
Suara guyuran air di kamar mandi dini hari membangunkan Ayuna, sesaat rasa sakit di inti tubuhnya menyergap bersama kesadaran penuh.
Ayuna menyusut air matanya. Sakit sekali menghadapi kenyataan kali ini, lelaki yang berapa bulan ini menemaninya dan memberi semangat hidup tadi malam memberi trauma kedua beserta impiannya yang hancur berkeping.
Saka keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit pinggang, seperti kebiasaannya hidup sendirian di apartement.
"Mandilah Ay, " diangsurkannya sebuah jubah mandi, berharap Ayuna mau menurut. Setelah badan segar, mereka berdua baru bisa bicara dengan pikiran jernih tentang apa yang terjadi tadi malam.
"Bang Saka menghancurkan impianku," isak Ayuna menahan Saka tak jadi menjauh.
"Impianmu yang mana, hm? Sekolah paketmu tersisa ujian dan salon kecantikan juga sudah berjalan kan?" Suaranya yang dalam dan yakin itu memancing Ayuna untuk menentang matanya.
"Impianku bukan cuma itu !" tandasnya sengit.
"Impian mu yang mana lagi, Ay? Impian hidup bersama Enggar?" Saka menggeram tak mau kalah.
Entah kenapa emosinya meluap bila rasa cemburunya terpantik seperti ini. Ayuna dalam kondisi tersakiti menciptakan rasa sayangnya dan ingin melindungi gadis ini. Tapi Ayuna yang seperti mendambakan lelaki lain justru membangunkan rasa ego dalam diri Saka.
"Bang Saka menyakitiku..." suara Ayuna menggantung, Saka seketika bergerak cepat menaiki ranjang membuatnya bergidik.
"Ya, Aku dan keluargaku menyakiti Kamu Ay, dan Enggarlah yang sekarang siap menyelamatkanmu...." Saka mengakhiri ucapannya dengan menarik wajah Ayuna mendekat, dagunya diangkat dan ciuman yang dalam itu ******* bibir Ayuna.
Tak sempat menghindar, Ayuna hanya bergerak sekenanya. Saka menciumnya dengan posisi satu lengan bertumpu di sisi tubuh Ayuna dan tangan yang satu lagi menahan wajah gadis itu tetap tak berjarak dengan wajahnya
Arrrghh. Ayuna memejamkan mata akibat perbuatannya tubuh Saka yang hanya terlilit handuk sekarang polos mengungkungnya. Lelaki itu menyibak gelungan kain dan bergabung dengan tubuh Ayuna di dalam selimut .
"Kumohon Bang Saka....ini dosa," Ayuna mencoba dengan argumen apa saja yang terlintas di kepala.
"Kamu pikir Aku akan lari? Sudah sejak pertama Aku yang mengambil tanggung jawab terhadap Kamu Ay!" Saka tambah geram campur gemas dan serangannya jadi semakin bertubi-tubi.
Seperti malam tadi, wajah,hidung dan bibir lelaki itu menyuruk ke setiap lekuk tubuh Ayuna. Bedanya sekarang kesadarannya murni, tak tercampur pengaruh alkohol lagi.
__ADS_1
Kelebihan Saka adalah dirinya tetap sabar menahan untuk tidak menggunakan cara kasar menaklukkan Ayuna yang berontak, Saka adalah jenis lelaki tulen yang menginginkan wanitanya menyerah karena keuletannya mencumbu.
Ayuna mulai kehabisan tenaga sementara itu syarafnya yang semula menterjemahkan rasa tidak aman digantikan rasa nyaman.
Lenguhannya lolos berkaki-kali ketika Saka mengisap puncak ***********, telapak tangan lelaki itu mengusap intens punggung dan meremas gundukan kencang milik Ayuna.
Saka menatap mata gadis yang dicintainya, wanita yang menyulut api kecemburuannya, yang membuatnya marah sekaligus takut ada laki-laki lain merenggut kepemilikiannya.
"Bang Saka ....." mata Ayuna meredup saat laki-laki itu mengambil ancang-ancang memasuki tubuhnya. Gadis itu seperti mampu membaca sorot mata yang menenggelamkan, sentuhan dan ciuman yang panjang memabukkan, deru napas yang memburu tapi terkendali, semua adalah cara Saka mengungkapkan cintanya.
Aaarrrgghh. Ayuna mendesis dan melenguh ketika penyatuan mereka tanpa jeda, Saka dengan bahasa tubuhnya menyatakan cinta dan hasrat yang tak tertolak. Seluruh permukaan kulit dan sendi-sendi Ayuna merespon dengan penerimaan penuh.
Jam tujuh pagi, Saka selesai membersihkan diri untuk kedua kali. Dibiarkannya Ayuna tetap terlelap ketika meninggalkan apartemen menuju kantor. Pesan masuk dari Tyas terkait berkas invoice tidak bisa diabaikannya, bukannya kemarin siang ia sendiri yang meminta revisi dan sekarang Tyas menunggu persetujuannya untuk dikirim kepada pihak kedua.
