
Penerbangan Jakarta ke ibukota provinsi berlanjut menggunakan penerbangan perintis ke kota kabupaten, dicapai dalam waktu empat jam termasuk rentang waktu di antara dua jadwal penerbangan tersebut.
Saka sudah menyiapkan dengan seksama walaupun acara yang digelar cukup sederhana mengundang saksi kedua belah pihak dan orang tua pengantin.
"Ibu, ini Ayuna. Maafkan Saka belum mengenalkan pada Ibu sebelum ini." Saka, bahkan meminta ibu kandungnya datang memberi restu.
Walau pun terkejut karena begitu mendadak dan tertutupnya hajatan nikah putranya, wanita itu tetap berbahagia. Ayuna dipeluknya hangat dan terharu mengingat dia pernah mengenal Bu Midah, ibunya Ayuna.
Saka meminta waktu berbicara empat mata dengan Uwa Mirja, sebelum pernikahan di langsungkan.
Dan Ayuna, hampir satu jam MUA lokal yang merias flowless wajahnya sekaligus membawakan set gaun pengantin yang di pesan oleh Saka.
" Saya nikahi dan kawini Ayuna Raflianti binti Harlansyah, dengan maskawin tersebut Tunai!" Akadnya sekali ucap dan langsung di sambut oleh saksi dengan sahutan SAH!
Cipung yang menjadi salah satu saksi datang bersama istrinya, wanita itu lah yang menuntun Ayuna untuk duduk bersanding dengan Saka. Cincin kawin milik ibunya yang disematkan oleh Saka disusul Ayuna yang mencium punggung tangan suaminya serta kecupan Saka di keningnya.
"Yuna, Uwa bahagia melihatmu Nak. Walau pun setelah ini suamimu langsung membawamu pergi lagi..." Uwa Ratna menangis memeluk keponakannya. Walaupun pernikahan ini kesannya tidak mewah dan tidak dipublikasikan tetap saja lebih baik daripada Ayuna dikawini si Tuan Takur.
"Lihat Uwa, Yuna sudah punya usaha salon kecantikan dan spa di Jakarta." Ayuna berusaha menyenangkan hati wanita yang sudah seperti ibunya juga. Uwa Ratna terbeliak melihat foto-foto yang ditunjukkan.Lekas ia memanggil Herdi agar mendekat.
"Di, nanti foto Yuna yang ini dicetak juga bareng foto nikahan tadi ya?" pesannya. Herdi tersenyum mengiyakan sembari melirik ke arah Ayuna. Pemuda kader desa itu turut berbahagia meski awalnya kaget diminta Saka memfasilitasi adanya pernikahan ini.
Malam harinya di hotel tempat menginap, berganti ibunya Saka yang terkaget-kaget sambil mengelus dada mendengar penuturan putranya. Saka menceritakan sejak dirinya membawa Ayuna dari desa lalu tragedi di kediaman Banua.
__ADS_1
"Saka perlu waktu mengokohkan hubungan kami berdua. Ibu, mohon jangan salah paham kenapa Saka minta pernikahan ini tidak perlu diketahui oleh siapa pun."
Ibundanya memandangi Saka serta Ayuna yang menunduk. Saat memulai hidup baru anak dan menantunya pasti membutuhkan doa dan dukungannya.
"Iya Nak, Ibu sudah senang Kamu mau memberitahu Ibu dan mengundang hadir ke sini. Yang penting kalian baik-baik, Kamu jaga Ayuna. Kalau nanti Ayuna hamil, biar Ibu ke Jakarta menengok kalian ya?" sang ibu justru berharap segera dihadiahi cucu yang akan disayanginya sebagai pengganti Saka semasa kecil sudah diambil oleh ayah kandungnya.
Rasanya Ayuna tidak ingin balik ke Jakarta, di sini ibu mertua dan Uwa Mirja serta Uwa Ratna menyayanginya, tapi bagaimana pula usaha salon kecantikan dan Spa yang baru dua bulan berjalan?
"Kenapa melamun? Sudah tidak sabar ke Jakarta dan bertemu penggemarmu hm?"
Dasar Saka, sifat posesive nya muncul melihat gadis itu melamun. Ayuna melempar bantal sambil menekuk muka.
Tak disangkanya akan menemui karakter Saka yang berbeda dari selama ini dikenalnya. Lelaki ini dibalik sikap tenangnya menyembunyikan rasa ego dan cemburuan tingkat dewa.
