
Langkah tak terduga yang diambil oleh seorang Raditha Mayora, ternyata berujung pada telpon bunda yang meminta Saka segera pulang ke Banua.
Seminggu kemudian Saka menghadapi sidang keluarga, duduk menghadapi ayah bunda dan Rosmaya beserta suaminya di ruang keluarga kediaman mereka yang mewah dan bak istana.
"Saka, bagaimana bisa kamu mengambil langkah sejauh ini di belakang kami? Keluargamu ini apa tidak kau anggap sama sekali?" suara ayah menggelegar menunjukkan amarahnya.
Bunda menatapnya dengan pandangan menyesalkan apa yang sudah terjadi. Sedangkan Rosmaya dan Edwin nampak lebih tegang daripada Saka sendiri, yang malam ini dijadikan tersangka.
"Aku menjalani tanggung jawab yang seharusnya, ayah. Aku menikahinya setelah kami hampir setahun menjadi dekat," pungkas Saka berusaha tenang.
"Kamu menentang perintah Ayah untuk mengembalikan pada keluarganya di desa, coba kau turuti hal itu maka kejadiannya tak sampai memalukan seperti ini!"
"Raditha mengadu pada Pak Handoko, beliau lantas menghubungi ayahmu. Pak Handoko bisa menarik kembali modal yang sudah dijanjikan." kali ini Bunda mencoba menjernihkan situasi.
Jadi benar Raditha putri Pak Handoko yang berada dibalik semua ini, sudah diduga sebelumnya oleh Saka.
"Ceraikan Ayuna segera! Kau harus memikirkan nasib perusahaan, selama tiga bulan kau lihat sendiri bagaimana Raditha gigih mendampingimu menjalankan investasi yang diluncurkan papanya," ujar ayah tegas.
Ego Saka tertindas diminta mencampakkan seorang wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.
"Selama ini Ayuna itu pasti penuh drama di hadapanmu, Dik! Atau barangkali dia menggunakan guna-guna sampai bisa menggoyahkan lelaki di rumah ini?" kali ini Rosmaya bicara, sekilas matanya melirik sinis ke suaminya sendiri.
"Saka, bicara lah! Jangan terus diam dan melakukan segala sesuatu hanya hasil pemikiranmu sendiri?" Ayah masih menunggu komitmen putranya itu.
"Aku akan melakukan yang terbaik bagi perusahaan dan anakku yang akan lahir, ayah." tandas Saka akhirnya. Perdebatan mereka tak akan berakhir bila dirinya ngotot mengedepankan pernikahannya dengan Ayuna.
"Baiklah, camkan ini. Radiha bersedia menunggu sampai anakmu lahir. Setelah itu kau kembalikan wanita itu ke tempat asalnya!" setelah mengucapkan kata-kata mengecam itu ayah Saka berlalu pergi dikuti bunda.
__ADS_1
Edwin berdiri mendekati dan berdesis marah.
"Apa kau sengaja mengambil langkah yang membuat rumahtangga kami selalu keruh? Asal kau tahu, Rosmaya tidak bisa melupakan kejadian itu!"
"Apa kau bilang?! Jangan mengeluhkan kakakku atas akibat perbuatanmu sendiri !" Saka meraih kerah baju iparnya. Satu kali tonjokan mengenai wajah Edwin, tentu saja itu belum cukup baginya untuk membalaskan perbuatan Edwin pada Ayuna dan Rosmaya.
"Saka, sudah! Kenapa kamu jadi bar-bar seperti ini heh?" Rosmaya lebih cepat bergerak, berada di antara lelaki itu dengan tubuh membentengi sang suami sehingga pukulan kedua Saka berhenti di udara.
"Ayah benar, kau harus meninggalkan Ayuna. Wanita itu hanya akan menjadi momok di keluarga kita!"
Rahang Saka mengeras, kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun tak bisa ditumpahkan seluruhnya. Kemarahannya pada Raditha, pada Edwin dan pada Ayah-bunda serta Rosmaya yang arogan.
Malam itu juga Saka pergi ke rumah ibu kandungnya sendiri. Bermalam di sana sebelum secepatnya balik ke jakarta.
