Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.11 Kamu Boleh Membenciku, Ayuna


__ADS_3

Ketika mereka singgah mengisi perut di sebuah rumah makan yang buka 24 jam, jarum arloji berada pada 01. 10 Wita dini hari. Dengan hati-hati Saka menyampaikan maksudnya pada gadis itu.


“Visum? Aku….Aku tidak paham,” Ayuna menggeleng bingung. Wajar gadis desa sepertinya tidak familiar dengan istilah medis itu.


“Kita periksa di rumah sakit untuk memastikan keadaanmu Ay, tidak lama dan tidak sakit. Mau ya?” Saka membujuknya lembut, karena masih tak mengerti Ayuna hanya mengangguk saja.


Nasi di piring hampir tak disentuhnya karena selera makannya lenyap oleh trauma kejadian beberapa jam lalu.


Ayuna mengakui dirinya bodoh dan lalai, kenapa sampai ketiduran di kamar majikannya. Kronologisnya si kecil Kaffi merengek minta ditemani. Bu Rosmaya akan pulang tengah malam nanti, jadi ia tak tega membiarkan bocah itu tidur sendirian.


Siapa sangka ternyata kamar yang tidak terkunci memudahkan Edwin suami majikannya masuk dan berbuat tidak senonoh pada saat Ayuna terlelap.


Tubuh lelaki itu sudah menindihnya dengan pakaian tersingkap sepinggang ketika Ayuna tersadar. Ayahnya Kaffi bahkan membekap mulutnya manakala Ayuna berteriak sambil memberontak. Tenaga yang dikerahkan untuk melepaskan diri dari serangan tak mampu melawan kekuatan lelaki biadap yang sudah dirasuki hasrat birahi.


Ayuna merasa bagian bawah tubuhnya sakit didesak tanpa ampun, sebelah tangannya ditindih oleh salah satu tangan kekar Edwin, dengan tangan satunya lagi lelaki itu membekap mulut Ayuna. Gadis itu menggunakan satu tangannya yang terbebas menggapai ke sana kemari, mencakar sisi wajah suami Rosmaya. Lalu juga berhasil melempar guling hingga melayang menimpa tubuh Kaffi yang sudah dipindahkan ayahnya ke Kasur cadangan di karpet lantai.


Kaffi yang terkena guling terbangun dan menjeritkan tangis menyaksikan pertarungan di atas ranjang. Di saat itulah Edwin tersadar dan menarik tubuhnya dari Ayuna. Seketika pula Ayuna mendorong sekuat tenaga dan tergopoh keluar kamar. Respon bawah sadarnya mendorong kaki Ayuna melangkah cepat menuju kamar Saka.


“Ay, kita sudah sampai di rumah sakit” Ucapan Saka membuyarkan lamunan gadis itu. Saka turun terlebih dahulu lalu memutari mobil dan membukanya. Diulurkannya tangan menuntun Ayuna turun, lalu membawa melangkah menuju IGD rumah sakit.


Saka yang berbicara kepada dokter jaga, sementara Ayuna diminta duduk di bangku besi di dalam ruangan IGD. Tak lama lelaki itu menggandengnya keluar ruangan dan mengajak bicara di luar ruangan IGD.


“Ternyata untuk visum kita harus menunjukkan pengantar dari penyidik kepolisian. Ayuna, apakah kau ingin mendapatkan bahan laporan tindakan pelecehan Edwin tadi? Kita harus pergi ke….”

__ADS_1


“Tidak perlu, Tuan! Kenapa ini diperpanjang lagi? Saya sudah cukup sakit hati….” tangis Ayuna meluncur lagi, disentaknya genggaman tangan Saka dan menggeser tubuh menjauh.


Pemuda itu jadi tercenung, sepertinya Ayuna salah paham pada dirinya. Mungkinkah ia yang terlalu naif sampai mengusulkan tindakan visum ini? Padahal selain Ayuna, Edwin pun sudah mengakui kejadian pelecehan, hanya saja tidak diketahui separah apa akibatnya secara medis bagi gadis ini.


“Baiklah aku minta maaf, kita cari hotel saja supaya bisa segera beristirahat.” Saka mengulurkan tangan namun diabaikan. Ayuna melangkah mendahului ke mobil sambil menghapus kasar wajahnya yang basah oleh air mata.