"Pergi lah ke kamar Ibu, beliau ingin ngobrol sebentar dengan mu Ay, besok kita sudah berpisah di bandara transit." Saka teringat akan pesan ibunya.
Senyaman ini dengan ibu kandung suaminya, Ayuna teringat pada sosok elegan Bunda Saka di kediaman yang bak istana.
"Bulan depan kata Saka kamu datang lagi buat ujian paket ya Nak, nanti menginap di rumah Ibu ya?" ibu mertuanya mengutip informasi dari Saka.
"Kenapa Ibu tidak ikut kami ke Jakarta?" Ayuna bertanya balik, melintas begitu saja seandainya mereka bisa tinggal bersama.
Jawaban wanita yang melahirkan suaminya itu masih senada, bahwa beliau akan berkunjung ke Jakarta bila Ayuna mengandung dan melahirkan cucunya.
__ADS_1
Ayuna tak tahu apakah dirinya berharap demikian atau tidak, percakapan Saka pada Ibunya masih tertancap di benak Ayuna. Saka yang menghendaki pernikahan ini tidak perlu diketahui siapa pun selain mereka yang hadir hari ini.
Sampai kapan akan disembuyikan? Apakah setelah menjadi istri Saka, Rosmaya tetap akan menganggap Ayuna sebuah ancaman bagi rumahtangganya dengan Edwin? Atau justru Saka yang sungkan memperistri wanita yang pernah dilecehkan oleh iparnya sendiri?
Ayuna meracau sendiri dalam hatinya. Obrolan dengan mertuanya jadi hinggap begitu saja lalu disahutinya dengan tidak jelas. Akhirnya tertidur dengan sendirinya, bahkan Ayuna jadi bermimpi bertemu Bu Midah, ibu kandungnya.
"Ay, Kenapa jadi tidur dengan Ibu?" Sudah waktu shubuh ketika Saka mendatangi. Sambil berbisik diraupnya tubuh Ayuna yang terus saja terlelap. Ibu Saka hanya bisa tersenyum menyaksikan putranya menggendong sang istri keluar kamar.
Meski gemas karena Ayuna tidak kembali ke kamar tadi malam, Saka tak tega menghempaskan tubuh istrinya itu ke ranjang. Wanita itu malah dibaringkan dengan hati-hati.
Wajah nan cantik dan semakin terawat itu dipandangi lekat. Sebagai pemilik salon kecantikan dan Spa, selama dua bulan ini Ayuna merefleksikan dan mempromosikan bisnis pada tubuhnya sendiri.
"Bagaimana bisa kubiarkan pria lain yang memetikmu Ay, Kamu itu dari awal adalah produk-ku. Aku yang menemukanmu di desa dan membawamu hingga ke Jakarta " Saka bergumam sedikit jumawa.
Saka mendekatkan wajah, meniadakan jarak hingga ciuman lembutnya menyesap bibir Ayuna. Setengah bermimpi Ayuna membalas, rasanya berbeda dengan saat kebersamaan mereka sebelumnya.
Ayuna mengalungkan lengannya ke leher suaminya, bibirnya seperti candu hingga terus saja mempertahankan mulut mereka beradu. Tidak ada dominasi Saka seperti sebelumnya.
Baru setelah lelaki itu mengganti wilayah invasinya ke leher dan dada, terasa ritme yang meningkat. Ayuna membuka mata dan pulih dari setengah kantuknya.
"Isssh....Abang stop, kita di kamar ibu." Matanya memutari sekeliling, suasana kamar hotel yang sama menjebak kesadarannya. Ayuna tak sadar tubuhnya sudah berpindah ke kamarnya sendiri.
"Bang Saka...berhenti ! Malu dilihat ibu, " Ayuna yang setengah memberontak itu justru memantik Saka mengganti gaya mencumbunya
__ADS_1
"Ibu sudah pindah kamar, aku izin tadi." dalihnya menghentikan debat Ayuna. Tangan lekaki itu menjelajah dan meremas, disertai bibir yang mencium dan mengisap.
Kalau sudah seperti itu Saka seolah sedang menandai jejaknya diseluruh tubuh istrinya. Saka mau menghujamkan memori memenuhi benak wanitanya bahwa dirinya lah yang memiliki Ayuna dan tak ada kesempatan Ayuna untuk berpikir mendambakan laki-laki lain !