Dalam ruangannya setelah urusan dengan Tyas diselesaikan, Saka mengunci pintu tak mau diganggu. Saat ini dirinya perlu waktu merenungi sesuatu yang terjadi dengan pikiran jernih.
Wajah Ayuna dalam keadaan tertidur saat ditinggalkannya di apartemen kini hadir beserta rasa bersalah menelusup dalam hati.
kebahagiaannya ini bisa memiliki gadis itu seutuhnya, akan bermuara ke mana? Saka bukannya pengecut tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, menikahi Ayuna bisa dilakukannya besok, tapi setelahnya apa?
Pintu ruangannya di ketuk, kali ini Saka membukanya. Enggar berdiri di sana
"Ayuna tidak datang ke tempat kerja, di kost pun ku jemput tidak ada. Kira-kira di mana dia?" pertanyaan Enggar sudah dapat diduganya.
"Ayuna di apartemenku, tadi malam mengurusku gara-gara kacau kebanyakan minum." Saka jujur dan berharap Enggar bisa membaca situasi.
"Baiklah, aku mengkhawatirkan karena pesan masuk pun tidak dibalas." ada yang berubah pada raut wajah Enggar, tertangkap cukup jelas sebelum tubuhnya berbalik meninggalkan Saka.
Saka menutup kembali pintu dan menguncinya. Dipilihnya nomor Herdi pada folder kontak telpon dan begitu sambungan telpon diangkat Saka mulai bicara mengutarakan maksudnya.
Dalam perjalanan kembali ke apartemen Saka singgah ke tempat kost Ayuna berbicara dengan Mbak Retno yang sudah dikenalnya. Saka juga meminta pengurus kos-an mengambilkan beberapa keperluan Ayuna di kamar gadis itu.
__ADS_1
"Abang tidak perlu mengurungku di sini," Ayuna sudah menunggu di sofa begitu Saka masuk ke dalam apartemennya. Saka hanya menatapnya tanpa bicara, tas yang disiapkan Mbak Retno tadi diletakkannya di dekat gadis itu.
Setelahnya Saka berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Terdengar langkah Ayuna mendekat lalu masuk ke kamar mandi. Sepertinya menyalin pakaian dengan baju ganti yang dibawakannya tadi. Lelaki itu memejamkan mata berusaha menghalau siluet tubuh Ayuna yang muncul di benaknya.
Perut yang terasa lapar memaksa Saka bangun berniat memasak bahan yang serba instan dan tersedia di dalam kulkas.
Ternyata Ayuna sudah menyiapkan makan siang, menunya sederhana cukup familiar, balado telur dan nasi goreng yang dibuatnya untuk sarapan pun masih tersisa.
"Aku akan pulang ke Kos," Ayuna muncul mengagetkan. Hampir tersembur apa yang baru di suapnya ke mulut.
"Duduk Ay, aku selesaikan makan dulu." Saka menunjuk kursi di depannya dengan gerakan dagu.
Ayuna menurut karena berempati melihat Saka tersedak tadi. Setelah tuntas menikmati makan siangnya, Saka mengeluarkan ponsel dan mencari file PDF yang berisi tiket pesawat atas nama mereka berdua.
"Besok kita menikah di hadapan Uwa Mirja, " ucapnya sambil menyodorkan ponsel ke gadis itu. Ayuna terpaku dan tatapan mereka bertaut cukup lama, sesaat mata Ayuna mengerjap basah, lalu menunduk memandangi layar ponsel yang menampilkan data dukung ucapan Saka barusan.
"Abang tidak perlu seperti ini, menikahiku dengan terpaksa." suaranya lirih.
Saka bangkit dengan gerakan yang nenimbulkan kursi yang didudukinya berderak nyaring.
"Jangan membuatku marah atau cemburu! Bila tidak mau seperti tadi malam kejadiannya Ay," bisiknya di dekat telinga gadis itu. Suaranya mengandung ancaman tapi bibirnya mengecup lembut pipi Ayuna.
Ayuna tercekat dengan dada berdebar. Saka meninggalkannya setelah kecupan yang selintas tadi bagai menyetrum tubuh Ayuna.
Gadis itu menyusul lelaki yang sekarang memilih duduk di Sofa sambil membaca balasan pesan dari Herdi.
"Abang bisa pikirkan lagi..."
"Sudah kupikirkan Ay, Kamu sengaja memancingku hm?" Saka memotong kata-kata itu dan mengunci Ayuna dengan tatapan pasti.
"Dengar, Aku tidak tahan berada di dekatmu tanpa menyentuhmu seperti semalam.Aku juga tidak bisa meredam amarah melihatmu didekati Enggar, jadi apakah itu cukup jelas bagimu mengapa kita harus menikah?" tandasnya tajam dan dalam. Ayuna bagai tersihir membeku di tempatnya berdiri.
__ADS_1
Saka berjalan melewatinya masuk ke kamar mengambil bantal dan selimut, lalu kembali dan segera merebahkan dirinya di sofa. Walau pun hari masih terang Saka ingin beristirahat menyiapkan tubuh dan mentalnya untuk perjalanan besok.
Hanya dalam rentang waktu enam bulan, besok ia dan Ayuna akan menapak tilas awal pertemuan mereka.