
“Ma?….Mama! Jadi kapan Afi bisa ketemu Ompa?” suara bertanya itu menegakan pendengaran Ayuna.
Gaya merengeknya itu juga belum hilang dari ingatan, Ayuna menoleh dan terkesiap melihat tubuh mungil yang sedang menghentak-hentakan kaki di sisi tubuh ibunya yang duduk di sofa ruang tunggu.
Kaffi! Ayuna reflek melindungi wajahnya dengan lembaran brosur promosi, Bocah mungil nan imut itu memang benar Kaffi dan tentu saja wanita yang sedang bersamanya tak lain adalah Rosmaya!
Ayuna berdiri dan melangkah cepat mencapai ruang lain yang bersebelahan dengan ruang tunggu, di mana pembatas yang menghalangi pandangan berupa jendela kaca lebar dan pintu kaca bermotif flora. Menarik kursi sedikit tergopoh, rasa gugup yang mendera membuat jantung berdegup lebih cepat.
Aduh, kenapa dirinya dan Rosmaya bisa berada dalam waktu dan ruang yang sama? Tak ada yang aneh memang, karena tempat ini terbuka untuk publik. Ayuna di sini sudah seperempat jam menunggu Erika yang mungkin masih dalam perjalanan dari Bekasi. Owner dari oblige Beuty center ini adalah trainernya waktu mengikuti Pelatihan Managemen Klinik kecantikan. Pagi ini Ayuna dan Erika mendapat jadwal untuk melakukan konsultasi produk yang ditawarkan sejumlah brand dan menjadi andalan oleh klinik kecantikan oblige Beuty center
Ayuna duduk setengah menunduk menghindari kemungkinan tertangkap sepasang mata Kaffi yang mengedar ke penjuru ruang tunggu, sedangkan Rosmaya nampak asik menekuri ponselnya bisa saja tak menyadari kehadiran Ayuna di sekitarnya.
Ayuna memutar otak bagaimana setelah Erika datang nanti, dapatkah dirinya menyelinap melewati ruang tunggu tanpa sempat dilihat oleh Kaffi maupun Rosmaya. Kalaupun sampai tertangkap basah apa yang harus diperbuatnya?
“Kamu kenapa menunggu di sini? Aku sampai celingak-celinguk nyariin…” teguran Erika segera saja membuyarkan, adik Enggar sudah berdiri di dekatnya. Mitra kerja yang juga menanamkan investasi dan terjun langsung mengembangkan Beuty Rules for You Salon Kecantikan & Spa miliknya.
“Te Yuna….?!”
Belum sempat menjawab Erika, Ayuna kini malah menelungkupkan wajah sepenuhnya ke meja yang dirangkai pada kursi lipat yang didudukinya. Sosok mungil si Kaffi yang berjalan mengikuti mamanya ke ruang tindakan memanggil dengan gerakan bibir. Matanya yang sangat tajam mampu memindai sosok Ayuna yang dibatasi jendela lebar dan pintu kaca bermotif flora.
“Kamu kenapa sih? Ayo, kita temui Bu Herlin” tak urung Erika dibuat bingung dengan sikap yang ditunjukkan Ayuna.
“Nngg…. Kita lain kali saja ya konsulnya?”
“Aduhhh jangan dong…?! .Aku kan sudah jauh-jauh dari Bekasi buat memenuhi jadwal ini…?” Erika jelas saja keberatan atas permintaan itu.
Ayuna berdiri dengan terpaksa mengikuti tarikan Erika pada lengannya. Sementara Ibunda Kaffi yang tadi berjalan menuntun putrinya menuju bilik perawatan, kini telah hilang ditelan ruang. Giliran perawatan rupanya sudah sampai pada nomor antrian kakak Saka itu.
Ayuna tidak terlalu fokus menyimak penjelasan tutornya hari ini, pikirannya masih terpaut pada kemungkinan setelah konsultasi selesai maka masih sangat mungkin dirinya berpapasan lagi dengan Rosmaya dan putrinya.
Setelah hampir satu jam berlalu, Ayuna bergegas mengayun langkah keluar begitu kegiatan konsultasi itu berakhir. Sepasang matanya sambil memantau keadaan sekitar khawatir kepergok oleh Kaffi dan ibundanya.
"Setelah kita makan siang ini, kuantar ke Bekasi." Ayuna menawarkan tumpangan ketika mereka sudah melaju dalam mobil yang disopiri pak Burhan.
"Nggak usah repot Yuna, aku kan biasa naik bis." Erika menolak karena diamatinya Ayuna justru sedang gelisah.
