Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.33 Hamil Ketika Ingin Pergi


__ADS_3

Tiga bulan setelahnya, dalam frame waktu yang sama. Ayuna kembali membawa langkah ke lantai dimana kantor Saka berada. Sangat jarang Ayuna mendatangi sang suami di kantornya jika bukan karena sesuatu yang penting atau spesial.


Ada sesuatu yang tak sabar ingin disampaikan sejak pagi tadi ketika seperti biasa Saka sudah lebih dahulu berangkat kerja. Sedangkan Ayuna lebih santai karena  Beuty of Rules Salon & Spa baru membuka pelayanan pada jam sembilan pagi.


Lalu pada jam makan siang pun Saka belum juga membalas pesannya yang ingin makan siang berdua, sampai akhirnya Ayuna memaklumi bahwa Saka pasti terlalu sibuk hingga mengabaikan pesannya.


Tiga unit plat yang merupakan tempat beraktivitas Saka dan seluruh karyawan perusahaan  sudah kosong pada menjelang pukul sepuluh malam ini, pintu ruangan kerja Saka  tidak tertutup rapat.


Ayuna mendorong perlahan dan sepasang matanya terpaku oleh pemandangan di dalam. Seorang gadis duduk pada meja bundar untuk rapat internal,  menghadap arah pintu di mana Ayuna berdiri terpaku, sedangkan Saka dalam posisi berdiri membelakangi pintu terus saja menikmati aktivitas yang begitu  masyhuk sehingga tak menyadari sudah ada orang ketiga di sana.


Mencium seorang wanita di kantornya, mungkin suatu yang sangat berbeda dan menggairahkan bagi Saka sehingga kepekaannya tumpul terhadap situasi sekitar, dan gadis dalam pelukannya terlampau hanyut pula dibuai ciuman yang menggelora.


Ayuna mengerjapkan mata berkali-kali, berharap kejadian di depan matanya itu tidak nyata. Lebih dari satu menit cuplikan asmara itu terekam dalam memori netranya, tapi juga akan begitu merasuk melekat di benak Ayuna sebagai bukti bahwa Saka sudah menghianatinya!


Ayuna sudah tak tahan ketika hendak membalikkan tubuhnya, lengannya menyenggol sesuatu yang menimbulkan bunyi di keheningan ruang. Aktivitas kedua insan itu buyar karenanya.


“Ay…?!” Saka terperanjat mengenali sosoknya, tapi kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya membuat lelaki itu memilih tak jadi mengejar.


“Siapa dia? Kok bisa punya akses ke sini?” Raditha mengemas rambutnya yang sedikit berubah tatanannya.

__ADS_1


“Nngg…itu adiknya Mas Enggar. Mungkin mencari kakaknya,” sahut Saka asal dan tentu saja bukan yang sebenarnya.


Di balik pintu Ayuna yang tadi sempat berharap Saka segera menyusulnya, kini tergugu.


Saka tidak jujur menyebutkan identitas Ayuna di hadapan wanita cantik itu. Sama seperti Saka belum juga mengakui di hadapan keluarganya bahwa sudah memperistri Ayuna Raflianti secara siri.


Ayuna merasa kosong dan setengah melayang dalam ayunan kakinya turun ke lantai dasar lalu mencapai mobil di parkiran. Pa Burhan sudah setengah tertidur menungguinya.


“Pak, kita ke apartemen.” ucap Ayuna begitu duduk di jok belakang. Dengan cepat disekanya ujung mata dan mencoba bersikap biasa. Pa Burhan bisa memantau lewat kaca spion dan tak perlu sampai curiga.


Sepanjang perjalanan ke apartemen, kelebatan adegan tadi membayang mengoyak perasaaannya, hadir silih berganti dengan pikiran  Ayuna yang kini sudah menjadi serpihan yang tak berbentuk.


Satu saja yang diinginkannya sekarang, menjauhi Saka Guna Ramadhan. Lelaki yang sudah hampir enam bulan menjadikannya istri tapi tak juga mau mengakui kebenaran itu secara utuh.


 Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, Raditha menyimpulkan bahwa Saka sudah kehilangan mood bersamaanya. Gadis itu menengarai bahwa adanya gangguan kecil tadi lah  penyebabnya, tanpa mencurigai lebih dari itu.


“See you tomorrow,” kecupannya mendarat di bibir Saka lalu mendahului keluar ruangan kerja itu.


Selang beberapa menit kemudian Saka pun melesat pergi, menyusul turun lalu menuju mobil di parkiran. Sejak kepergok tadi dirinya tidak bisa berpikir jernih lagi untuk sekedar menyuruh Raditha segera pergi meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Saka hanya berusaha fokus mengemudi, sudah terjadi apa yang seharusnya tidak terjadi. Dan sudah pula disaksikan oleh mata kepala istrinya sendiri!


Di apartemen Saka tidak menemukan Ayuna, beberapa kapstok pakaian tampak teronggok di tempat tidur menandakan Ayuna sempat berkemas dengan cepat sebelum pergi entah ke mana.


Saka meremas kepalanya yang terasa berat. Tak mungkin menyusul istrinya atau membujuknya lewat telpon, berdebat di tengah tangisan istrinya yang mungkin saja saat ini sedang marah sekali.


Saka meraih ponselnya lalu mengetik beberapa pesan singkat, lalu meletakkan benda pipih itu begitu saja di tempat tidur.


Dibawanya langkah ke kamar mandi dan tertegun mendapati satu kemasan  yang sudah terbuka di sisi wastafel. Sesaat Saka mengenali kemasan alat medis itu dengan kurang yakin. Ayuna menggunakan testpack untuk menguji kehamilan?


Lelaki itu bergegas mencuci muka dan segera kembali meraih ponsel ketika teringat sesuatu. Ada beberapa pesan Ayuna pada pagi dan siang hari tadi, hanya menyampaikan ingin bertemu. Sangat jarang Ayuna meminta waktu seperti itu, biasanya istrinya lebih bersabar menunggu mereka bertemu di apartement baru menyampaikan apa yang dimaksudkannya.


Mungkinkah? Saka hanya bisa menduga Ayuna ingin bertemu untuk menyampaikan berita kehamilannya pada dirinya, sang suami!


Saka mengembuskan napasnya dengan kasar, ponsel istrinya tidak di aktifkan. Hah! Kemana Ayuna melarikan kekecewaannya pada menjelang tengah malam begini?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2