Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab. 18 Mendapatkan Teman


__ADS_3

Satu minggu kemudian di kamar kos yang tidak luas tapi nyaman, Ayuna tiba-tiba kehabisan paket data saat menikmati bacaan drama romansa di aplikasi novel online. Padahal bagian ceritanya sedang seru, membuat penasaran para readers.


Gadis itu kemudian memilih nomor Mbak Retno yang sehari-harinya bertugas piket di bangunan berlantai dua ini di mana pada lantai atas terdapat delapan kamar khusus penghuni wanita dan enam kamar di lantai satu untuk laki-laki termasuk ruang tamu.


“Halo Mba Retno….di sekitar sini ada yang jual paket data ?”


“Oh!, Turun aja dulu ke sini Mba Yuna, ini saya sedang bersihkan pot-pot tanaman.” Retno langsung menyahut. Pantas saja serambi depan dan halaman samping yang digunakan untuk parkir kendaraan roda dua selalu nampak asri dengan aneka tanaman gantung dan tanaman hias dalam pot-pot besar berjejer. Rupanya mengurus taman bagian dari tugas Mbak Retno juga.


“Mau beli qouta ya, Mba? Itu lho kiosnya di jalan raya, harus jalan kaki dulu keluar komplek,” ujar Retno begitu Ayuna mendatanginya.


Ayuna mengangguk sembari memperhatikan ketelatenan pengurus kost itu mengganti media tanah yang sudah tidak gembur, disisihkan bersama bagian tanaman yang terlihat tidak segar.


Ayuna masih ragu berjalan sendiri ke depan komplek, soalnya baru tiga hari ia tinggal di kost dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.


“Sebenarnya Bapak Induk kost juga menyediakan layanan wifi, pasca bayar Mba. Setiap bulan paswordnya direset ganti baru.” Retno berujar lagi di tengah kesibukannya menata tanaman pot.


“Gitu ya Mba?” Ayuna tertarik memikirkan alternatif itu. Apakah lebih praktis berlangganan wifi saja ya, daripada repot beli paket data? Pikirnya sambil duduk di bangku serambi. Nantilah ia akan minta pendapat pada Saka bila lelaki itu sudah pulang, Saka mengatakan paling lama sepuluh hari ia berurusan di Banua.


Pada hari kelima mereka menginap di hotel, lelaki itu memutuskan Ayuna sebaiknya tinggal di kost yang terakhir mereka datangi bersama Mas Enggar.


“Tujuh juta untuk dua bulan, apa tidak kemahalan Bang saka?” Ayuna terbelalak melihat jumlah yang di transfer Saka ke rekening pemilik kost siang itu.


“Seminggu kita menginap di hotel sini, hampir sama dengan dua bulan bayar kost Kamu Ay!” cetus Saka, yang semakin menambah Ayuna melongo. Tak di sangkanya semahal itu harga kamar mereka.


“Bulan ketiga nanti kita cari kost yang lebih murah deh,” usulan Ayuna hanya membuat Saka geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Sudahlah Ay, kita kan sudah diskusikan bahwa enam bulan ini kamu fokus dulu selesaikan paket C-mu. Aku ke Banua sekalian bertemu bu Isma agar bisa mengupayakan metode belajar daring dan tambahan tugas-tugas khusus buat Kamu. Dan tidak perlu pindah kost dulu selama kamu nyaman tinggal di situ.”


“Tapi…”


“Cukup Ay, masa kita bahas topik ini terus? Pokoknya enam bulan ini Kamu adalah tanggunganku, Deposito milikmu pun tidak perlu diutak-atik dulu. Kamu doakan saja ya, semoga perusahaanku bisa cepat berkembang dan rezeki semakin lancar. Jadi kita bisa susun ulang rencana berikutnya.Oke Ay ?!” tegas Saka menghentikan kata-kata yang hendak diucapkan Ayuna.


Ayuna tak kan melupakan bagaimana Saka sudah mengajaknya bicara dari hati ke hati. Lelaki muda itu akan mendukungnya sampai truamanya sembuh, minimal hingga sekolah lanjutannya tuntas. Setidaknya Saka bertekad mendampingi satu episode kecil hidup Ayuna enam bulan kedepan, sampai Ijazah setara SMA berada di tangannya!


