Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.21 Pergi Tanpa Memberitahu


__ADS_3

Saka kembali setelah hampir dua minggu pergi ke Banua. Kini lelaki muda itu malah berkata bahwa dia sudah memesan tiket untuk berapa hari ke depan. Mereka akan ke kota itu lagi!


“Kenapa kita Kembali?” Ayuna bertanya, rasa takut menyergap hatinya bila harus kembali ke tempat yang memungkinkannya bertemu Rosmaya dan suaminya, Edwin.


“Begini Ay, menurut bu Isma minimal Kamu tetap mengikuti pertemuan tatap muka separoh dari agenda sekolah paket. Berarti kamu harus menghadiri lima kali tatap muka selain tugas rutin mingguan”


“Sebaiknya aku berhenti saja, tidak perlu sampai lulus dan mendapatkan Ijazah. Aku tidak apa-apa kok,” ucap Ayuna ragu.


“Ay! Kamu kenapa jadi penakut dan lemah seperti ini? Aku menemui bu Isma dan menyampaikan kamu sudah tidak tinggal di Banua, melainkan ikut keluarga di kota lain. Tersisa tiga pertemuan tatap muka lagi, setelah itu menunggu ujian.”


“Tapi aku ….”


“Keluargaku mengira Kamu kembali ke desa, kasusmu dengan Edwin ditutup rapat karena aib itu memalukan bagi keluargaku. Kamu hanya perlu repot bolak-balik naik pesawat untuk pertemuan kelas selama beberapa jam ” ujar Saka gusar. Setiap kali dia harus membujuk Ayuna seperti ini, tidakkah gadis ini mau lebih menghargai usahanya?


Ayuna terdiam. Tak bisa membantah tapi menurut pun hatinya terasa berat.


Begitulah episode hidup yang dijalani Ayuna, untuk kedua dan ketiga kali perjalanan singkatnya ke Banua hanya pergi naik pesawat, kemudian berlanjut taksi bandara ke hotel terdekat dengan gedung pertemuan di mana bu Isma menggelar tatap muka pembelajaran.


Saka memegang komitmennya mengamankan gadis itu, jadi hanya menurunkan di depan gerbang lalu mobilnya melesat pergi untuk urusannya sendiri. Beberapa jam kemudian menjemput Ayuna dan mereka langsung menuju bandara kembali ke Jakarta.

__ADS_1


Tak terasa menginjak bulan ke tiga Ayuna tinggal di ibukota, sejalan dengan pendirian perusahaan milik Saka yang berjalan lancar, lelaki muda itu semakin sibuk saja melakoni meeting demi meeting bersama koleganya.


Ayuna terkadang merasa kesepian, seperti hari ini termangu memandangi pesan Saka yang berisi informasi agendanya dalam seminggu ini.


“Aku sepertinya besok pulang ke Garut!” Aris menghempaskan tubuhnya di kursi serambi. Ayuna menolehnya, pemuda seumurannya itu menyodorkan ponsel yang menampakkan headline berita musibah gempa.


“Daerah yang terkena gempa ini kota kelahiran kedua orangtuaku,” Aris menambahkan lagi.


“Apakah keluargamu juga terkena gempa?” Ayuna terkejut menatap teman se kos-annya.


“Alhamdulillah kakek - nenek sudah lama tidak tinggal di sana, tapi aku besok itu bergabung jadi relawan mendistribusikan bantuan untuk para korban.”


“Aku boleh ikut?” tiba-tiba saja Ayuna menawarkan diri untuk sekedar memberi bantuan tenaga. Kegiatan di organisasi dan lembaga independen di ikuti oleh Aris karena ia termasuk aktivis pemuda kampus, kisah keterlibatannya dalam ajang sosial kemasyarakatan seringkali memotivasi orang lain di sekitarnya.


“Kamu mau jadi relawan ? Garut itu jauh lho Yun, enam jam perjalanan ke sana.” Aris merasa tak yakin.


“Aku pernah sepuluh jam dari desa ke Banua tidak mabuk darat tuh, mau kan daftarkan aku jadi relawan juga Ris?”


“Kucoba dulu ya, siapa tahu panitia masih membutuhkan tenaga buat bantu di sana. Mana identitasmu?”

__ADS_1


Aris kemudian mengirimkan data diri Ayuna melalui pesan ke grup relawan. Dan tak lama ada balasan yang mempersilakan dengan catatan relawan memastikan dirinya dalam kondisi stamina yang sehat dan memiliki waktu luang untuk lima hari ke depan.


Aris meneruskan pesan ke Ayuna, di sana terdapat jadwal keberangkatan armada bantuan dan roadmap kelompok relawan shif kedua. Posko mana yang akan di singgahi beserta gambaran situasi yang terjadi. Relawan diharapkan menyiapkan diri dan perbekalan secara mandiri sehingga bisa memfasilitasi bantuan kemanusiaan secara maksimal.


Jadilah besok sepagi mungkin mereka sudah standby di titik kumpul, Aris dan Ayuna bergabung pada satu mobil meluncur ke daerah kejadian bencana. Hampir sore ketika mereka tiba dan bergerak melakukan tugas relawan yang sudah diberi arahan pada saat keberangkatan.


"Kita langsung kerja ya, setiap unit yang bertanggung jawab akan rolling piket per delapan jam. Yang tidak piket tetap bisa bantu dan update komunikasi. selanjutnya jalur saya ke koordinator unit ya, mohon kerjasamanya." Pak Rasmi senior aktivis yang sudah tiba lebih dulu menerima rombongan relawan yang mengiringi sejumlah armada bantuan logistik dan kesehatan.


Ayuna dapat tugas di pokso besar, gadis itu tidak diperkenankan ikut ke lokasi titik bencana karena dinilai kurang berpengalaman. Maka kesibukan dan keprihatinan yang berlangsung di posko benar-benar membuat Ayuna melupakan hal lain, waktu dan tenaganya dicurahkan sepenuhnya mengikuti arahan koordinator relawan.


“Yuna, Kamu di sini?” sebuah sapaan mengejutkan gadis itu ketika ia menerima selembar kertas berisi daftar jenis dan jumlah bantuan yang masuk ke posko.


“Mas Enggar?” Gadis itu tak kalah kaget. Sesaat celingukan bingung kenapa lelaki itu juga berada di tempat yang sama.


“Aku mengantarkan paket bantuan dari Yayasan yang Ibu kelola di Bekasi, dan kebetulan ada teman juga yang mau dikunjungi daerah sini.” ujar Enggar seperti paham apa yang dipikirkan gadis itu.


Ayuna tak sempat bicara lagi karena kawan sesama relawan memanggilnya, maka segera saja ia pamit pada Enggar.


“Kamu di sini sampai kapan?” Enggar menahannya, sambil memperhatikan kartu identitas relawan yang dipakai Ayuna.

__ADS_1


“Rencana lima hari sabtu depan, Maaf Ayuna mau laporkan ini dulu.” Jawab Ayuna sambil hendak berlalu.


“Saka sudah mengetahui kalau Kamu di sini?” pertanyaan Enggar baru membuat Ayuna teringat, bahwa kegiatan relawan yang mendadak ini membuatnya terlupakan memberi tahu Saka.


__ADS_2