Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab. 27 Tragedi dan Terluka


__ADS_3

Saka menekan bel dimejanya memanggil Tyas, tak berapa lama karyawannya itu muncul ke ruangan.


"Tyas, kamu bisa split lagi berkas invoice ini? buat persheet sesuai kapasitas metrik-ton nya ya, operasional curve sekalian juga sore nanti!" diserahkannya setumpuk dokumen, lalu beranjak mendahului keluar ruangan.


Saka melirik arloji sambil memasuki lift turun untuk keperluan makan siang, begitu lantai lift menghentak halus ke lantai dasar ternyata pintunya mengalami stag**n terbuka hanya seperempat saja. Celah pintu lift tidak bisa meloloskan tubuh Saka, akan tetapi mampu menghadirkan pemandangan ke arah plat yang menjadi etalase Salon kecantikan dan Spa milik Ayuna.


Gadis itu sedang tersenyum renyah pada seorang pria yang dikenalinya. Bahasa tubuh Enggar dan bagaimana cara Ayuna menatap pasangan bicaranya, seketika menimbulkan gemuruh di dada Saka. Aliran darahnya meningkat dengan sangat cepat naik ke kepala hingga membuat pandangannya terasa nanar.


Lift masih mandeg, dan Saka harus menyaksikan bagaimana Enggar mengulurkan lengannya menawarkan diri menggandeng Ayuna!


Sialan! Sebelum kakinya berhasil menendang, pintu lift terbuka penuh. Saka bergegas keluar mencapai mobil di parkiran, setelah duduk di jok kemudi lelaki itu mengusap kasar wajah dengan maksud mengusir tontonan mesra yang baru saja terjadi di depan matanya.


Hahhh! Apakah dirinya tertinggal selangkah -dua langkah lagi? Enggar sepertinya melanjutkan niatan hatinya untuk mendapatkan hati Ayuna!


"Kau keberatan atau mendukung penuh bila Aku berniat mendekati Ayuna ?" beberapa hari yang lalu Enggar melontarkan pertanyaan itu. Sebagai sesama laki-laki dan menempatkan Saka semestinya, Enggar memilih terbuka menghargai Saka sebagai sepupu gadis yang disukainya


Sudah dibulatkannya hati pada usia yang sudah seharusnya menetapkan pilihan teman hidup, Enggar merasa mantap dan berharap Saka bisa membukakan jalan memuluskan ikhtiarnya.


"Ayuna masih dalam tanggung jawabku, masalah yang dihadapinya masih riskan." Saka menjawab dengan kaku.Terlanjur mengakui status hubungan keluarga dengan Ayuna, membuat Saka tak bisa langsung menggebrak meja mematahkan maksud Enggar.


Pembicaraan mereka tidak berlanjut, Enggar berpikir Saka terlalu hati-hati menyikapi tanggung jawabnya menjaga Ayuna. Terobosannya melalui Saka agaknya kurang tepat. Lebih baik mengalir saja dengan pendekatan yang efektif, toh Ayuna sekarang sehari-hari berada dalam gedung yang sama dengannya.


Dan hari ini Enggar berhasil membujuk Ayuna mau di ajak makan siang berdua saja.


Sementara itu Saka melajukan mobil dengan emosi masih membuncah. Kecemburuannya tak bisa disamarkan lagi. Terbukti, darahnya mendidih mendapati Ayuna mulai semesra itu dengan lelaki lain.


"Saka...Kamu sendirian di sini? Ayo gabung ke meja kami!" Seorang gadis menyapa ketika lelaki itu menyantap makan siangnya tanpa selera. Saka mengikuti tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Di ruangan ekslusif yang tersedia, beberapa wajah dikenalinya ketika masih bekerja di daerah. Saka memilih bergabung tanpa fokus apa-apa, hanya menghabiskan waktu meredakan aliran darahnya. Mereka bukan teman dekat, tetapi komunitas pengusaha muda bersifat cair ketika di antara mereka merasa penat butuh teman bicara atau sekedar minum kopi bersama.


Tak cukup bagi Saka beberapa jam di sana mengenyahkan gejolak darahnya, pelariannya berlanjut ketika satu-dua orang teman menyebut sebuah pub sebagai tujuan berikutnya.


Wajah Ayuna, Enggar, Edwin dan Rosmaya silih berganti berkelebatan di kepala Saka, sama halnya dengan hingar bingar suasana serta silau lampu dalam pub membentuk konfigurasi yang memusingkan.


Entah berapa botol ditenggaknya, Saka yang hanya mengenal minuman beralkohol pada taraf pemula, sempat memanggil nomor telpon sopir di kantor untuk menjemputnya.


Tubuhnya sudah agak oleng ketika sopir membukakan pintu mobil bagian depan. Saka tidak menyadari di jok belakang Ayuna memperhatikannya dengan khawatir. Dengan mata terpejam Saka merasakan mobil melaju menembus malam kota Jakarta menuju apartemennya.


Lelaki itu juga mengira yang menggandeng setengah memapahnya memasuki apartemen adalah sang sopir, di dalam kamar tubuh laki-laki itu berakhir di ranjang.


