
Benarkah tak ada jalan untuk kembali pulang ? Aku tak mampu lagi menumpahkan air mata, hanya rasa sakit saja yang semakin menusuk ke dalam. Ucapan Saka itu adalah kebenaran, bagaimana bisa kuabaikan?
Hutang yang entah berapa puluh juta ditebus dengan gadis yang tak lagi perawan, Tuan Tanah yang kejam itu pastilah murka. Uwa Mirja dan Uwa Ratna yang selama ini merawatku sebagai pengganti orangtua, hanya rasa malu kah yang bisa kupersembahkan bila nekat kembali ke desa?
Klek. Pintu kamar terbuka. Saka masuk mengambil tas kecil berisikan tiga lembar pakaianku.
“Kita pergi sekarang atau tiket akan hangus, berarti Aku harus memesan ulang,” Saka ikut duduk di tepi ranjang hotel, kurasakan tatapannya menyapu sisi wajahku.
Tanpa bersuara aku melangkah ke toilet untuk membasuh muka di wastafel dan ketika kembali ke kamar, kulihat tubuh tinggi tegap itu bersandar di dekat ambang pintu.
“Kenapa aku ikut harus ke Jakarta?” lontarku setelah kami melaju ke arah bandara. Pelarianku dari desa di balik perkebunan sawit ke kota Banua sudah terasa sangat jauh, sekarang harus berapa ribu kilometer lagi untuk menghindari kenyataan pahit hidupku ini.
“Dengarkan Ay, bukannya Aku yang berjanji pada Uwa Mirja bertanggung jawab terhadapmu? Pekerjaan di Jakarta memang sudah kususun jauh sebelum hari ini, dan kalau sekarang Kamu tetap di kota ini, Kamu tahu akibatnya? Pekerjaanku jadi terbengkalai, aku tak akan bisa membagi waktu dan pikiranku dengan baik.” Saka menjawab tenang, sekilas kutangkap lirikannya memindai responku lagi.
“Aku bingung harus ngapain di kota sebesar itu…”
“Kamu kan bisa menemaniku, Kita bisa sambil jalan-jalan menikmati ibukota hehe…Dan oh ya! Kamu bisa tetap melanjutkan paket belajarmu dari jarak jauh. Kamu tahu kan metode belajar Daring? Pas pandemi covid tahun kemarin semua sekolah melaksanakan pembelajaran dalam jaringan.” Saka mengganti topik bercanda nya begitu melihatku mendelik.
Aku hanya terdiam. Kenapa lelaki ini selalu punya jawaban atas kebingunganku?
Di area bandara yang sangat luas beratap tinggi, aku tentu saja merasa sangat canggung karena pertama kali menjejakkan kaki.
__ADS_1
Tak bisa kutolak ketika Saka meraih lenganku untuk digandengnya, jujur saja perasaan gugup berkurang oleh sikapnya yang terkesan sangat melindungi itu.
“Pasang sabuk pengamanmu seperti ini,” lelaki muda itu membimbingku dengan memberikan contoh. Ada rasa menusuk di perut manakala pesawat meluncur naik yang kulihat sekilas dari bingkai kaca di sisi tubuh Saka. Menurut Ompa nya Kaffi ini, penerbangan ini hanya membutuhkan waktu satu jam setengah.
Kaffi? Ya Tuhan, kenapa wajah imut putri bu Rosmaya jadi terbayang? Aku memejamkan mata dengan kuat ingin menghalau kilasan kejadian buruk yang menghadirkan wajah suami bu Rosmaya. Dadaku berdebar keras lagi merepon pikiran yang kembali pada tragedi itu.
“Ay, tenanglah. Aku ada di sini.” Saka kini melepaskan genggamannya pada telapak tanganku dan lengannya bergerak melingkari bahuku, sedikit ditekannya sisi badanku agar mendekat ke arah tubuhnya.
“Ibu….”Aku tergugu menahan tangis menderas, berusaha mengganti rekaman di benakku dengan sosok wanita yang sangat kurindukan itu.
“Ssst Ay, kita sedang di pesawat. Nanti Ibu yang disampingmu bingung melihatmu menangis” Saka berbisik di telingaku.
