
Enggar datang ke Paviliun Anggrek bersama Tyas, karyawan di perusahaan Saka yang membidangi Keuangan. Dengan adanya Tyas, Saka memintanya menunggui Ayuna sementara ia ditemani Enggar pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perut.
“Ternyata StarMas Grup melimpahkan penawaran kita ke kantor cabang?” keluh Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka berjalan di lorong rumah sakit yang lenggang.
“Betul, menurutku kantor cabang dinilai lebih memahami medan dan mampu memproyeksikan keuntungan bila mereka mau ambil kontrak Feeder Vessel yang 21 unit itu.” Enggar menjawab persis seperti wacana itu dibahasnya bersama Fahriza dan Tyas di kantor tadi sore.
“Besok siang Aku berangkat dengan Fahriza, dan harus cari perawat untuk menjaga Ayuna. Mas Enggar punya kenalan?”
“Kenapa tidak meminta keluarga yang terbang ke Jakarta? Ayuna mungkin perlu pemulihan sambil rawat jalan?” usulan Enggar itu sebenarnya wajar, tapi cukup membuat Saka terkejut.
“Hmmmh…..Ayuna sedang bermasalah dengan keluarganya. Itulah kenapa aku yang bertanggungjawab mengawasinya di sini,” jawaban Saka sekedar menepis kecurigaan Enggar kenapa ia terkesan mendominasi kepentingan Ayuna.
Kedua pria itu tidak berbicara lagi karena makanan sudah tersaji. Enggar pun jadi menahan diri karena ucapan Saka baginya bermakna privacy keluarga.
“Coba kita tanyakan Tyas, siapa tahu punya teman tenaga medis privat” saran Enggar kemudian dan diangguki setuju oleh Saka.
Malam itu Saka menginap di ruang rawat Paviliun Anggrek, tidur di sofa sambil sesekali terjaga memantau kondisi Ayuna. Untungnya gadis itu lebih banyak terlelap dengan tenang sepanjang malam.
Besok paginya Saka sangat lega karena teman sekost Ayuna datang menjenguk, Dewi dengan senang hati menemani Ayuna sementara lelaki itu pergi ke apartemennya mengambil keperluan untuk berangkat ke daerah dengan penerbangan sore.
__ADS_1
Tyas juga dengan cepat sudah merekomendasikan nama perawat privat yang akan mendampingi Ayuna tiga hari ke depan, setidaknya Saka lebih tenang jika semua sudah terkondisi sedemikian rupa.
Selebihnya kepada Enggar lah ia meminta bantuan, sama seperti tiga bulan lalu ia meminta Enggar menengok gadis itu di tempat kost. Waktu itu dirinya meninggalkan Ayuna sendirian di Jakarta selama hampir dua minggu.
Sore ini Enggar datang ke Paviliun Anggrek seorang diri dengan sebuket bunga dan keranjang buah yang dibawanya.
“Bagaimana kondisimu, Dik? Masih terasa berputar kalau bergerak?” tanyanya sambil mengambil kursi ke dekat bed ruang rawat.
“Sudah berkurang, asal pelan saja geraknya. Kukira Mas Engg ikut pergi ke daerah juga,” sahut Ayuna tersenyum. Bersamaan itu perawat yang menemaninya pamit keluar ada keperluan, jadi tinggal dirinya berdua Enggar.
“Aku kebagian tugas jagain Kamu lho Dik,” gurauan Enggar menerbitkan senyum lebar Ayuna, wajah pucatnya terlihat lebih cerah.
“Mana bisa begitu? Siang itu rombongan kami juga baru tiba, nggak lucu aku langsung minta izin pulang?” Ayuna cemberut dengan mimik yang membuat Enggar gemas. Baru ini kesempatannya bisa memperhatikan dari dekat wajah Ayuna. Bahkan kondisi sakit, diakuinya Ayuna tetap terlihat menarik. Cantiknya alami tanpa polesan. Mungkin itu alasannya orangtua memberinya nama Ayuna….
“Mas Enggar mikiran apa?” Ayuna mengagetkan lelaki yang terdiam memandanginya.
“Kamu lain kali kalau jenuh di tempat kost, bilang ya? Bisa kuajak jalan-jalan ke Bekasi atau rekreasi seputar Jakarta,” asal saja Enggar menjawab karena ketahuan memandangi gadis itu.
“Aku tidak pengen kemana-mana, cuma rindu dengan Ibu….” Suara Ayuna berubah sendu.
__ADS_1
“Kenapa tidak coba v-call? Ngobrol sebentar dengan beliau….” Kalimat Enggar menggantung begitu Ayuna menatapnya dengan nanar. Matanya sudah berkaca-kaca, terasa sesak dada oleh kerinduan yang membuncah.
“Aku tidak tahu keberadaan Ibu selama delapan tahun Mas Engg, Bang saka sudah berjanji mencari Ibu…” tangis pun pecah tak tertahankan lagi. Padahal baru saja senyumnya terlihat cerah.
Enggar menarik napas, merasa serba salah membuat Ayuna jadi mengharu biru merindukan sosok seorang ibu. Tak terbayangkan sebelumnya oleh Enggar ternyata selama delapan tahun gadis ini tak bersama sosok wanita yang pastinya sangat berarti bagi siapa pun.
“Saka pasti mengupayakannya, barangkali masih proses? Sini Dik,…” Enggar menghalau kecanggungannya, yang ada hanya rasa prihatin menyaksikan seorang wanita menangis dengan bahu terguncang, sehingga secara naluri saja lelaki itu berdiri meraih bahu Ayuna dalam rengkuhannya.
Hanya sebentar saja Ayuna berada dalam pelukannya, kemudian rengkuhan di urainya karena pintu ruangan didorong dan perawat yang tadi izin sudah kembali.
“Mbak Yuna, kenapa….?”
“Biarkan saja Mbak, kalau menangis bisa mengurangi emosi yang dipendam. Bukankah lebih baik buat kesehatan?” Enggar berujar mencairkan suasana. Si perawat mengangguk setuju atas argumennya.
Enggar mengusap lembut bahu Ayuna sesaat sambil berkata bahwa dia akan berkunjung lagi besok sore.
“Mbak, tolong nanti minta izin ke dokter yang datang untuk kontrol. Kalau memungkinkan pasien bisa dibawa keluar, jalan ke taman rumah sakit supaya menghirup udara segar ?” pesan Enggar diiyakan oleh si perawat sebelum lelaki itu pamit pergi.
Enggar melangkah pulang dengan sedikit kejelasan mengapa kondisi psikis Ayuna jadi rentan. Delapan tahun tidak mengetahui keberadaan ibunya, pastilah memendam emosi yang dalam. Bisa jadi bermuara pada stress, seperti kondisi yang dimaksudkan oleh Saka.
__ADS_1
Ada keinginan meringankan beban gadis itu dengan sekedar menemaninya berbincang, Enggar jadi menimbang-nimbang bagaimana caranya mengkondisikan Ayuna mau terbuka tanpa disertai kejadian emosional seperti tadi.