“Mbak, Aku ke kamar dulu ya…..” Ayuna pamit kepada Retno.


Dan Brukkkk ! Tubuh Ayuna menabrak sesorang ketika ia berbalik hendak naik ke kamarnya di lantai dua. Hampir oleng, untung lengan seseorang itu menangkap hingga Ayuna tidak sempat terjerembab.


“Waduhhh, Mba jalan sambil melamun? Maaf ya, Saya nggak sengaja,” pemuda itu yang mengucapkan kata maaf, padahal jelas-jelas Ayuna yang tubuh dan pikirannya tidak sinkron. Ayuna menggeleng malu, apalagi pemuda di hadapannya justru tersenyum ramah.


“Nah itu Mas Aris mau jalan ke halte Bus kan? Sekalian ada temannya kalau Mbak Yuna mau beli paket data,” Retno mengingatkan tujuan Ayuna yang belum kesampaian.


“Saya juga mau ke depan kok, sekalian ada yang lain mau dibeli.” Ayuna mengangguk menyusul pemuda itu, yang dengan dengan respek mengambil posisi di sebelah kanan badannya.


Ayuna berjalan di tepi jalanan beraspal, yang ditumbuhi tanaman pakis cina berjejer hingga ke batas gerbang komplek.


“Kenalan dulu Mba, namaku Aris, Mbaknya ?” Aris berinisiatif menyalaminya.


“Panggil saja Ayuna,” Ayuna menerima uluran tangannyanya sambil tersenyum tipis.


“Kayanya kita seumuran deh, jadi ku panggil Yuna saja. Gitu ya, boleh kan?”

__ADS_1


“Keluargaku memanggil seperti itu kok,” Ayuna mengiyakan. Hanya Saka yang memanggil dengan penggalan depan namanya.


“Oh ya? “ Aris tersenyum dan menghentikan langkah pas di bawah gerbang komplek.


"Kuliah di mana?" Aris melanjutkan percakapan.


" Aku? Eh, masih menyelesaikan SMA kok,“ sahut Ayuna agak kikuk mengaku anak sekolahan.


"Berarti hari ini sedang izin ya?" Aris menangggapi sejalan pemikiran Ayuna bahwa pemuda itu pasti bingung jam sekolahan begini Ayuna santai di kos-an


"Nnnggg... Aku ambil paket C."


"Oohh...?" Aris mengangguk mahfum. Mereka berdua sudah tiba di gerbang komplek.


"Halte Bus di sebelah kiri ini, Sedangkan kiosnya agak terlindung bangunan sana itu.” Aris menunjuk arah sebelah kanan.


“Kalo pas kiosnya tutup, Kamu jalan dikit sebelahnya lagi ada Indomaret. Ada tersedia paket data dicounter kasir. Atau perlu kutemani?”


“Eh, nggak perlu Ris…Itu dekat aja kok, trimakasih.” Ayuna menolak dan mereka berpisah. Aris melangkah cepat ke halte, sepertinya ia mengejar waktu jangan sampai bus yang akan ditumpanginya keburu lewat.


Ayuna pun berjalan sambil mengamati sekilas lingkungan di luar komplek, hingga kemudian mendapatkan kios penjual paket data lalu lanjut ke Indomaret membeli beberapa snack sebagai temannya melanjutkan bacaan novel.


"Ini buat Mbak Retno ya, buat nyemil." Ayuna meletakkan beberapa jenis snack di meja kursi teras.


"Lho kok jadi repot, makasih ya Mbak! Gimana sudah beli paket datanya?" Mba Retno menyahut, kegiatannya sudah hampir selesai dengan aneka pot tanaman.

__ADS_1


"Iya, Aku langsung ke atas ya, mau lanjutin baca novel." Ayuna mengiyakan sekaligus pamit ke kamarnya. Novel dan tugas mingguan bu Isma merupakan temannya di kos-an, sedangkan Mba Retno dan Aris yang tadi menunjukkan kios jualan qouta, adalah kenalan baru.


Dunia Ayuna terasa kecil di kota besar ini. Ayuna harus berlapang dada menjalani masa pemulihan trauma ini, dirinya bertekat tidak akan membebani Saka lebih lama lagi. Enam bulan ke depan adalah waktunya untuk menuntaskan satu episode kecil dalam hidupnya!


__ADS_2