“Coba tarik napas biar lega,” Saka masih berbisik lagi dan kucoba menurut dalam pelukannya. Kuhadirkan senyum ibu dan belaian sayangnya bila menidurkan ku, karena sejak kecil ibu selalu tidur bersamaku hingga berumur sebelas tahun dan ayah membawa ku ke desa jauh di pesisir pantai.
Astaga! Jadi hampir satu setengah jam dia membiarkan posisi kami seperti itu? Aku reflek menarik tubuhku dengan kulit wajah terasa memanas. Mataku yang berat tak karuan tidur tadi malam pasti membuatku tertidur sangat nyenyak.
“Kita makan siang di hotel saja ya, jam segini kita sudah bisa cek in.” Sebelah tanganya memegang tanganku dan sebelah lagi membawa koper yang beroda. Dengan ransel tersampir di punggung, lelaki muda ini terlihat juga lelah.
Aku baru teringat dia menempuh empat jam penerbangan perintis ditambah perjalanan darat ke kota kelahirannya, lalu kemudian membahas pekerjaan dengan ayahnya. Dan sepanjang malam tadi Saka menyetir dan mengurusi persoalanku saja!
Kesalahan apa yang pantas kulimpahkan kepadanya?
__ADS_1
Aku sedikit tercengang ketika kami sudah cek in hotel dan diantar oleh petugas ke kamar. Tipe kamar yang dipilih Saka sangat luas dengan satu kamar tidur dan ruang duduk di lengkapi set sofa berlapis kulit. Tersedia dapur mini dan teras berpagar teralis besi hitam.
“Setelah kita makan, kamu istirahat lah di kamar itu. Aku di sini saja." Saka meletakkan ranselnya di ujung sofa.
“Maaf Ay, aku sengaja memilih kamar model begini supaya kita mudah komunikasi saja. Sebenarnya di Jakarta ini ayah sudah memberiku serta ketiga kakakku masing-masing satu unit apartemen. Tapi sementara kita di sini dulu.”
“Kamu kunci saja pintu kamarnya, tapi sebentar lagi pesanan makan siang kita di antar.” Saka berucap lagi meyakinkan diriku yang masih duduk terpaku di kursi meja makan sejenis bar kecil.
Kamar yang tersedia sangat nyaman, di samping tempat tidur ada meja kecil dan lembar berwarna entah apa. Kugapai remote tivi dan menekan tombol hijau.
Pada layar datar itu muncul promosi kamar yang ditawarkan hotel ini. Type kamar yang kami tempati ini cocok untuk keluarga kecil karena fasilitasnya lengkap untuk menginap beberapa hari.
"Ay, kita makan dulu baru istirahat." Saka memanggil dari arah pintu.
Kami makan tanpa saling bicara dan Saka makan dengan cepat. Begitu selesai dan mencuci tangan lelaki itu langsung merebahkan diri di sofa. Aku yang mengemasi alat makan dan meletakkan ke meja beroda. Sesuai pesan Saka kudorong troiler meja ke depan kamar, nanti petugas akan mengambilnya.
Melihat Saka terlelap, aku pun masuk ke kamar karena tubuhku pun meminta diistirahatkan tapi ternyata mataku sulit terpejam.Lintasan kejadian buruk itu kembali membayang nyata dan menghujamku menyakitkan! Rasa takut, jijik dan tak berharga, silih berganti memenuhi ruang hatiku.
Kenapa hidup demikian kejam padaku? Seolah tak pantas diri ini di tolong oleh malaikat sebaik Saka, maka di dalam rumah keluarganya pula aku dihinakan oleh iparnya.
Saat ini berada dalam naungan tanggungjawabnya, aku jadi merasa sebagai beban. Saka pasti tidak pernah membayangkan niat baiknya jadi kenyataan yang jungkir balik begini. Kenapa memaksakan diri membawaku ke Jakarta, apa yang bisa kuperbuat di kota seasing ini?
__ADS_1
Saat ini rasanya hanya pelukan ibuku yang bisa meredakan semua ini. Seandainya kutahu di mana keberadaan ibu, maka di sana lah tempat terbaikku?
Ibu.....Ayuna membutuhkan ibu, hatiku berbisik pilu.