‘Ay, aku sungguh-sungguh minta maaf. Kau boleh marah atau membenciku” Saka mengulang permohonan maaf begitu mereka sudah berada di dalam mobil, Ayuna masih membisu dan memejamkan matanya. Kedua lengannya yang bersidekap di dada membuat hati Saka bergetar oleh rasa bersalah.


Saka memesan dua kamar di hotel terdekat yang mereka temui, membiarkan Ayuna masuk dan berharap sisa malam ini gadis itu dapat terlelap dan tak dihantui mimpi buruk. Semoga besok pagi kondisinya menjadi lebih baik.


Di kamarnya yang bersebelahan, Saka duduk di ranjang hotel sambil meremas kepalanya. Barulah sekarang dirinya sendiri bisa meluapkan emosi yang sekuat tenaga diredam sepanjang perjalanan bersama Ayuna.


Seharusnya tadi ia mampu memberikan beberapa bogem mentah kepada Edwin, agar secara fisik iparnya itu juga merekam akibat tindakan pelecehan ini. Sayangnya tadi Saka memilih langkah paling aman bagi Ayuna, jangan sampai semakin disudutkan dalam posisinya yang tidak berdaya.


Saka akhirnya tertidur dilingkupi kelelahan luar biasa, sempat terlintas di benakbya. Dapatkah Ayuna tertidur dengan beban traumanya?


Saka menunggu sarapan mereka tuntas, lalu menyodorkan gambar layar di ponselnya. Tiket keberangkatan pesawat udara dengan waktu boarding dua jam lagi.


"Kita ke Jakarta, Aku ada urusan pekerjaan yang kemarin sudah dibicarakan dengan Ayah." ucapnya memberikan alasan.


"Saya tidak mau, saya pulang ke desa saja." Ayuna menggelengkan kepalanya. Benar seperti dugaan Saka, gadis ini pasti menolak.


"Aku tidak bisa mengantarmu sekarang, keperluanku ini juga penting Ay!"

__ADS_1


"Saya bisa pulang sendiri ..."


"Lalu sebentar lagi Kamu segera dinikahkan dengan Tuan Takur!" potong Saka sambil menatap tajam. Ayuna terbeliak hendak bersuara. Saka segera berdiri mengajaknya pergi.


"Kita bicara di kamar saja, banyak pengunjung di sini."


Ayuna mengerling keadaan sekitar restaurant, walaupun orang-orang terlihat sibuk masing-masing, tapi mereka memang tidak sopan bertengkar di situ.


"Saya mau pulang, takdir saya kan memang dikawinkan dengan Tuan Takur!" Ayuna langsung meluapkan emosi begitu tiba di kamar.


"Lalu dia mendapati Kamu tidak perawan lagi, Tuan Takur pasti tidak bisa terima! Ay, bagaimana dengan Uwa Mirja dan Uwa Ratna? Atau bagaimana Kamu bisa menjelaskan ke warga desa kalau Tuan Takur menyebarkan aib ini?"


"Ka-kamu teganya bicara seperti itu?" Ayuna terbelalak membekap mulutnya. Matanya berkilat marah sekaligusxtak berdaya.


Apa boleh buat, Saka terpaksa meluncurkan kalimat menusuk itu. Duh. Sesungguhnya hatinya sangat tidak tega melihat gadis ini semakin hancur dihantam lagi oleh gelombang kenyataan pahit.


"Kamu tidak berpikir ke arah sana kan? Uwa Mirja bahkan bisa mendatangi keluargaku, tapi apa buktinya? Edwin atau Keluargaku bisa saja berdalih bahwa itu bukan pelecehan , Kamu di visum pun tidak bersedia!"


Saka yang kini menuntaskan isi kepalanya. Semalaman tak bisa tidur demi memikirkan gadis malang ini.


"Pergi...! Pergi, Keluar dari sini!" Ayuna menjerit histeris. Saka yang mendekat merengkuhnya didorong dengan kuat sambil menatap dengan sorot mata berkilat marah.


"Kamu boleh marah atau membenciku Ay, tapi kita akan selesaikan ini bersama. Jangan mengambil langkah yang lebih mengacaukan keadaan!"

__ADS_1


Saka berbalik keluar kamar. Dia kemudian sengaja duduk berselonjor di karpet lorong hotel. Biarlah dirinya mengalah berjaga-jaga jangan sampai gadis itu nekat kabur.


Ada waktu setengah jam lagi membiarkan Ayuna tenang, sebelum mereka mengejar boarding untuk terbang ke Jakarta.


__ADS_2