
Layanan kamar mengetuk pintu dan mengantarkan tambahan bed. Saka kini merasa lebih nyaman duduk berselonjor dengan punggung bersandar ke sofa, sementara jarinya menyusuri layar ponsel menekuni berita online.
Ayuna yang keluar kamar hendak ke toilet, tertegun mendapati pewaris pengusaha tambang itu menghadapi situasi seperti ini.
“Maaf, Saya jadi membuat Tuan tidur di situ…” ucapannya membuat Saka mengangkat wajah.
“Ay, bisa kah Kamu berhenti memanggilku dengan sebutan “Tuan”? tukasnya tajam. Ayuna terkesiap berdiri mematung.
“Beberapa hari ke depan kita masih di sini. Coba lah membiasakan diri menganggapku Abang seperti dulu? Kau tahu, itu akan sedikit membantuku mengurangi beban rasa bersalah terhadapmu!”
“Iya, saya mengerti…” Ayuna menjawab lirih. Langkahnya akan berlanjut ke kamar mandi ketika dihentikan lagi oleh Saka.
“Besok kita belanja beberapa keperluan. Kamu bisa catat kebutuhan pribadi, kecuali untuk urusan cuci pakaian nanti kita bisa laundry di hotel saja. “
“Sampai kapan kita di hotel?” Ayuna memberanikan diri bertanya. Saka lantas bangkit berdiri dan mengajaknya duduk di kursi makan bulat dengan meja model bar mini.
“Hotel ini kuambil karena ada promosi yang berlaku minimal 1 minggu, setelah itu kita mungkin cari tempat kost buat Kamu. Ada beberapa urusan yang harus kutangani Ay, pertama mengundurkan diri dari tempat kerja, lalu melanjutkan usulan proyekku ke Ayah dan tentunya kita perlu jalan-jalan untuk mengenalkan dirimu dengan kota Jakarta ini,”
Saka mengangsurkan layar ponselnya kepada gadis itu, mengirim pesan yang isinya meminta Ayuna membiasakan menggunakan cara komunikasi itu di antara mereka.
“Proyek semacam apa yang Abang kerjakan?” akhirnya Ayuna mencoba memanggil lelaki ini seperti tujuh tahun yang lalu. Saka tersenyum senang mendengarnya. Terasa mencair kekakuan yang merentangi mereka berdua.
__ADS_1
“Aku berminat menggeluti jasa angkutan bahan tambang dan bahan bakar minyak Ay, Ayah sudah menyetujui untuk memberi modal awal pengadaan beberapa unit. Jadi minggu depan proses akta pendirian perusahaan sudah masuk ke notaris. Setelah itu aku mulai menemui beberapa pengusaha untuk mempromosikan layanan jasa yang dibidangi perusahaan ini."
“Kau tahu Ay? Dua tahun bekerja di luar perusahaan ayah, aku bisa mendapatkan informasi pihak yang bisa diajak kerja sama. Aku harus turun gunung, istilahnya mencari sendiri peminat yang mau menggunakan kapalku. Dan di kota metropolitan inilah gudangnya pengusaha yang mau berkiprah di daerah. Kita lah yang harus selektif dan menawarkan jasa sesuai kebutuhan”
Ayuna mengangguk walaupun tak seluruh penjelasan Saka bisa dipahaminya. Gadis itu beranjak karena Saka menyuruhnya beristirahat. Di kamar baru dibukanya pesan yang tadi terkirim ke nomornya.
Ada beberapa nama lokasi tempat yang diketik Saka sebagai tujuan mereka beberapa hari ke depan. Terdapat pula gambar-gambar promosi set alat masak instan dengan penggunaan energi listrik. Dan Video-video panduan memasak ringkas dengan bahan yang tidak ribet.
Ayuna tersenyum memikirkan bagaimana bisa lelaki seperti Saka mau meluangkan waktu membagi sedikit pengetahuan yang benar-benar asing bagi gadis desa sepertinya? Saka sepertinya memang menganggapnya adik, yang perlu diperhatikan dan dilindunginya.
Dan besoknya setelah membawa Ayuna ke Ancol, Saka benar-benar membeli microwave, panci penggorengan listrik dan tentu saja majig jar mini.