"Nggak ada repot sama sekali, Aku kangen dengan Bu Naima," Ayuna juga berkeras. Saat ini dirinya merasa kembali ke salon atau pulang ke apartement bukanlah pilihan yang aman.
__ADS_1
Si kecil Kaffi bisa saja ngotot mengajak ibunya ke sana untuk bertemu Saka.
"Besok dan lusa aku ada keperluan, bisa nggak gantiin stay di salon? Sekalian menyampaikan hasil konsul tadi, " Ayuna memilih minta tolong hal itu kepada Erika, daripada sepanjang hari dirinya yang was-was kepergok berada di gedung yang sama dengan kantor Saka.
"Baiklah, aku akan ganti stay kalau kamu mau mengambil istirahat."sahutan Erika membuatnya lega. Sebenarnya sejak awal memulai usaha Erika memang berjanji mendukungnya, bahkan Erika pun turut menanam modal di Salon Kecantikan & Spa milik Ayuna.
Di tengah makan siang yang dinikmati bersama Erika, notifikasi pesan Saka muncul di layar ponselnya. Sejak tadi Ayuna menunggu konfirmasi suaminya.
Ternyata Rosmaya datang bersama Ayah dan Bunda dan mereka menginap di hotel yang lumayan jauh dari apartement yang ditempati Ayuna bersama Saka.
Kamu boleh mengunjungi Bu Naima
Setelah kembali dari Bekasi, istirahat saja di apartement.
Jangan khawatir Ay, nanti malam kita bicara.
Bunyi pesan Saka lainnya mengizinkankannya ke Bekasi membuat Ayuna lebih rileks. Selain mengunjungi keluarga Enggar tak ada pilihan lain sebagai tempatnya menghabiskan waktu. Sehari-hari Ayuna hanya fokus menekuni usahanya, bahkan memilih tidak melanjutkan kuliah dulu walaupun Ijazah sekolah paketnya sudah terbit.
Setelah beberapa jam berbincang ringan dengan Bu Naima dan Erika, barulah Ayuna pamit. Lampu jalanan sudah menyala dan kelip cahaya dari gedung-gedung pencakar langit menandai malam di ibukota.
"Jadi tadi sudah ketemuan dengan si Kaffi?" pertanyaan yang sengaja dilontarkan untuk memancing suaminya.
"Belum Ay, hari ini aku dibantu Mas Enggar menyiapkan materi untuk perluasan usaha. Ayah yang bersedia mengundang koleganya untuk mengenalkan usahaku, " sahut Saka masih asik di depan laptop.
"Sepertinya Kaffi kangen sekali dengan Abang," cetus Ayuna mengingat tingkah bocah itu siang tadi.
"Paling besok kami juga bertemu di acara makan malam yang sudah diatur oleh Ayah,"
Akhirnya Saka mengungkapkan hal yang masih dipendingnya untuk disampaikan kepada Ayuna. Sayang sekali sampai saat ini Saka belum memiliki keberanian untuk membuka kebenaran rumah tangganya dengan Ayuna, sebenarnya hal itu semacam strategi yang digunakannya demi memperkuat perusahaan terlebih dulu dengan tidak mengabaikan dukungan orangtuanya.
Makan Malam Keluarga dan Kolega? Entah di waktu kapan dirinya bisa terlibat dan diakui sebagai istri Saka Guna, Ayuna mengerjap karena rasa tak nyaman yang mengaliri relung hatinya.
"Selama beberapa hari ini aku akan lebih sibuk Ay, selain urusan pekerjaan bisa jadi juga menemani Bunda dan Kak Ros. Kuharap kamu mengerti situasi kita,"
Saka cukup jeli menangkap wajah sendu istrinya. Ayuna lekas merubah sikap diamnya.
" Aku mengerti Bang, oh ya besok atau lusa boleh kan aku jalan dengan Dewi? Aku mau nengok Mbak Retno juga di kos-an." ucapnya meminta izin. Ayuna sudah memiliki cara untuk menghabiskan waktu selama dua hari meliburkan diri tidak bekerja.
__ADS_1
"Ajak lah Dewi ke apartement, nonton film di HBO atau masak bareng, Kamu bebas ngelakuinya Ay,"
Saka bangkit mengecup istrinya sebelum melanjutkan kesibukan dengan laptop dan Ayuna beranjak ke kamar.
Menjalani hubungan suami istri seperti ini, 50% layaknya *Back*street ternyata adalah satu lagi episode hidup yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Ayuna.
__ADS_1