
Mba Retno dan Dewi teman kost di kamar sebelah sudah berusaha mmbuat Ayuna sadar dari pingsannya, sesaat tadi matanya terbuka karena dipanggil-panggil oleh Retno. Pengurus tempat kost mendatangi ke kamarAyuna di lantai dua setelah Dewi memanggil.
“Aku kebetulan lewat Mba Ret, kok pintu kamar Yuna terbuka dan kupanggil-panggil nggak dijawab. Tahunya sudah pingsan wajahnya pucat sekali,” lapor Dewi sambil ikut menyeka keringat yang sebulir jagung di dahi Ayuna.
Ayuna tak menjawab ditanyakan keadaannya, hanya matanya dipejamkan rapat dan sekujur tubuhnya jadi dingin seperti sangat kesakitan.
“Coba telpon kan abang sepupunyanya, pasti nomornya ada di sini.” Mba Retno mengambil benda pipih yang sempat terhimpit di sisi tubuh gadis itu. Dewi pun mengikuti instruksi dan segera saja mendapatkan ‘Bang Saka’ di daftar kontak Ayuna yang tidak terlalu banyak.
Sambungan telepon terhubung dan langsung diangkat, Dewi lantas bicara menyampaikan keadaan Ayuna yang pingsan. Setengah jam kemudian Saka tiba dan langsung memutuskan membawa Ayuna ke Rumah Sakit terdekat.
Saka tak berpikir panjang ketika dokter jaga di IGD merujuk rawat inap setelah memeriksa gadis itu. Ayuna didiagnosa terkena Vertigo yaitu sensasi rasa tidak seimbang dengan gejala pusing berputar, bahkan bisa jadi mual dan muntah dipicu berbagai sebab.
Ayuna yang baru melakukan perjalanan jauh dan berada di lokasi bencana selama tiga hari terkondisi kelelahan, dehidrasi dan shock oleh berbagai versi kemalangan korban bencana yang dilihat dan didengarnya.
“Ay, buka matamu pelan-pelan. Apa masih pusing sekali?” Saka meminta gadis itu mau mereponnya setelah Ayuna mendapat perawatan dan asupan obat.
Ayuna sejak tadi masih merasa sekitarnya seperti berputar dan rasa sakit menusuk di perut . Gejala maag yang muncul akibat kelalaiannya sejak malam kemarin pulang dari posko hingga tiba di tempat kost seharian itu dia lupa mengisi perut.
__ADS_1
Dilihatnya Saka berada di dekat bed tempatnya berbaring, memandang dengan raut wajah khawatir. Ayuna merasa kelu hendak menyampaikan apa yang dirasakannya pada lelaki ini, yang dibutuhkan saat ini adalah pelukan ibunya yang mungkin bisa mengurangi penderitaannya.
“Bang Saka, sudah dapat kabar tentang Ibu? Aku ingin ketemu Ibu…”akhirnya Ayuna berucap dengan pelan dan air mata yang mengalir membuat lelaki itu semakin tak tega terhadap keadaaannya.
Saka menarik napas. Ada rasa bersalah karena dirinya yang menjanjikan akan membantu mempertemukan Ayuna dengan bu Midah, pada saat bersamaan rasa marah juga memenuhi hatinya karena Ayuna dianggap nekat pergi ke daerah bencana. Walaupun niatnya baik tapi tindakan gegabah Ayuna itu diambilnya tanpa meminta pendapat saka.
“Kita belum sempat menyusuri keberadaan beliau Ay, sekarang tenanglah dulu.” Bujuknya sambil menghapus airmata di pipi Ayuna yang terhisak sedih.
Begini ternyata melarikan diri mengikuti takdir yang membawanyake Jakarta. Bahkan ketika sakit pun tak ada keluarga yang berada di sampingnya.
Apakah saka bersedia mengabari mereka? Tapi terus kalau mereka mengetahui, apa tidak menjadi bertambah sedih memikirkan tanpa bisa mengunjunginya ke sini?
“Ay ,kamu dengar apa kata dokter? Vertigo tidak sembuh kalau pemicunya tetap dibiarkan. Kamu tidak boleh terlalu stress, berpikir macam-macam mebuat syarafmu tegang. Semua itu pemicu pusing yang Kamu rasakan ini,” Saka berusaha menjelaskan kondisi penyakit Ayuna, seperti yang dikatakan dokter.
Beberapa menit kemudian dibiarkannya gadis itu menuntaskan tangis, barangkali bisa melepaskan beban hatinya yang nelangsa. Dokter tadi sempat menanyakan padanya apakah Ayuna memiliki riwayat stress berlebih? Tentu saja Saka tak bisa mengutarakan nasib malang yang menimpanya, diperkosa dan diminta berdamai walaupun dengan iming-iming sejumlah dana.
Saka bukannya tak berpikir, Ayuna belum bisa menerima musibahnya dengan lapang dada. Bisa jadi Ayuna malah semakin terpuruk karena harga diri dan kesuciannya terenggut lalu dihargai transfer senilai dua ratus juta untuk uang tutup mulut .
__ADS_1
Ponsel miliknya berdering, Saka melangkah keluar untuk menerima panggilan dari manager kantornya. Sempat diliriknya Ayuna masih terpejam seperti sudah tertidur.
“Pak, saya sudah kirimkan bahan presentasinya, apakah ada koreksi sebelum saya folder bersama draf kontrak kerjasamanya?” suara Fahriza, Manager kantor di perusahaan Saka.
“Belum sempat saya periksa Za, ini masih di rumah sakit. Ada keluarga yang dirawat.” Saka menjawab sambil memijit keningnya. Mengurusi Ayuna membuatnya lupa memverifikasi dokumen yang disiapkan Fahriza.
“Forumnya teragenda dua hari lagi Pak, tetapi kantor pusat grup StarMas melimpahkan ke kantor cabang di daerah. Apakah Bapak sudah dikabari langsung?”
“Di kantor cabang? berarti kita diminta ke Kalimantan?” kejar Saka terkejut.
“Betul Pak, saya akan teruskan email perubahannya.” Di seberang sana Fahriza mengakhiri percakapan. Saka lantas termenung memikirkan bagaimana dirinya bisa pergi ke daerah untuk mengejar target kontrak kerja, sedangkan Ayuna terbaring sakit seperti itu.
Ponsel berdering untuk kedua kali, nama yang muncul di layar memanggil adalah Enggar.
“Siapa Keluarga Mas Saka yang di rawat , Ayuna yang sakit?” Enggar yang berada di kantor begitu mendengar info dari Fahriza segera menghubungi Saka. Selama enam bulan merintis karir perusahaan, Saka hanya memperkenalkan Ayuna sebagai saudara sepupunya yang juga tinggal dalam pengawasannya di Jakarta.
“Betul Mas Engg, Ayuna terkena vertigo dan maag, rupanya kelelahan ikut ke daerah bencana.” Saka menjawab lalu menyebutkan nama rumah sakit tempatnya berada ketika Enggar berkata mau menyusul melihat keadaan Ayuna.
__ADS_1