Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.9 Kabar Buruk Setelah Kabar Baik bagi Saka


__ADS_3

Saka kini berada di ruangan kerja ayahnya


“Kamu sudah ambil keputusan”? laki-laki berumur enampuluh tahun itu langsung ke poin pembicaraan begitu putra bungsunya datang. Saka mengambil tempat di sofa hitam yang berada di ruangan kerja itu setelah menyalami ayahnya. Melihatnya mengangguk mantap baru lah ayahnya beranjak dari kursi kerja dan duduk bersisian dengan Saka.


“Saka tidak akan terlibat di pengusahaan tambang, Saka mau ambil bidang angkutan kargo. Selain itu juga kapal untuk supply BBMnya,”


“Kita belum merintis ke arah itu, butuh memahami spesifikasi dan pasaran yang stabil. Kamu harus dari nol mencari buyer! Provider eksisting cukup loyal, sulit mencari celah di situ!” tukas sang Ayah


“Justru itulah selama dua tahun ini Saka bekerja dengan orang lain, bukankah tujuannya untuk menambah wawasan dan peluang koneksi?” Saka mempertahankan niatnya. Semakin pengusaha berpengalaman selevel ayahnya ini meragukannya, di situ pula ia semakin gigih. Ternyata tantangan dimulai dari meyakinkan ayahandanya.


Ayah Saka diam mencerna ucapan putranya. Selama hampir dua tahun ini Saka berkeras tidak mau langsung menerjuni usaha tambang keluarganya. Justru bersaing mencari peluang kerja di salah satu grup perusahaan yang menaungi usaha tambang, transportasi, pertanian dan supplier BBM.


Ayahnya berpikir jiwa petualang Saka yang mendorongnya ingin bebas, tak mau terbebani lebih awal di masa mudanya. Namun ternyata dibalik kepergiannya putra bungsunya bertujuan untuk ekplorasi dan menelusuri jejaring koneksi.


“Ayah masih meragukanku? Kalau begitu biarkan Saka menambah jam terbang atau mungkin mau ambil S2 dulu,” cetus Saka di tengah kesunyian yang menyergap mereka.


“Tidak perlu, Nak! Pengalaman bisa kamu cari sambil berproses memulai usaha dan yang penting adalah keberanian. Termasuk berani mengambil risiko.”sang Ayah menegakkan posisi duduknya.


Sebelum melanjutkan kalimatnya telpon berdering dan nama yang muncul di layar ponsel membuat laki-laki paruh baya itu memberi kode pada anaknya untuk menunggu. Saka ikut mengeluarkan ponselnya, memantau berita online sambil memberi jeda ayahnya menerima telpon.

__ADS_1


“Itu tadi Bunda Kamu, penerbangannya dari jakarta pukul sepuluh malam ini. Bunda menemani Kak Ros ke Jakarta untuk ngisi butiknya, ” Ayahnya meletakkan telpon ke meja dan lanjut menatap Saka.


Lelaki muda itu hanya mengernyitkan dahinya. Setahunya dua wanita itu sudah lama tidak hunting barang untuk butik. Semenjak Kaffi lahir mereka hanya menerima barang sesuai update produsen yang dikirim dan di sortir untuk beberapa etalase yang dimiliki kakaknya.


“Kamu sudah estimasi mau start berapa unit untuk tongkang dan tugboad nya? Setelah ini hubungi pa Syarif Akuntan kita, katakan padanya berapa kebutuhan investasi awalnya? Apakah kita perlu menambahkan platform kredit bank atau harus menjual sebagian saham perusahaan?” tanya sang ayah mengambil sikap. Saka terkejut, ternyata ayahnya serius mendukung langkah besarnya ini.


“Siap Ayah, nanti finalnya setelah ke pa Syarif , kita diskusikan lagi. Terimakasih Ayah memberi Saka kepercayaan,” Saka memeluk terharu laki-laki yang sangat mengharapkannya bisa meneruskan jejak sebagai pengusaha. Selama ini ketiga kakak iparnya dan saudara kerabat lah yang berada di sekeliling beliau mengarungi kerasnya dunia usaha pertambangan.


Saka langsung pulang ke kediaman mereka untuk rehat, rumah bak istana itu terasa sunyi ketika Bunda dan Rosmaya tidak ada. Si kecil Kaffi dan Ayuna pun tak terlihat, Saka mengayunkan langkah ke kamarnya.