“Ini sangat berguna kalau kamu jadi tinggal di kost nanti Ay, sangat mudah dan praktis tinggal colok ke listrik.”ujarnya.
Kata Saka dia akan menunjukkan penggunaan alat masak tadi, memasak dengan bahan yang sehat dan tidak ribet. Jadi kalau lagi malas makan di luar, tidak melulu menyantap mie instan.
“Kenapa tidak beli beras?”
“Astaga Ay! Aku cuma mau ajarin kamu sambil ngisi waktu. Di hotel kita masih beberapa hari, sarapan terjamin. Makan siang bisa gofood atau kita jalan keluar.” Saka tertawa oleh kepolosan Ayuna. Pikirannya seperti kebiasaan di desa, nasi yang diutamakan sedangkan lauk dan sayur menyusul seadanya.
Begitu tiba di hotel, Saka hanya menitipkan semua barang di lobby, lalu diajaknya Ayuna berjalan kaki ke etalase yang terdapat di bangunan samping hotel.
__ADS_1
"Kamu pilih sendiri ya, seberapa perlu supaya kita tidak harus bolak-balik loundry karena kehabisan stok baju. Aku di toko sebelah," Saka membuka pintu kaca sebuah butik pakaian wanita .Sedangkan pemuda itu kemudian memilih koleksi pakaian pria di toko sebelah.
Ayuna membatin, kenapa dirinya ini dari awal membuat repot pemuda itu? Sejak membawa Ayuna pergi keluar desa yang tersembunyi di balik kebun sawit, hingga saat ini berada di metropolitan yang rapat dengan gedung-gedung pencakar langit!
Apakah di balik kemalangan nasibnya, Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat yang begitu baik. Mengingatkannya untuk tetap bersyukur dan melakoni saja hidup ini?
"Kok cuma segini Ay, Kamu kurang sreg dengan koleksi di sini? Ya sudah, besok-besok kita jalan dan beli lagi." Saka sudah kembali dan mengomentari pilihan Ayuna. Mereka membayar dan berjalan kembali ke hotel.
Telpon Saka yang berbunyi hanya dilihatnya sebentar lalu kemudian diabaikan. Ayuna meliriknya sekilas seperti ada yang dipikirkan oleh lelaki di sampingnya ini.
"Aku ke kamar duluan boleh kan? " Ayuna bertanya melihat Saka malah menuju kursi pengunjung di lobby hotel bukan ke arah lift.
Saka hanya mengangguk dan menyerahkan slot kunci. Sepanjang siang ini beberapa telpon masuk dari Bunda dan Rosmaya, tapi tak ditanggapi karena tidak memungkinkan bicara sementara Ayuna berada di dekatnya.
Akhirnya Saka memilih duduk di lobby dan memanggil ulang nomor Bunda. Bagaimana pun marahnya dengan Edwin, dirinya tak bisa mengabaikan wanita yang sudah memperlakukannya seperti putranya sendiri.
"Hallo Bunda? Ya...Saka bersama Ayuna. sekarang Bunda bisa jelaskan?" Saka lebih memilih menjadi pendengar yang baik, bahkan ia tidak mengatakan di mana keberadaannya sekarang di mana. Biarlah keluarganya mengira Ayuna sudah dipulangkan ke Uwa Mirja.
"Bunda harap Kamu bisa meyakinkan Ayuna dan keluarganya bahwa kejadian itu berada di bawah kekhilafan Edwin. Rumah tangga kakakmu pun ikut terguncang disebabkan persoalan ini, Saka."
"Edwin punya itikad baik mempertahankan rumahtangganya walau pun Rosmaya sempat meminta berpisah saja, Bunda pikir Ros harus memberi kesempatan bagi suaminya memperbaiki diri. Hanya saja Rosmaya khawatir pihak Ayuna membuat masalah ini berlarut-larut...,"
__ADS_1
Saka hanya menyimak kata-kata Bunda yang sudah tentu berpihak pada Rosmaya dan suaminya. Walaupun ada basa basi menanyakan bagaimana kondisi Ayuna sekarang, tetap saja pada akhir perbincangan mereka itu, Bunda mengingatkan Saka untuk membantu kakaknya.