?
Menerima tawaran jalan damai itu seperti menutup kasus ini, ada baiknya karena pihak keluarga Saka tidak akan mengungkit-ungkit lagi. Ayuna menyudahi kebimbangannya sendiri.