Bukannya istriahat, lelaki muda itu lantas segera menghidupkan laptop, membuka file profil usaha yang sudah disiapkannya. Dalam pikiranya ayahnya dan mungkin pemegang saham mayoritas lain perlu menyimak presentasinya terlebih dahulu sebelum mereka setuju mendukungnya. Pada kenyataannya ayahnya lah yang memegang saham terbesar, dan saat ini Saka tahu pihak perbankan sangat menunggu-nunggu proposal pinjaman atas nama besar ayahnya itu.


Entah jam berapa ketika lelaki muda itu terbangun oleh gedoran pintu kamar, sejurus kemudian sosok Ayuna menerobos ke arahnya sambil menangis tergugu.


“Antarkan saya pulang , Tu-tuan? Saya mau pulang …hiks hiks hiks” Ayuna sudah bersimpuh di sisi tempat tidur dengan bahu terguncang oleh tangis.


“Ay, Kamu Kenapa?!” Saka menurunkan kaki hingga duduk di sisi tempat tidur, kedua lengan gadis itu di pegangnya memposisikan tubuh semapai Ayuna berdiri menghadapnya. Dari luar terdengar jeritan tangis Kaffi memanggil Ayuna, Saka memandang ke arah pintu tapi tak nampak tubuh mungil keponakannya itu menyusul masuk.


“Ay, kamu bisa tenang dulu di sini. Itu si Afi panik nyari Kamu!” selanya kini mencoba mendudukkan Ayuna di kursi dekat tempat tidurnya. Gadis itu terus menangis dan Saka memilih melangkah cepat memastikan keadaan keponakannya terlebih dahulu. Di depan kamar Rosmaya, Saka menatap tajam pada Edwin yang sedang menenangkan putrinya. Insting Saka terhadap kakak Iparnya itu, membuatnya berteriak menggelegar

__ADS_1


“Apa yang terjadi, Ed?! Kenapa Ayuna histeris minta pulang?”


Edwin hanya menoleh sebentar, wajahnya terpihat pias tapi tak membuka mulut. Saka urung mendatangi suami Rosmaya karena Kaffi masih saja menangis seperti ketakutan.


Pemuda itu berbalik kembali ke kamarnya, di sana Ayuna masih sesegukan dengan kedua telapak tangan menutup wajah. Kali ini Saka mendekat dan ia yang bersimpuh menarik telapak tangan Ayuna, menatapnya lembut untuk menyalurkan rasa aman. Walaupun dadanya sendiri bergemuruh, entah kenapa.


“Ay, bisa ceritakan padaku, apa yang terjadi?”


“Saya yang salah Tu-tuan, Saya mau pulang saja…” suara Ayuna pelan lalu tercekat lagi di tenggorokan. Wajahnya pias dan sepasang mata hitamnya menunjukkan ketidakberdayaan.


“Iya tidak apa-apa, tapi ceritakan dulu kenapa kamu seperti ini?” Saka menggenggam telapak Ayuna, mencoba meyakinkan.


“Saya…saya dipekosa Tuan, Saya…Huuu” tangisnya pecah lagi dan Saka terperangah. Tubuhnya terhenyak duduk hingga genggaman tangannya terlepas dan Ayuna kembali menutupkan tangan ke wajah yang basah oleh air mata.


Pikiran Saka terasa membeku. Tidak Salahkah pendengarannya? Ayuna diperkosa oleh siapa....? Saka tersentak berdiri, pikirannya terpaut pada sosok Edwin di kamarnya tadi. Suami Rosmaya itu seperti menampilkan wajah seorang penjahat yang tertangkap basah.


Saka merasakan jantungnya seperti dipalu dengan darah yang mendidih naik ke kepala. Lelaki itu terpaku menatap Ayuna dengan rasa berkecamuk jadi satu. Kedua lengannya terulur menggantung hendak merengkuh gadis di hadapannya untuk meniadakan tangis, tapi instingnya mengingatkan saat ini Ayuna sedang trauma. Sentuhannya bisa salah dipahami akan menambah runyam.


Saka berada dalam realita yang menyesakkan. Baru saja sore ini ia menerima berita baik atas rencana masa depan, lalu sekarang harus dikagetkan dengan kabar buruk ini. Ayuna gadis yang diselamatkan dari kawin paksa, justru di perkosa di rumahnya sendiri!

__ADS_1


__ADS_2