Agak susah payah Ayuna membalik tubuh Saka, melepaskan ikat pinggang dan sepatu serta kaus kakinya. Setelah itu dibiarkannya Saka berbaring telentang dan gadis itu melangkah keluar mengambil baskom kecil kemudian mengisi dengan air di wastafel.


Dengan handuk kecil yang ditemukan di lemari, Ayuna menyeka wajah Saka dan juga melepaskan arlojinya. Ia mencoba membantu Saka merasa lebih nyaman tanpa mengetahui penyebab lelaki itu menenggak alkohol.


"Non Ayuna saya jemput Pak Saka dulu, apa mau ikut sekalian atau dijemput lagi setelah saya ngurus Pak Saka?"


Ayuna tak pikir panjang langsung ikut mobil menjemput Saka, tidak tega membuat sopir harus bolak-balik lagi melayani Saka dan dirinya.


Ternyata Saka dalam keadaan mabuk, Ayuna memutuskan mengurusnya terlebih dulu dan menyuruh sopir pulang saja setelah mereka memapah tubuh Saka ke tempat tidur.


"Ay.. ? Kamu di sini,?" Saka membuka kelopak matanya dan mendapati wajah khawatir seorang gadis duduk di tepi ranjang menunggui.


"Bang Saka kenapa? Kok jadi begini?" Ayuna mendekat dan segera saja bau alkohol menguar ketika wajahnya menunduk dan diterpa napas lelaki itu.


"Hmmhh...? Kamu yang buat aku seperti ini," Saka bergerak dan detik berikutnya Ayuna sudah ikut terbaring berada dalam pelukannya.

__ADS_1


Menyadari Saka sedang mabuk, gadis itu menahan dirinya sesaat sebelum berusaha melepaskan tangan Saka yang melingkari pinggangnya.


"Bang Saka, lepaskan...Arrghh" Ayuna malah ditarik dan dipagut dengan ketat. Tubuh Saka berbalik menindih dan wajahnya menunduk mengikis jarak.


Entah kenapa Ayuna tak bisa menolak ketika bibir Saka menyentuh bibirnya lalu menciumnya. Keterikatan hampir lima bulan ini, serta nalurinya mengenali Saka sebagai laki-laki yang senantiasa menjadi penolongnya, bagai hipnotis yang membuatnya tak segera mengelak.


Ciuman Saka menjadi semakin intens menerima respon gadis yang dicintainya. Sayangnya pengaruh Alkohol lebih dominan dan menuntun Saka jadi menginginkan lebih dari sekedar ******* bibir Ayuna.


Berikutnya gadis itu berusaha berontak ketika wajah Saka menyuruk ke lehernya dan membuat gigitan-isapan di sana. Kedua lengan Saka kini melingkari punggung Ayuna, menguncinya dan kembali ******* bibirnya.


"Abang....jangan!" Ayuna memohon ketika tubuhnya kalah tenaga tak bisa melawan.


Penolakan itu direspon oleh syaraf yang sudah teracuni alkohol, Saka menangkapnya sebagai sikap Ayuna yang memilih laki-laki lain selain dirinya.


Rasa marah yang bercampur hasrat, mengintruksikan tubuh Saka untuk menaklukkan gadis dalam pelukannya. Bersamaan dengan itu rasa cinta membuatnya mampu bersabar menghadapi setiap gerakan memberontak tubuh Ayuna yang berupaya melepaskan diri.


Ayuna hampir menyerah, berharap Saka berhenti setelah puas menciuminya. Jeritannya tertahan ketika Saka menarik kasar pakaian dalamnya, Ayuna merasa napasnya memburu tak mampu bertahan pada sepasang mata hitam Saka yang menatapnya lekat dengan wajah yang semakin dekat lalu ******* bibirnya lagi.


"Ay... Aku ingin bersamamu," sebutan nama yang dibisikkan itu, hanya Saka yang memanggilnya demikian. Saka dalam keadaan mabuk, tapi sadar dengan siapa dia bergulat.


"Abang....kumohon," suara Ayuna tertelan sendiri, Saka sudah mengambil posisi akan memasukinya. Ayuna merasa gelap bersamaan ingatannya yang kembali pada kejadian malam itu di kamar tidur orang tua Kaffi.


Dan Saka tak bisa menghentikan lagi agresinya, hasratnya menuju satu titik. Memiliki Ayuna sebelum ada laki-laki lain merebut gadis ini darinya.


Ayuna tak sepenuhnya pingsan ketika Saka menderanya, inti tubuhnya terasa sakit tapi lebih nelangsa lagi hatinya. Saka menghendaki dirinya dalam keadaan mabuk minum alkohol!


Dan lelaki bernama Saka Guna yang dalam pengaruh minuman keras, terus bergerak di atas tubuh gadis yang dicintainya. Tak segera menuntaskan, ada keinginan mereka mencapai kepuasan bersama.

__ADS_1


Hati kecilnya mengatakan setelah ini Ayuna pasti membenci dan menjauh, maka malam ini biarlah Ayuna mengingatnya seperti ini.


__ADS_2