"Bu, istriku hamil. Apakah ibu mau ikut ke Jakarta sekarang?" tanya Saka pada ibunda yang melahirkannya.
"Kalau ibu ikut sekarang nanti tinggal di mana? Kalian juga masih menempati apartemen kan?" ibunya langsung menanggapi seperti itu, rupanya beliau sudah jauh hari memikirkan kemungkinan ini.
"Kamu baik-baik saja dengan Ayuna kan?" Kini ibu yang bertanya menyelidik. Saka datang mendadak dan menginap tidak seperti biasanya.
"Doa kan kami ya bu, terutama Ayuna yang sedang mengandung anakku." Saka berkilah tak mau menyampaikan persoalannya. Baginya yang terpenting ibunya bisa datang di saat Ayuna membutuhkan.
"Istrimu ada mengidam yang aneh, atau sulit kau penuhi?" ibu bertanya lagi. Terpikirkan olehnya keadaan sang menantu yang jauh dari keluarga
"Ayuna tidak mengatakan dia sedang ngidam atau bagaimana bu..."
"Saka, wanita sedang mengandung itu pasti mengidam karena hormon tubuhnya berubah menyesuaikan adanya janin. Kadar ngidamnya saja yang berbeda-beda Nak, kamu itu yang harus lebih perhatian bertanya pada istrimu."
__ADS_1
Saka terdiam mendengarkan, tak terpikirkan olehnya walau pun pernah mengetahui tentang riskannya perubahan pisik dan psikis seorang wanita yang sedang hamil.
Teringat bagaimana semingguan ini dirinya justru cenderung tak ingin mengusik Ayuna, sikap yang memang disengaja.
Kejadian Ayuna memergokinya bersama Raditha di kantor, lalu kemunculan Raditha tanpa permisi di apartemennya pasti memicu emosi istrinya. Karena itulah Saka menghindari apa saja yang bisa membuatnya dan Ayuna bersitegang.
Apakabar wanita-nya itu sekarang? Saka urung menelpon karena saat ini sudah hampir pukul duabelas malam. Ayuna mungkin sudah terlelap, tak ingin diganggunya. Saka hanya mengetik pesan mengabarkan kepulangannya besok siang.
Saka terkejut ketika panggilan masuk justru berasal dari Raditha. Ada apa pula putri Pak Handoko ini menelisik keberadaan di Banua?
"Kamu di mana sih Saka? Telponku diabaikan terus, jadi aku tadi terpaksa v-call Mba Rosmaya, katanya kamu juga tidak ada di rumah orangtuamu?" Raditha terdengar kesal.
"Aku di rumah teman, ada apa ?" Saka berusaha sabar menghadapi cara Raditha yang gigih bermaksud mengokohkan kedekatan mereka.
"Aku hanya mau mengatakan kenapa sampai melibatkan papi dan ayahmu dalam hubungan kita. Aku ingin kalian semua memahami komitmenku Saka,"
Bah! Sejak kapan mereka punya hubungan?! Yang ada hanyalah kedekatan, ingin sekali rasanya Saka meluruskan.
"Aku hanya mau fokus pada anakku yang sedang dalam kandungan Ayuna,"
"Maksudmu?"
"Kita bisa tinjau ulang hubungan yang baru bersifat pendekatan ini Dith, perasaanmu padaku baru seumur jagung. Saat ini kamu hanya sedang marah..."
Hubungan telpon diputus sepihak.
Raditha, sungguh kah dia tidak bisa mendefenisikan apa saja yang harusnya ada dalam sebuah hubungan, minimal penyataan singkat yang berlanjut pada komitmen antara si lelaki dan wanitanya.
__ADS_1
Ketertarikan fisik dan kedekatan pun diklaimnya sebagai hubungan. Saka tak bisa lagi menyesali betapa bodoh dirinya yang terhanyut ketika gadis itu menawarkan aura keintiman.
Atau kah Raditha terlalu angkuh untuk ditolak atau diabaikan? Kenyataannya Arogansi, terlebih bagi seseorang dengan strata sosial tinggi seperti putri pak Handoko itu memang bisa membutakan dan menyesatkan.